Latest Entries »

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

 

Berdasarkan Undang-Undang (UU) nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) maka Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  (Permendiknas) nomor 22 dan nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Sedangkan standar lainnya ditetapkan melalui Permendiknas nomor 13, 16, 19, 20, 24 dan 41 Tahun 2007 tentang tenaga pendidik dan kependidikan, pengelolaan, penilaian,sarana prasarana, dan proses.

 

SNP merupakan acuan dan pedoman dalam mengembangkan kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah tidak lagi menetapkan kurikulum seperti kurikulum 1984, 1994 dan sebagainya. Pemerintah hanya menetapkan SNP yang menjadi acuan sekolah dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai dengan karakteristik, kebutuhan potensi peserta didik, masyarakat dan lingkungannya.

 

Pengembangan KTSP berdasarkan SNP memerlukan langkah dan strategi yang harus dikaji berdasarkan analisis yang cermat dan teliti. Analisis dilakukan terhadap tuntutan kompetensi yang tertuang dalam rumusan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD); analisis mengenai kebutuhan dan potensi peserta didik, masyarakat, dan lingkungan; serta analisis peluang dan tantangan dalam memajukan pendidikan pada masa yang akan datang dengan dinamika dan kompleksitas yang semakin tinggi.

 

Penjabaran SK dan KD sebagai bagian dari pengembangan KTSP dilakukan melalui pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus merupakan penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD menjadi indikator, kegiatan pembelajaran, materi pembelajaran dan penilaian. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu KD yang ditetapkan dalam SI dan telah dijabarkan dalam silabus.

 

Berdasarkan uraian di atas, maka pengembangan indikator merupakan langkah strategis dalam peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dan pencapaian kompetensi peserta didik. Dengan demikian diperlukan panduan pengembangan indikator yang dapat dijadikan pedoman bagi guru dan sekolah dalam mengembangkan SK dan KD tiap mata pelajaran.

 

 

 

 

  1. B. Tujuan

 

Penyusunan panduan ini bertujuan:

  1. memberikan pemahaman lebih luas kepada guru dalam mengembangkan indikator kompetensi berdasarkan tuntutan KD dan SK;
  2. memotivasi guru untuk mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah guna mencapai kompetensi, minimal sesuai dengan SI dan SKL;
  3. mendorong pengembangan kurikulum lebih lanjut untuk mencapai kompetensi, melebihi SI dan SKL sehingga mutu pendidikan diharapkan meningkat;
  4. mendorong guru dan sekolah terus mengembangkan kurikulum melalui  penyusunan dan pengembangan indikator yang digunakan sebagai acuan pembelajaran dan penilaian.

 

 

  1. C. Ruang Lingkup

 

Ruang lingkup pengembangan indikator mencakup pengertian dan fungsi indikator dalam KTSP, mekanisme, dan implementasi dalam pengembangan instrumen penilaian.
BAB II

INDIKATOR DALAM PENGEMBANGAN

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

 

 

  1. A. Pengertian

 

Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.

 

Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:

  1. 1.    tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD;
  2. 2.    karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
  3. 3.    potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.

 

Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu:

  1. 1.    Indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator;
  2. 2.    Indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal sebagai indikoator soal.

 

Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.

 

  1. B. Fungsi Indikator

 

Indikator memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan pencapaian kompetensi berdasarkan SK-KD. Indikator berfungsi sebagai berikut :

 

  1. 1. Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran

Pengembangan materi pembelajaran harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan materi pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan.

 

 

 

 

 

  1. 2. Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran

Desain pembelajaran perlu dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai secara maksimal. Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator yang dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran kegiatan pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang menuntut kompetensi dominan pada aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori melainkan lebih tepat dengan strategi discovery-inquiry.

 

  1. 3. Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar

Bahan ajar perlu dikembangkan oleh guru guna menunjang pencapaian kompetensi peserta didik. Pemilihan bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan indikator sehingga dapat meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal.

 

  1. 4. Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar

Indikator menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi hasil belajar, Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan jenis penilaian, serta pengembangan indikator penilaian. Pengembangan indikator penilaian harus mengacu pada indikator pencapaian yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan SK dan KD.

 


BAB III

MEKANISME PENGEMBANGAN INDIKATOR

 

 

  1. A. Menganalisis Tingkat Kompetensi

dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

 

Langkah pertama pengembangan indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar minimal tersebut.

 

Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang digunakan dalam SK dan KD. Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi yang diinginkan. Klasifikasi tingkat kompetensi berdasarkan kata kerja yang digunakan disajikan dalam Tabel 1.

 

Tabel 1. Tingkat Kompetensi Kata Kerja Operasional

 

No Klasifikasi Tingkat Kompetensi Kata Kerja Operasional yang Digunakan
1 Berhubungan dengan mencari keterangan (dealing with retrieval)

 

  1. Mendeskripsikan (describe)
  2. Menyebutkan kembali (recall)
  3. Melengkapi  (complete)
  4. Mendaftar (list)
  5. Mendefinisikan (define)
  6. Menghitung (count)
  7. Mengidentifikasi (identify)
  8. Menceritakan (recite)
  9. Menamai (name)
2 Memproses (processing)

 

  1. Mensintesis (synthesize)
  2. Mengelompokkan (group)
  3. Menjelaskan (explain)
  4. Mengorganisasikan (organize)
  5. Meneliti/melakukan eksperimen (experiment)
  6. Menganalogikan (make analogies)
  7. Mengurutkan (sequence)
  8. Mengkategorikan (categorize)
  9. Menganalisis (analyze)
  10. Membandingkan (compare)
  11. Mengklasifikasi (classify)
  12. Menghubungkan (relate)
  13. Membedakan (distinguish)
  14. Mengungkapkan sebab (state causality)

 

 

 

 

3 Menerapkan dan mengevaluasi

 

  1. Menerapkan suatu prinsip (applying a principle)
  2. Membuat model (model building)
  3. Mengevaluasi (evaluating)
  4. Merencanakan (planning)
  5. Memperhitungkan/meramalkan kemungkinan (extrapolating)
  6. Memprediksi (predicting)
  7. Menduga/Mengemukakan pendapat/ mengambil kesimpulan (inferring)
  8. Meramalkan kejadian alam/sesuatu (forecasting)
  9. Menggeneralisasikan (generalizing)
  10. Mempertimbangkan /memikirkan kemungkinan-kemungkinan (speculating)
  11. Membayangkan /mengkhayalkan/ mengimajinasikan (Imagining)
  12. Merancang (designing)
  13. Menciptakan (creating)
  14. Menduga/membuat dugaan/ kesimpulan awal (hypothezing)

 

 

Selain tingkat kompetensi, penggunaan kata kerja menunjukan penekanan aspek yang diinginkan, mencakup sikap, pengetahuan, serta keterampilan. Pengembangan indikator harus mengakomodasi kompetensi sesuai tendensi yang digunakan SK dan KD. Jika aspek keterampilan lebih menonjol, maka indikator yang dirumuskan harus mencapai kemampuan keterampilan yang diinginkan. Klasifikasi kata kerja berdasarkan aspek kognitif, Afektif dan Psikomotorik disajikan dalam tabel 2, 3, dan 4.

 
Tabel 2 : Kata Kerja Ranah Kognitif

Pengetahuan Pemahaman Penerapan Analisis Sintesis Penilaian
Mengutip

Menyebutkan

Menjelaskan

Menggambar

Membilang

Mengidentifikasi

Mendaftar

Menunjukkan

Memberi label

Memberi indeks

Memasangkan

Menamai

Menandai

Membaca

Menyadari

Menghafal

Meniru

Mencatat

Mengulang

Mereproduksi

Meninjau

Memilih

Menyatakan

Mempelajari

Mentabulasi

Memberi kode

Menelusuri

Menulis

Memperkirakan

Menjelaskan

Mengkategorikan

Mencirikan

Merinci

Mengasosiasikan

Membandingkan

Menghitung

Mengkontraskan

Mengubah

Mempertahankan

Menguraikan

Menjalin

Membedakan

Mendiskusikan

Menggali

Mencontohkan

Menerangkan

Mengemukakan

Mempolakan

Memperluas

Menyimpulkan

Meramalkan

Merangkum

Menjabarkan

 

Menugaskan

Mengurutkan

Menentukan

Menerapkan

Menyesuaikan

Mengkalkulasi

Memodifikasi

Mengklasifikasi

Menghitung

Membangun

Membiasakan

Mencegah

Menentukan

Menggambarkan

Menggunakan

Menilai

Melatih

Menggali

Mengemukakan

Mengadaptasi

Menyelidiki

Mengoperasikan

Mempersoalkan

Mengkonsepkan

Melaksanakan

Meramalkan

Memproduksi

Memproses

Mengaitkan

Menyusun

Mensimulasikan

Memecahkan

Melakukan

Mentabulasi

Memproses

Meramalkan

Menganalisis

Mengaudit

Memecahkan

Menegaskan

Mendeteksi

Mendiagnosis

Menyeleksi

Merinci

Menominasikan

Mendiagramkan

Megkorelasikan

Merasionalkan

Menguji

Mencerahkan

Menjelajah

Membagankan

Menyimpulkan

Menemukan

Menelaah

Memaksimalkan

Memerintahkan

Mengedit

Mengaitkan

Memilih

Mengukur

Melatih

Mentransfer

Mengabstraksi

Mengatur

Menganimasi

Mengumpulkan

Mengkategorikan

Mengkode

Mengombinasikan

Menyusun

Mengarang

Membangun

Menanggulangi

Menghubungkan

Menciptakan

Mengkreasikan

Mengoreksi

Merancang

Merencanakan

Mendikte

Meningkatkan

Memperjelas

Memfasilitasi

Membentuk

Merumuskan

Menggeneralisasi

Menggabungkan

Memadukan

Membatas

Mereparasi

Menampilkan

Menyiapkan Memproduksi

Merangkum

Merekonstruksi

 

Membandingkan

Menyimpulkan

Menilai

Mengarahkan

Mengkritik

Menimbang

Memutuskan

Memisahkan

Memprediksi

Memperjelas

Menugaskan

Menafsirkan

Mempertahankan

Memerinci

Mengukur

Merangkum

Membuktikan

Memvalidasi

Mengetes

Mendukung

Memilih

Memproyeksikan

 

 

 

Tabel 3. Kata Kerja Ranah Afektif

Menerima Menanggapi Menilai Mengelola Menghayati
Memilih

Mempertanyakan

Mengikuti

Memberi

Menganut

Mematuhi

Meminati

 

Menjawab

Membantu

Mengajukan

Mengompromikan

Menyenangi

Menyambut

Mendukung

Menyetujui

Menampilkan

Melaporkan

Memilih

Mengatakan

Memilah

Menolak

Mengasumsikan

Meyakini

Melengkapi

Meyakinkan

Memperjelas

Memprakarsai

Mengimani

Mengundang

Menggabungkan

Mengusulkan

Menekankan

Menyumbang

Menganut

Mengubah

Menata

Mengklasifikasikan

Mengombinasikan

Mempertahankan

Membangun

Membentuk pendapat

Memadukan

Mengelola

Menegosiasi

Merembuk

Mengubah perilaku

Berakhlak mulia

Mempengaruhi

Mendengarkan

Mengkualifikasi

Melayani

Menunjukkan

Membuktikan

Memecahkan

Tabel 4. Kata Kerja Ranah Psikomotorik

Menirukan Memanipulasi Pengalamiahan Artikulasi
Mengaktifkan

Menyesuaikan

Menggabungkan

Melamar

Mengatur

Mengumpulkan

Menimbang

Memperkecil

Membangun

Mengubah

Membersihkan

Memposisikan

Mengonstruksi

Mengoreksi

Mendemonstrasikan

Merancang

Memilah

Melatih

Memperbaiki

Mengidentifikasikan

Mengisi

Menempatkan

Membuat

Memanipulasi

Mereparasi

Mencampur

Mengalihkan

Menggantikan

Memutar

Mengirim

Memindahkan

Mendorong

Menarik

Memproduksi

Mencampur

Mengoperasikan

Mengemas

Membungkus

 

Mengalihkan

Mempertajam

Membentuk

Memadankan

Menggunakan

Memulai

Menyetir

Menjeniskan

Menempel

Menseketsa

Melonggarkan

Menimbang

  1. B. Menganalisis Karakteristik Mata Pelajaran, Peserta Didik, dan Sekolah

 

Pengembangan indikator mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah karena indikator menjadi acuan dalam penilaian. Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, karakteristik penilaian kelompok mata pelajaran adalah sebagai berikut.

 

Kelompok Mata Pelajaran Mata Pelajaran Aspek yang Dinilai
Agama dan Akhlak Mulia Pendidikan Agama Afektif dan Kognitif
Kewarganegaraan dan Kepribadian Pendidikan Kewarganegaraan Afektif dan Kognitif
Jasmani Olahraga dan Kesehatan Penjas Orkes Psikomotorik, Afektif, dan Kognitif
Estetika Seni Budaya Afektif dan Psikomotorik
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Matematika, IPA, IPS

Bahasa, dan TIK.

Afektif, Kognitif,  dan/atau Psikomotorik sesuai karakter mata pelajaran

 

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dari mata pelajaran lainnya. Perbedaan ini menjadi pertimbangan penting dalam mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran bahasa yang terdiri dari aspek mendengar, membaca, berbicara dan menulis sangat berbeda dengan mata pelajaran matematika yang dominan pada aspek analisis logis. Guru harus melakukan kajian mendalam mengenai karakteristik mata pelajaran sebagai acuan mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran dapat dikaji pada dokumen standar isi mengenai tujuan, ruang lingkup dan SK serta KD masing-masing mata pelajaran.

 

 

Pengembangkan indikator memerlukan informasi karakteristik peserta didik yang unik dan beragam. Peserta didik memiliki keragaman dalam intelegensi dan gaya belajar. Oleh karena itu indikator selayaknya mampu mengakomodir keragaman tersebut. Peserta didik dengan karakteristik unik visual-verbal atau psiko-kinestetik selayaknya diakomodir dengan penilaian yang sesuai sehingga kompetensi siswa dapat terukur secara proporsional. Sebagai contoh dalam mata pelajaran fisika terdapat indikator sebagai berikut:

  1. 1.      Membuat model atom Thomson, Rutherford, dan Niels Bohr dengan menggunakan bahan kertas, steroform, atau lilin mainan.
  2. 2.      Memvisualisasikan perbedaan model atom Thomson, Rutherford, dan Niels Bohr.

 

Indikator pertama tidak mengakomodir keragaman karakteristik peserta didik karena siswa dengan intelegensi dan gaya belajar visual verbal dapat mengekspresikan melalui cara lain, misalnya melalui lukisan atau puisi.

 

Karakteristik sekolah dan daerah menjadi acuan dalam pengembangan indikator karena target pencapaian sekolah tidak sama. Sekolah kategori tertentu yang melebihi standar minimal dapat mengembangkan indikator lebih tinggi. Termasuk sekolah bertaraf internasional dapat mengembangkan indikator dari SK dan KD dengan mengkaji tuntutan kompetensi sesuai rujukan standar internasional yang digunakan. Sekolah dengan keunggulan tertentu juga menjadi pertimbangan dalam mengembangkan indikator.

 

  1. C. Menganalisis Kebutuhan dan Potensi

 

Kebutuhan dan potensi peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan indikator. Penyelenggaraan pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan peserta didik, lingkungan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Peserta didik mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi dan kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya.

 

Indikator juga harus dikembangkan guna mendorong peningkatan mutu sekolah di masa yang akan datang, sehingga diperlukan informasi hasil analisis potensi sekolah yang berguna untuk mengembangkan kurikulum melalui pengembangan indikator.

 

  1. D. Merumuskan Indikator

 

Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:

  1. 1.    Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator
  2. 2.    Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik.
  3. 3.    Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.
  4. 4.    Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi pembelajaran.
  5. 5.    Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai. Contoh kata kerja yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran tersaji dalam lampiran 1.
  6. 6.    Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotorik.

 

  1. E. Mengembangkan Indikator Penilaian

 

Indikator penilaian merupakan pengembangan lebih lanjut dari indikator (indikator pencapaian kompetensi). Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan pedoman penilaian bagi guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah. Dengan demikian indikator penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses dengan mudah oleh warga sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes dan non-tes harus sesuai dengan indikator penilaian.

 

Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan dengan indikator (indikator pencapaian kompetensi). Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal, lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian diri.

 

Pengembangan indikator dapat menggunakan format seperti contoh berikut.

Kompetensi Dasar/Indikator Indikator Penilaian Bentuk
 

  • 3.2

 

 

 

 

  1. F. Manfaat Indikator Penilaian

 

Indikator Penilaian bermanfaat bagi :

  1. Guru dalam mengembangkan kisi-kisi penilaian yang dilakukan melalui tes (tes tertulis seperti ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester, tes praktik, dan/atau tes perbuatan) maupun non-tes.
  2. Peserta didik dalam mempersiapkan diri mengikuti penilaian tes maupun non-tes. Dengan demikian siswa dapat melakukan self assessment untuk mengukur kemampuan diri sebelum mengikuti penilaian sesungguhnya.
  3. Pimpinan sekolah dalam memantau dan mengevaluasi keterlaksanaan pembelajaran dan penilaian di kelas.
  4. Orang tua dan masyarakat dalam upaya mendorong pencapaian kompetensi siswa lebih maksimal.

 
DAFTAR PUSTAKA

 

Harrow, A. J. (1972). A taxonomy of the psychomotor domain: A guided for developing behavioral objective. New York: David Mc Key Company.

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002). Jakarta: Balai Pustaka

 

Mardapi, Dj. dan Ghofur, A, (2004). Pedoman Umum Pengembangan Penilaian; Kurikulum Berbasis Kompetensi SMA. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

 

Mehrens, W.A, and Lehmann, I.J, (1991). Measurement and Evaluation in Education and Psychology. Fort Woth: Holt, Rinehart and Winston, Inc.

 

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Fokus Media.

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Jakarta, 2006.

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Jakarta, 2006.

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2007. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang tentang Standar Penilaian Pendidikan.

 

Popham,W.J., (1999). Classroon Asessment: What teachers need to know. Mass: Allyn-Bacon.

 

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Fokus Media.
Lampiran 1

Contoh Kata Kerja Operasional

Sesuai dengan Karakteristik Matapelajaran

Berhubungan dengan Prilaku Sosial

 

  • § Menerima (accept)
  • § Mengakui/menerima sesuatu (admit)
  • § Menyetujui (agree)
  • § Membantu (aid)
  • § Membolehkan/menyediakan/memberikan (allow)
  • § Menjawab (answer)
  • § Menjawab/mengemukakan pendapat dengan alasan-alasan (argue)
  • § Mengkomunikasikan (communicate)
  • § Memberi pujian/mengucapkan selamat (compliment)
  • § Menyumbang (contribute)
  • § Bekerjasama (cooperate)
  • § Berdansa (dance)
  • § Menolak /menidaksetujui (disagree)
  • § Mendiskusikan (discuss)
  • § Memaafkan (excuse)
  • § Memaafkan (forgive)
  • § Menyambut/menyalami (greet)
  • § Menolong/membantu (help)
  • § Berinteraksi/melakukan interaksi (interact)
  • § Mengundang (invite)
  • § Menggabung (joint)
  • § Menertawakan (laugh)
  • § Menemukan (meet)
  • § Berperanserta (participate)
  • § Mengizinkan/membolehkan (permit)
  • § Memuji-muji (praise)
  • § Bereaksi (react)
  • § Menjawab/menyahut (reply)
  • § Tersenyum (smile)
  • § Berbicara (talk)
  • § Berterimakasih (thank)
  • § Berkunjung (visit)
  • § Bersukarela (volunteer)


Berhubungan dengan Kompetensi Berpikir tingkat Tinggi

(complex, logical, judgmental behaviors)

 

  • § Menganalisis (analyze)
  • § Menghargai (appraise)
  • § Menilai (assess)
  • § Mengkombinasikan (combine)
  • § Membandingkan (compare)
  • § Menyimpulkan (conclude)
  • § Mengkontraskan (contrast)
  • § Mengkritik (critize)
  • § Menarik kesimpulan (deduce)
  • § Membela/mempertahankan (defend)
  • § Menunjukkan / menandakan (designate)
  • § Menentukan (determine)
  • § Mencari /menjelajah (discover)
  • § Mengevaluasi (evaluate)
  • § Merumuskan (formulate)
  • § Membangkitkan/menghasilkan/menyebabkan (generate)
  • § Membujuk/menyebabkan (induce)
  • § Menduga/Mengemukan pendapat/mengambil kesimpulan (infer)
  • § Merencanakan (plan)
  • § Menyusun (structure)
  • § Menggantikan (substitute)
  • § Menyarankan (suggest)
  • § Memilih (choose)
  • § Mengumpulkan (collect)
  • § Mendefinisikan (define)
  • § Menjelaskan sesuatu (describe)
  • § Mendeteksi (detect)
  • § Membedakan antara 2 macam (differentiate)
  • § Membedakan/Memilih-milih (discriminate)
  • § Membedakan sesuatu (distinguish)
  • § Mengidentifikasi (identify)
  • § Mengindikasi (indicate)
  • § Mengisolasi (isolate)
  • § Mendaftarkan (list)
  • § Memadukan (match)
  • § Meniadakan (omit)
  • § Mengurutkan (order)
  • § Mengambil (pick)
  • § Menempatkan (place)
  • § Menunjuk (point)
  • § Memilih (select)
  • § Memisahkan (separate)


Berhubungan dengan Kompetensi Musik (seni)

 

  • § Meniup (blow)
  • § Menundukkan kepala (bow)
  • § Bertepuk (clap)
  • § Menggubah /menyusun (compose)
  • § Menyentuh (finger)
  • § Memadankan/berpadanan (harmonize)
  • § Menyanyi kecil/bersenandung (hum)
  • § Membisu (mute)
  • § Memainkan (play)
  • § Memetik (misal gitar) (pluck)
  • § Mempraktikkan (practice)
  • § Menyanyikan (sing)
  • § Memetik/mengetuk-ngetuk (strum)
  • § Mengetuk (tap)
  • § Bersiul (whistle)


Berhubungan dengan Kompetensi Berbahasa

 

  • § Menyingkat/memendekkan (abbreviate)
  • § Memberi tekanan pada sesuatu /menekankan (accent)
  • § Mengabjad/menyusun menurut abjad (alphabetize)
  • § Mengartikulasikan/ mengucapkan kata-kata dengan jelas (articulate)
  • § Memanggil (call)
  • § Menulis dengan huruf besar (capitalize)
  • § Menyunting/mengedit (edit)
  • § Menghubungkan dengan garis penghubung (hyphenate)
  • § Memasukkan (beberapa spasi) /melekukkan (indent)
  • § Menguraikan/memperlihatkan garis bentuk/ menggambar denah atau peta (outline)
  • § Mencetak (print)
  • § Membaca (read)
  • § Mendeklamasikan/membawakan/mencerita-kan (recite)
  • § Mengatakan (say)
  • § Menandai (sign)
  • § Berbicara (speak)
  • § Mengeja (spell)
  • § Menyatakan (state)
  • § Menyimpulkan (summarize)
  • § Membagi atas suku-suku kata (syllabicate)
  • § Menceritakan (tell)
  • § Menerjemahkan (translate)
  • § Mengungkapkan dengan kata-kata (verbalize)
  • § Membisikkan (whisper)
  • § Mengucapkan/melafalkan/menyatakan (pronounce)
  • § Memberi atau membubuhkan tanda baca (punctuate)
  • § Menulis (write)


Berhubungan dengan Kompetensi Drama

 

  • § Berakting/berperilaku (act)
  • § Menjabat/mendekap/ menggengam (clasp)
  • § Menyeberang/melintasi/ berselisih (cross)
  • § Menunjukkan/mengatur/ menyutradarai (direct)
  • § Memajangkan (display)
  • § Memancarkan (emit)
  • § Memasukkan (enter)
  • § Mengeluarkan (i
  • § Mengekspresikan (express)
  • § Meniru (imitate)
  • § Meninggalkan (leave)
  • § Menggerakkan (move)
  • § Berpantomim/Meniru gerak tanpa suara (pantomime)
  • § Menyampaikan/menyuguhkan/ mengulurkan/melewati (pass)
  • § Memainkan/melakukan (perform)
  • § Meneruskan/memulai/beralih (proceed)
  • § Menanggapi/menjawab/ menyahut (respond)
  • § Memperlihatkan/Menunjukkan (show)
  • § Mendudukkan (sit)
  • § Membalik/memutar/mengarahkan/mengubah/ membelokkan (turn)


Berhubungan dengan Kompetensi Seni Lukis

 

  • § Memasang (assemble)
  • § Mencampur (blend)
  • § Menyisir/menyikat (brush)
  • § Membangun (build)
  • § Mengukir (carve)
  • § Mewarnai (color)
  • § Mengkonstruk/membangun(construct)
  • § Memotong (cut)
  • § Mengoles (dab)
  • § Menerangkan (dot)
  • § Menggambar (draw)
  • § Mengulang-ulang/melatih (drill)
  • § Melipat (fold)
  • § Membentuk (form)
  • § Menggetarkan/memasang (frame)
  • § Memalu (hammer)
  • § Menangani (handle)
  • § Menggambarkan (illustrate)
  • § Mencairkan (melt)
  • § Mencampur (mix)
  • § Memaku (nail)
  • § Mengecat (paint)
  • § Menepuk (pat)
  • § Menggosok (polish)
  • § Menuangkan (pour)
  • § Menekan (press)
  • § Menggulung (roll)
  • § Menggosok/ menyeka (rub)
  • § Menggergaji (saw)
  • § Memahat (sculpt)
  • § Menyampaikan/melempar (send)
  • § Mengocok (shake)
  • § Membuat sketsa (sketch)
  • § Menghaluskan (smooth)
  • § Mengecap/menunjukkan (stamp)
  • § Melengketkan (stick)
  • § Mengaduk (stir)
  • § Meniru/menjiplak (trace)
  • § Menghias/memangkas (trim)
  • § Merengas/memvernis (varnish)
  • § Melekatkan/menempelkan/merekatkan (paste)
  • § Menyeka/menghapuskan/ membersihkan (wipe)
  • § Membungkus (wrap)



Berhubungan dengan Kompetensi Fisik (Jasmani)

 

  • § Melengkungkan (arch)
  • § Memukul (bat)
  • § Menekuk/melipat/ membengkokkan (bend)
  • § Mengangkat/membawa (carry)
  • § Menangkap (catch)
  • § Mengejar/memburu (chase)
  • § Memanjat (climb)
  • § Menghadap (face)
  • § Mengapung (float)
  • § Merebut/menangkap/ mengambil (grab)
  • § Merenggut/memegang/ menyambar/merebut (grasp)
  • § Memegang erat-erat (grip)
  • § Memukul/menabrak (hit)
  • § Melompat/meloncat (hop)
  • § Melompat (jump)
  • § Menendang (kick)
  • § Mengetuk (knock)
  • § Mengangkat/mencabut i
  • § Berbaris (march)
  • § Melempar/memasangkan/memancangkan/menggantungkan (pitch)
  • § Menarik (pull)
  • § Mendorong (push)
  • § Berlari (run)
  • § Mengocok (shake)
  • § Bermain ski (ski)
  • § Meloncat (skip)
  • § Berjungkirbalik (somersault)
  • § Berdiri (stand)
  • § Melangkah (step)
  • § Melonggarkan/merentangkan (stretch)
  • § Berenang (swim)
  • § Melempar (throw)
  • § Melambungkan/melontarkan (toss)
  • § Berjalan (walk)


Berhubungan dengan Perilaku Kreatif

 

  • § Mengubah (alter)
  • § Menanyakan (ask)
  • § Mengubah (change)
  • § Merancang (design)
  • § Menggeneralisasikan (generalize)
  • § Memodifikasi (modify)
  • § Menguraikan dengan kata-kata sendiri (paraphrase)
  • § Meramalkan (predict)
  • § Menanyakan (question)
  • § Menyusun kembali (rearrange)
  • § Mengkombinasikan kembali (recombine)
  • § Mengkonstruk kembali (reconstruct)
  • § Mengelompokkan kembali (regroup)
  • § Menamakan kembali (rename)
  • § Menyusun kembali (reorder)
  • § Mengorganisasikan kembali (reorganize)
  • § Mengungkapkan kembali (rephrase)
  • § Menyatakan kembali (restate)
  • § Menyusun kembali (restructure)
  • § Menceritakan kembali (retell)
  • § Menuliskan kembali (rewrite)
  • § Menyederhanakan (simplify)
  • § Mengsintesis (synthesize)
  • § Mengsistematiskan (systematize)


Berhubungan dengan Kompetensi Matematika

 

  • § Menambah (add)
  • § Membagi dua (bisect)
  • § Menghitung/mengkalkulasi (calculate)
  • § Mencek/meneliti (check)
  • § Membatasi (circumscribe)
  • § Menghitung/mengkomputasi (compute)
  • § Menghitung (count)
  • § Memperbanyak (cumulate)
  • § Mengambil dari (derive)
  • § Membagi (divide)
  • § Memperkirakan (estimate)
  • § Menyarikan/menyimpulkan (extract)
  • § Memperhitungkan (extrapolate)
  • § Membuat grafik (graph)
  • § Mengelompokkan (group)
  • § Memadukan/mengintegrasikan (integrate)
  • § Menyisipkan/menambah (interpolate)
  • § Mengukur (measure)
  • § Mengalikan/memperbanyak (multiply)
  • § Menomorkan (number)
  • § Membuat peta (plot)
  • § Membuktikan (prove)
  • § Mengurangi (reduce)
  • § Memecahkan (solve)
  • § Mengkuadratkan(square)
  • § Mengurangi (substract)
  • § Menjumlahkan (sum)
  • § Mentabulasi (tabulate)
  • § Mentally (tally)
  • § Memverifikasi (verify)


Berhubungan dengan Kompetensi Sains

 

  • § Menjajarkan (align)
  • § Menerapkan (apply)
  • § Melampirkan (attach)
  • § Menyeimbangkan (balance)
  • § Mengkalibrasi (calibrate)
  • § Melaksanakan (conduct)
  • § Menghubungkan (connect)
  • § Mengganti (convert)
  • § Mengurangi (decrease)
  • § Mempertunjukkan/memperlihatkan (demonstrate)
  • § Membedah (dissect)
  • § Memberi makan (feed)
  • § Menumbuhkan (grow)
  • § Menambahkan/meningkatkan (increase)
  • § Memasukkan/menyelipkan (insert)
  • § Menyimpan (keep)
  • § Memanjangkan (lenghthen)
  • § Membatasi (limit)
  • § Memanipulasi (manipulate)
  • § Mengoperasikan (operate)
  • § Menanamkan (plant)
  • § Menyiapkan (prepare)
  • § Memindahkan(remove)
  • § Menempatkan kembali(replace)
  • § Melaporkan (report)
  • § Mengatur ulang (reset)
  • § Mengatur (set)
  • § Menentukan/menetapkan (specify)
  • § Meluruskan (straighten)
  • § Mengukur waktu (time)
  • § Mentransfer (transfer)
  • § Membebani/memberati (weight)



Berhubungan dengan Kompetensi Umum, Kesehatan, dan Keamanan

 

  • § Mengancingi (button)
  • § Membersihkan (clean)
  • § Menjelaskan (clear)
  • § Menutup (close)
  • § Menyikat/menyisir(comb)
  • § Mencakup (cover)
  • § Mengenakan/menyarungi (dress)
  • § Minum (drink)
  • § Makan (eat)
  • § Menghapus (eliminate)
  • § Mengosongkan (empty)
  • § Mengetatkan/melekatkan (fasten)
  • § Mengisi/memenuhi/melayani /membuat (fill)
  • § Melintas/berjalan (go)
  • § Mengikat tali/menyusuri (lace)
  • § Menumpuk/menimbun (stack)
  • § Menghentikan (stop)
  • § Merasakan (taste)
  • § Mengikat/membebat (tie)
  • § Tidak mengancingi (unbutton)
  • § Membuka/menanggalkan (uncover)
  • § Menyatukan (unite)
  • § Membuka (unzip)
  • § Menunggu (wait)
  • § Mencuci (wash)
  • § Memakai (wear)
  • § Menutup (zip)


 

LPP UNS

Lampiran 1: Daftar kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam perumusan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kata Kerja Operasional

 

Standar kompetensi

Kompetensi Dasar

Mendefinisikan ‘

 

Menunjukkan

 

Menerapkan

 

Membaca

 

Mengkoristruksikan

 

Menghitung

 

Mengidentifikasikan

 

Menggambarkan

 

Mengenal

 

Melafalkan

 

Menyelesaik

 

Mengucapkan

 

Menyusun

 

Membedakan

 

 

 

Mengidenti fikasikan

 

 

 

Menafsirkan

 

 

 

Menerapkan

 

 

 

Menceriterakan

 

 

 

Menggunakan

 

 

 

Menentukan

 

 

 

Menyusun

 

 

 

Menyimpulkan

 

 

 

Mendemonstrasikan

 

 

 

Menterjemahkan

 

 

 

Merumuskan

 

 

 

Menyelesaikan

 

 

 

Menganalisis

 

 

 

Mensintesis

 

 

 

Mengevaluasi

 

Keterangan :

1.   Satu kata kerja tertentu (misal mengidentifikasikan) dapat dipakai pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Perbedaannya adalah pada Standar Kompetensi cakupannya lebih luas dari Kompetensi Dasar.

2.   Satu butir Standar Kompetensi dapat dipecah menjadi 3 sampai 6 butir atau lebih Kompetensi Dasar.

3.   Satu butir Kompetensi Dasar nantinya harus dapat dipecah menjadi minimal 2 butir indikator.

4.   Pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar belum memuat indikator secara rinci.

 

Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Ranah Kognitif

Pengetahuan

Pemahaman

Penerapan

Analisis Sintesis Penilaian

Mengutip

 

Me^nperkirakan

 

Menugaskan

 

Menganalisis

 

Mengabstraksi

 

Membandingkan

 

Menyebutkan

 

Menjelaskan

 

Mengurutkan

 

Mengaudit

 

Mengatur

 

Menyimpulkan

 

Menjelaskan

 

Mengkategorikan

 

Menentukan

 

Memecah

 

Menganimasi

 

Menilai

 

Menggambar

 

Mmencirikan

 

Menerapkan

 

Menegaskan

 

Mengumpulkan

 

Mengarahkan

 

Membilang

 

Merinci

 

Menyesuaikan

 

Mendeteksi

 

Mengkategorikan

 

Mengkritik

 

Mengidentifikasi

 

Mengasosiasikan

 

Mengkalkulasi

 

Mendiagnosis

 

Mengkode

 

Menimbang

 

Mendaftar

 

Membandingkan

 

Memodifikasi

 

Menyeleksi

 

Mengombinasikan

 

Memutuskan

 

Menunjukkan

 

Menghitung

 

Mengklasifikasi

 

Memerinci

 

Menyusun

 

Memisahkan

 

Member! label

 

Mengkontraskan

 

Menghitung

 

Menominasikan

 

Mengarang

 

Memprediksi

 

Member! indek

 

Mengubah

 

Membangun

 

Mendiagramkan

 

Membangun

 

Memperjelas

 

Memasangkan

 

Mempertahankan

 

Membiasakan

 

Mengorelasikan

 

Menanggulangi

 

Menugaskan

 

Menamai

 

Menguraikan

 

Mencegah

 

Merasionalkan

 

Menghubungkan

 

Menafsirkan

 

Menandai

 

Menjalin

 

Mengambarkan

 

Menguji

 

Menciptakan

 

Mempertahankan

 

Membaca

 

Membedakan

 

Menggunakan

 

Mencerahkan

 

Mengkreasikan

 

Merinci

 

Menyadari

 

Mendiskusikan

 

Menilai

 

Menjelajah

 

Mengoreksi

 

Mengukur

 

Menghafal

 

Menggali

 

Melatih

 

Membagankan

 

Merancang

 

Merangkum

 

Meniru

 

Mencontohkan

 

Menggali

 

Menyimpulkan

 

Merencanakan

 

Membuktikan

 

Mencatat

 

Menerangkan

 

Mengemukakan

 

Menemukan

 

Mendikte

 

Mendukung

 

Mengulang

 

Mengemukakan

 

Mengadaptasi

 

Menelaah

 

Meningkatkan

 

Memvalidasi

 

Mereproduksi

 

Mempolakan

 

Menyelidiki

 

Memaksimalkan

 

Memperjelas

 

Mengetes

 

Meninjau

 

Mcmperluas

 

Mengopcrasikan

 

Mcmcrintahkan

 

Mem fusil has!

 

Memilih

 

Memilih

 

Menyimpulkan

 

Mempersoalkan

 

Mcngcdit

 

Membentuk

 

Memproyeksi

 

Menyatakan

 

Meramalkan

 

Mengkonsepkan

 

Mengaitkan

 

Merumuskan

 

 

 

Mempelajari

 

Merangkum

 

Melaksanakan

 

Memilih

 

Menggeneralisasi

 

 

 

Mentabulasi

 

Menjabarkan

 

Meramalkan

 

Mengukur

 

Menggabungkan

 

 

 

Member! Kode

 

 

 

Memproduksi

 

Melatih

 

Memadukan

 

 

 

Menulis

 

 

 

Memproses

 

Mentransfer

 

Membatasi

 

 

 

 

 

 

 

Mengaitkan

 

 

 

Mereparasi

 

 

 

 

 

 

 

Menyusun

 

 

 

Menampilkan

 

 

 

 

 

 

 

Mensimulasikan

 

 

 

Menyiapkan

 

 

 

 

 

 

 

Memecahkan

 

 

 

Memproduksi

 

 

 

 

 

 

 

Melakukan

 

 

 

Merangkum

 

 

 

 

 

 

 

Mentabulasi

 

 

 

Mengkostruksi

 

 

 

 

 

Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Untuk Ranah Psikomotor

Peniruan

Manipulasi

Artikulasi

Pengalamiahan

Mengaktifkan                          x ,

 

Mengoreksi

 

Mengalihkan

 

Mengalihkan

 

Menyesuaikan

 

Mendemonstrasikan

 

Menggantikan

 

Mempertajam

 

Menggabungkan

 

Merancang

 

Memutar

 

Membentuk

 

Melamar

 

Memilah

 

Mengirim

 

Memadankan

 

Merigatur

 

Melatih

 

Memindahkan

 

Menggunakan

 

Mengumpulkan

 

Memperbaiki

 

Mendorong

 

Memulai

 

Merimbang

 

Mengidentifikasikan

 

Menarik

 

Menyetir

 

Memperkecil

 

Mengisi

 

Memproduksi

 

Menjeniskan

 

Membangun

 

Menempatkan

 

Mencampur

 

Menempel

 

Mengubah

 

Membuat

 

Mengoperasikan

 

Mensketsa

 

Membersihkan

 

Memanipulasi

 

Mengemas

 

Melonggarkan

 

Memposisikan

 

Mereparasi

 

Membungkus

 

Menimbang

 

Mengkonstruksikan

 

Mencampur

 

 

 

 

 

Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Untuk Ranah Afektif

Menerima Menanggapi Menilai Mengelola Menghayati
Memilih

 

Menjawab

 

Mengasumsikan

 

Menganut

 

Mengubah prilaku

 

Mempertanyakan

 

Membantu

 

Meyakini

 

Mengubah

 

Berbuat sesuai akhlak mulia

 

Mengikuti

 

Mengajukan

 

Melengkapi

 

Menata

 

Mempengaruhi

 

Member!

 

Mengompromikan

 

Meyakinkan

 

Mengklasifikasikan

 

Mendengarkan

 

Menganut

 

Menyenangi

 

Memprakarsai

 

Mengombinasikan

 

Mengkualifikasi

 

Mematuhi

 

Menyambut

 

Mcngimani

 

Mempertahankan

 

Melayani

 

Meminati

 

Mendukung

 

Mengundang

 

Membangun

 

Menunjukkan

 

 

 

Menyetujui

 

Menggabungkan

 

Membentuk pendapat

 

Membuktikan

 

 

 

Menampilkan

 

Memperjelas

 

Memadukan

 

Memecahkan

 

 

 

Melaporkan

 

Mengusulkan

 

Mengelola

 

 

 

 

 

Memilih

 

Menekankan

 

Menegosiasikan

 

 

 

 

 

Mengatakan

 

Menyumbang

 

Merembuk

 

 

 

 

 

Memilah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menolak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Kata Kerja Aktif

Taksonomi Bloom

Kognitif

Pengetahuan Pemahaman Aplikasi
Mendefinisikan Menjelaskan Menyelesaikan
Mengidentifikasi Menginterpretasi Menggunakan
Mendaftar Menggambarkan Menerapkan
Memberi label Membandingkan Memanipulasi
Memilih Mendemonstrasikan Memodifikasi
Memasangkan Mengilustrasikan Mengklasifikasi
Menunjukkan Menyatakan kembali Memprediksi
Mendaftar   Menyusun
Menunjukkan    
   

 

Analisis Sintesis Evaluasi
Menganalisa Merancang Menilai
Mengorganisasi Mengkreasi Mengestimasi
Mengkategorisasi Membangun Memutuskan
Membandingkan Menulis Mengkritik
Membedakan Melaporkan Merekomendasi
Mendiskriminasikan Merencanakan Menginterpretasi
  Menggubah  
   
Afektif Psikomotorik
Menyetujui Mengatur
Menghindari Memperbaiki
Mendukung Merasakan
Berpartisipasi Mengukur
Bekerjasama Melakukan sesuatu
Menghargai Mengoperasikan
Membantu Menggunakan
Bergabung Mengendalikan
 

 

SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/ MADRASAH ALIYAH (MA)

  1. a. Pendidikan Agama Islam SMA/MA/SMK/MAK
    1. Memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan fungsi manusia sebagai khalifah, demokrasi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
    2. Meningkatkan keimanan kepada Allah sampai Qadha dan Qadar melalui pemahaman terhadap sifat dan Asmaul Husna
    3. Berperilaku terpuji seperti hasnuzzhan, taubat dan raja dan meninggalkan perilaku tercela seperti isyrof, tabzir dan fitnah
    4. Memahami sumber hukum Islam dan hukum taklifi serta menjelaskan hukum muamalah dan hukum keluarga dalam Islam
    5. Memahami sejarah Nabi Muhammad pada periode Mekkah dan periode Madinah serta perkembangan Islam di Indonsia dan di dunia
  2. b. Pendidikan Agama Kristen SMA/SMK
    1. Mewujudkan nilai-nilai kristiani dalam pergaulan antar pribadi dan kehidupan sosial
    2. Merespon berbagai bentuk kehidupan modern, perkembangan budaya dan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan mengacu pada ajaran Kristen
    3. Bertanggung jawab sebagai orang Kristen dalam kehidupan gereja, masyarakat dan bangsa
    4. Menyampaikan berita damai dan menjadi pembawa damai sejahtera
  3. c. Pendidikan Agama Katolik SMA/SMK
    1. Peserta didik dapat menguraikan pemahaman tentang pribadinya sebagai pria dan wanita serta sebagai Citra Allah yang memiliki akal budi untuk berpikir kritis serta memiliki suara hati dan kehendak yang bebas untuk bertindak secara  bertanggung jawab.
    2. Peserta didik menguraikan pemahaman tentang pribadi Yesus Kristus yang diwartakan oleh Kitab Suci dan diajarkan oleh Gereja dan bagaimana upaya nyata meneladani dalam hidup sehari-hari.
    3. Peserta didik dapat menguraikan    pemahaman makna Gereja, fungsi dan sifat-sifatnya serta hubungannya dengan dunia dan bagaimana menghayati dalam hidup bergereja.
    4. Peserta didik menguraikan fungsi Gereja yaitu melanjutkan perutusan Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah dan melibatkan diri dalam perutusan itu untuk memperjuangkan martabat dan hak asasi manusia  dengan menegakkan nilai-nilai Kerajaan Allah, antara lain: keadilan, kejujuran dan keutuhan lingkungan hidup.
  4. d. Pendidikan Agama Hindu SMA/SMK
    1. Memahami Atman sebagai sumber hidup, Hukum Karma dan Punarbhawa, dan ajaran Moksa sebagai tujuan tertinggi
    2. Memahami sifat-sifat Tri Guna dan Dasa Mala, ajaran Tat Twam Asi, Catur Warna, Catur Asrama, dan Catur Purusartha
    3. Memahami tata cara persembahyangan, pelaksanaan Yadnya dalam kehidupan, dan perkawinan menurut Hindu (Wiwaha)
    4. Memahami pokok-pokok ajaran Weda (Weda Sruti dan Smerti) sebagai sumber hukum Hindu
    5. Memahami struktur, hakikat dan pelestarian kesucian tempat suci
    6. Memahami perhitungan hari-hari suci menurut Hindu
    7. Memahami kepemimpinan menurut Niti Sastra dan hakekatnya
    8. Memahami proses penciptaan dan pralaya alam semesta
    9. Memahami nilai-nilai budaya Dharma Gita, seni keagamaan Hindu dan sejarah perkembangan agama Hindu di India dan negara lainnya
  5. e. Pendidikan Agama Buddha SMA/SMK
  6. Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tri Ratna dengan mengetahui fungsi serta terefleksi dalam moralitas (sila), meditasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna)
  7. Memiliki kemampuan untuk memahami dan meyakini hukum alam
  8. Membaca Paritta dan Dhammapada serta mengerti artinya
  9. Beribadah (kebaktian) dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan masing-masing aliran
  10. Meneladani sifat, sikap dan kepribadian Buddha, Bodhisattva, dan para siswa utama Buddha
  11. Memiliki kemampuan dasar berpikir logis, kritis, dan kreatif untuk memecahkan masalah
  12. Memahami sejarah kehidupan Buddha Gotama
  13. Memahami peran agama dalam kehidupan sehari-hari
  14. Memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi
    1. f. Pendidikan Kewarganegaraan SMA/MA
      1. Memahami hakekat bangsa dan Negara Kesatuan Repubilik Indonesia
      2. Menganalisis sikap positif terhadap penegakan hukum, peradilan nasional, dan tindakan anti korupsi
      3. Menganalisis pola-pola  dan  partisipasi aktif dalam pemajuan, penghormatan serta penegakan HAM baik di Indonesia maupun  di luar negeri
      4. Menganalisis peran dan hak warganegara dan sistem pemerintahan NKRI
      5. Menganalisis budaya politik demokrasi, konstitusi , kedaulatan negara, keterbukaan dan keadilan di Indonesia
      6. Mengevaluasi hubungan internasional dan sistem hukum internasional
      7. Mengevaluasi sikap berpolitik dan bermasyarakat madani sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
      8. Menganalisis peran Indonesia dalam politik dan hubungan internasional, regional, dan kerja sama global lainnya
      9. Menganalisis sistem hukum internasional, timbulnya konflik internasional, dan mahkamah internasional
  15. g. Bahasa Indonesia SMA/MA


Program IPA dan IPS

  1. 1. Mendengarkan

Memahami wacana lisan dalam kegiatan penyampaian berita, laporan, saran, berberita, pidato, wawancara, diskusi, seminar, dan pembacaan karya sastra berbentuk puisi, cerita rakyat, drama, cerpen, dan novel

  1. 2. Berbicara

Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan berkenalan, diskusi, bercerita, presentasi hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan drama

  1. 3. Membaca

Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana, teks pidato, serta teks sastra berbentuk puisi, hikayat, novel, biografi, puisi kontemporer, karya sastra berbagai angkatan dan sastra Melayu klasik

  1. 4. Menulis

Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, teks pidato, proposal, surat dinas, surat dagang, rangkuman, ringkasan, notulen, laporan, resensi, karya ilmiah, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, kritik, dan esei


Program Bahasa

  1. 1. Mendengarkan

Memahami wacana lisan dalam kegiatan pidato, ceramah/khotbah, wawancara, diskusi, dialog, penyampaian berita, presentasi laporan

  1. 2. Berbicara

Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, informasi, dan pengalaman dalam kegiatan presentasi  hasil penelitian, laporan pembacaan buku, dan presentasi program, bercerita, wawancara, diskusi, seminar, debat, dan pidato tanpa teks

  1. 3. Membaca

Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis berbentuk esei, artikel, dan biografi

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan pikiran dan informasi dalam wacana tulis berbentuk teks deskripsi, narasi, eksposisi, persuasi dan argumentasi, ringkasan/rangkuman, laporan, karya ilmiah, makalah, serta surat lamaran

  1. 5. Kebahasaan

Memahami dan menggunakan  berbagai komponen kebahasaan, baik fonologi, morfologi, maupun sintaksis dalam wacana lisan dan tulis

  1. h. Bahasa Inggris SMA/MA
    1. 1. Mendengarkan

Memahami makna dalam wacana lisan interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, analytical exposition, hortatory exposition, spoof, explanation, discussion, dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, analytical exposition, hortatory exposition, spoof, explanation, discussion, dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari

  1. 3. Membaca

Memahami makna dalam wacana tertulis interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, analytical exposition, hortatory exposition, spoof, explanation, discussion, dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, analytical exposition, hortatory exposition, spoof, explanation, discussion, dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari

Program Bahasa

  1. 1. Mendengarkan

Memahami makna dalam wacana lisan interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, analytical exposition, hortatory exposition, spoof, explanation, discussion, review, public speaking dalam konteks akademik, dan karya sastra populer dan otentik sederhana, dalam kehidupan nyata sehari-hari

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, analytical exposition, hortatory exposition, spoof, explanation, discussion, review, public speaking dalam konteks akademik, dan karya sastra populer dan otentik sederhana, dalam kehidupan nyata sehari-hari

  1. 3. Membaca

Memahami makna dalam wacana tertulis interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, analytical exposition, hortatory exposition, spoof, explanation, discussion, review, public speaking dalam konteks akademik, dan karya sastra populer dan otentik sederhana, dalam kehidupan nyata sehari-hari

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana interpersonal dan transaksional, secara formal maupun informal, dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report, analytical exposition, hortatory exposition, spoof, explanation, discussion, review, public speaking dalam konteks akademik, dan karya sastra populer dan otentik sederhana, dalam kehidupan nyata sehari-hari

  1. i. Matematika SMA/MA

Program IPA

  1. Memahami pernyataan dalam matematika dan ingkarannya,  menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor, serta  menggunakan prinsip logika matematika dalam pemecahan masalah
  2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aturan pangkat, akar dan logaritma, fungsi aljabar sederhana, fungsi kuadrat, fungsi eksponen dan grafiknya, fungsi komposisi dan fungsi invers, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, persamaan lingkaran dan persamaan garis singgungnya, suku banyak, algoritma pembagian dan teorema sisa, program linear, matriks dan determinan, vektor, transformasi geometri dan komposisinya, barisan dan deret, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
  3. Menentukan kedudukan, jarak dan besar sudut yang melibatkan titik, garis dan bidang di ruang dimensi tiga serta  menggunakannya dalam pemecahan masalah
  4. Memahami konsep perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri, rumus  sinus dan kosinus jumlah dan selisih dua sudut, rumus jumlah dan selisih sinus dan kosinus, serta   menggunakannya dalam pemecahan masalah
  5. Memahami limit fungsi aljabar dan fungsi trigonometri di suatu titik dan sifat-sifatnya, turunan fungsi, nilai ekstrem, integral tak tentu dan integral tentu fungsi aljabar dan trigonometri, serta  menerapkannya dalam pemecahan masalah
  6. Memahami dan  mengaplikasikan penyajian data dalam bentuk tabel, diagram, gambar, grafik, dan ogive, ukuran pemusatan, letak dan ukuran penyebaran, permutasi dan kombinasi, ruang sampel dan peluang kejadian dan menerapkannya dalam pemecahan masalah
  7. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan
  8. Memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mempunyai kemampuan bekerjasama

Program IPS

  1. Memahami pernyataan dalam matematika dan ingkarannya,  menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor, serta  menggunakan prinsip logika matematika dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor
  2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aturan pangkat, akar dan logaritma, fungsi aljabar sederhana, fungsi kuadrat dan grafiknya, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, komposisi dan invers fungsi, program linear, matriks dan determinan, vektor, transformasi geometri dan komposisinya, barisan dan deret, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
  3. Menentukan kedudukan, jarak dan besar sudut yang melibatkan titik, garis dan bidang di ruang dimensi tiga serta  menggunakannya dalam pemecahan masalah
  4. Memahami konsep perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri serta   menggunakannya dalam pemecahan masalah
  5. Memahami limit fungsi aljabar dan fungsi trigonometri di suatu titik dan sifat-sifatnya, turunan fungsi, nilai ekstrem, integral tak tentu dan integral tentu fungsi aljabar dan trigonometri, serta  menerapkannya dalam pemecahan masalah
  6. Mengaplikasikan penyajian data dalam bentuk tabel, diagram, gambar, grafik, dan ogive, ukuran pemusatan, letak dan ukuran penyebaran, permutasi dan kombinasi, ruang sampel dan peluang kejadian, dalam pemecahan masalah
  7. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan
  8. Memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta mempunyai kemampuan bekerjasama.


Program Bahasa

  1. Memahami pernyataan dalam matematika dan ingkarannya,  menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor, serta  menggunakan prinsip logika matematika dalam pemecahan masalah
  2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aturan pangkat, akar dan logaritma, fungsi aljabar sederhana dan fungsi kuadrat, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, program linear, matriks dan determinan, vektor, transformasi geometri dan komposisinya, barisan dan deret, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah
  3. Menentukan kedudukan, jarak dan besar sudut yang melibatkan titik, garis dan bidang di ruang dimensi tiga serta  menggunakannya dalam pemecahan masalah
  4. Memahami konsep perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri serta menggunakan dalam pemecahan masalah
  5. Memahami dan  mengaplikasikan penyajian data dalam bentuk tabel, diagram, gambar, grafik, dan ogive, ukuran pemusatan, letak dan ukuran penyebaran, permutasi dan kombinasi, ruang sampel dan peluang kejadian dan menggunakannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari dan ilmu pengetahuan dan teknologi
    1. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan
    2. Memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mempunyai kemampuan bekerjasama
  6. j. Fisika SMA/MA
    1. Melakukan percobaan, antara lain merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis, menentukan variabel, merancang dan merakit instrumen, mengumpulkan, mengolah dan menafsirkan data, menarik kesimpulan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis
    2. Memahami prinsip-prinsip pengukuran dan melakukan pengukuran besaran fisika secara langsung dan tidak langsung secara cermat, teliti, dan obyektif
    3. Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik, kekekalan energi, impuls, dan momentum
    4. Mendeskripsikan prinsip dan konsep konservasi kalor sifat gas ideal, fluida dan perubahannya yang menyangkut hukum termodinamika serta penerapannya dalam mesin kalor
    5. Menerapkan konsep dan prinsip optik dan gelombang dalam berbagai penyelesaian masalah dan produk teknologi
    6. Menerapkan konsep dan prinsip kelistrikan dan kemagnetan dalam berbagai masalah dan produk teknologi
  7. k. Biologi SMA/MA
    1. Merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis, menentukan variabel, merancang dan merakit instrumen, menggunakan berbagai peralatan untuk melakukan pengamatan dan pengukuran yang tepat dan teliti, mengumpulkan, mengolah, menafsirkan dan menyajikan data secara sistematis, dan menarik kesimpulan sesuai dengan bukti yang diperoleh, serta berkomunikasi ilmiah hasil percobaan secara lisan dan tertulis
    2. Memahami keanekaragaman hayati dan klasifikasinya, peranan keanekaragaman hayati bagi kehidupan dan upaya pelestariannya.
    3. Menganalisis hubungan antar komponen ekosistem, perubahan materi dan energi, serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem
    4. Memahami konsep sel dan jaringan, keterkaitan antara struktur dan fungsi organ, kelainan dan penyakit yang mungkin terjadi pada sistem organ, serta implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat
    5. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, proses metabolisme dan hereditas, evolusi dan implikasinya dengan sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat
    6. Memahami prinsip-prinsip dasar bioteknologi serta implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat
  8. l. Kimia SMA/MA
    1. Melakukan percobaan, antara lain merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis, menentukan variabel, merancang dan merakit instrumen, mengumpulkan, mengolah dan menafsirkan data, menarik kesimpulan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis
    2. Memahami hukum dasar dan penerapannya, cara perhitungan dan pengukuran, fenomena reaksi kimia yang terkait dengan kinetika, kesetimbangan, kekekalan masa dan kekekalan energi
    3. Memahami sifat berbagai larutan asam-basa, larutan koloid, larutan elektrolit-non elektrolit, termasuk cara pengukuran dan kegunaannya
    4. Memahami konsep reaksi oksidasi-reduksi dan elektrokimia serta penerapannya dalam fenomena pembentukan energi listrik, korosi logam, dan pemisahan bahan (elektrolisis)
    5. Memahami struktur molekul dan reaksi senyawa organik yang meliputi benzena dan turunannya, lemak, karbohidrat, protein, dan polimer serta kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari

m. Sejarah SMA/MA

Kelas X

  1. Memahami ruang lingkup ilmu sejarah
  2. Menggunakan  prinsip-prinsip dasar penelitian sejarah
  3. Menganalisis masa pra-aksara dan masyarakat aksara pada masyrakat Indonesia
  4. Menganalisis kehidupan awal masyarakat di Indonesia meliputi peradaban awal, asal-usul dan persebaran manusia di wilayah nusantara/Indonesia

Program IPA

  1. Menganalisis perkembangan masa negara-negara tradisional yang meliputi masa Hindu-Buddha, Islam di Indonesia
  2. Membandingkan perkembangan masyarakat Indonesia masa penjajahan Hindia-Belanda dan Pemerintahan Pendudukan Jepang
  3. Menganalisis proses kelahiran dan pertumbuhan nasionalisme di Indonesia
  4. Merenkonstruksi perkembangan masyarakat Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan periode Demokrasi terpimpin
  5. Merekonstruksi pergantian pemerintahan masa awal kemerdekaan (1945-1955), Demokrasi terpimpin (1955-1967), ke masa pemerintahan Orde Baru (1967-1998) sampai periode Reforrmasi (sejak 1998 s/d sekarang)
  6. Merekonstruksi perkembangan masyarakat pada masa Orde Baru
  7. Menganalisis perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sesudah Perang Dunia II sampai dengan pertumbuhan teknologi mutahir

Program IPS

  1. Menganalisis  kehidupan awal, peradaban manusia Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia, serta asal usul dan persebaran manusia di Indonesia
  2. Menganalisis perkembangan bangsa Indonesia pada masa Negara tradisional, meliputi perkembangan budaya, agama, dan sistem pemerintahan masa Hindu-Buddha,  masa Islam, proses interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan Islam di Indonesia
  3. Menganalisis  kesejarahan masa kolonial Hindia Belanda (pengaruh Barat) meliputi perubahan ekonomi, demografi, sosial, serta politik dan masa kolonial Jepang yang meliputi perubahan sosial-ekonomi, politik
  4. Menganalisis pengaruh berbagai revolusi politik dan sosial di dunia (Revolusi Perancis, revolusi Amarika, revolusi Rusia) terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia
  5. Menganalisis peristiwa sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan lahirnya Undang-Undang Dasar 1945
  6. Menganalisis perkembangan masyarakat Indonesia mulai masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, kerajaan-kerajaan Islam, permerintahan colonial Belanda, Inggris, Pemerintahan Pendudukan Jepang, meliputi politik (lahirnya gerakan pendidikan dan nasionalisme), cita-cita terbentuknya Negara merdeka dan sebagainya
  7. Menganalisis perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan dan persatuan NKRI darii ancaman disintegrasi bangsa, antara lain Peristiwa Madiun 1948, Pemnerontakan DI/TII, Peristiwa PERMESTA, Peristiwa Andi Azis, RMS, PRRI, dan Gerakan G-30-S/PKI
  8. Menganalisis perkembangan masyarakat Indonesia sejak Proklamasi sampai dengan masa Orde Baru, dan masa Reformasi, meliputi  Masa Pemerintahan Demokrasi Terpimpin (Orde baru, 1945-1967), masa Demokrasi Pancasila (Orde Baru, 1967-1998), dan masa peralihan ke masa Reformasi(1998 –sekarang)


Program Bahasa

  1. Menganalisis kehidupan masyarakat Indonesia periode kerajaan-kerajaan tradisional, yang meliputi masa kerajaan Hindu-Buddha dan Islam
  2. Menganalisis perkembangan bahasa dan karya sastra masa kebudayaan Hindu-Buddha dan Islam
  3. Menganalisis perkembangan masyarakat dan bahasa, karya sastra masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda
  4. Menganalisis proses kelahiran dan perkembangan nasionalisme Indonesia
  5. Merekonstruksi perkembangan masyarakat Indonesia periode Proklamasi (1945-1955), Orde Lama (1955-1967), Orde Baru (1967-1998), dan Reformasi (1998 -) mreliputi perkembangan politik, ekonomi, sosial, bidang budaya, bahasa, dan karya sastra
  6. n. Geografi SMA/MA
    1. Memahami hakikat, objek, ruang lingkup, struktur, dan pendekatan Geografi
    2. Mempraktekkan keterampilan dasar peta dan memanfaatkannya dalam mengkaji geosfer
    3. Memahami pemanfaatan citra dan SIG sebagai wahana memvisualkan geosfer
    4. Menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan unsur-unsur geosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi
    5. Memahami pola dan aturan tata surya dan jagad raya dalam kaitannya dengan kehidupan di muka bumi
    6. Memahami sumber daya alam dan pemanfaatannya secara arif
    7. Menganalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan
    8. Menganalisis konsep wilayah dan pewilayahan dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan wilayah, pedesaan dan perkotaan, serta negara maju dan berkembang
  7. o. Ekonomi SMA/MA
    1. Menganalisis permasalahan ekonomi dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia dan sistem ekonomi
    2. Mendeskripsikan kegiatan ekonomi produsen, konsumen, permintaan, penawaran dan harga keseimbangan melalui mekanisme pasar
    3. Mendeskripsikan kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi dalam kaitannya dengan pendapatan nasional, konsumsi, tabungan dan investasi, uang dan perbankan
    4. Memahami pembangunan ekonomi suatu negara dalam kaitannya dengan ketenagakerjaan, APBN, pasar modal dan ekonomi terbuka
    5. Menyusun siklus akuntansi perusahaan jasa dan perusahaan dagang
    6. Memahami fungsi-fungsi manajemen badan usaha, koperasi dan kewirausahaan.
  8. p. Sosiologi SMA/MA
    1. Memahami sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji hubungan masyarakat dan lingkungan
    2. Memahami proses interaksi sosial di dalam masyarakat dan norma yang mengatur hubungan tersebut serta kaitannya dengan dinamika kehidupan sosial
    3. Mengidentifikasi kegiatan bersosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian
    4. Mengidentifikasi berbagai perilaku menyimpang dan anti sosial dalam masyarakat
    5. Menganalisis hubungan antara struktur dan mobilitas sosial dalam kaitannya dengan konflik sosial
    6. Mendeskripsikan berbagai bentuk kelompok sosial dan perkembangannya dalam masyarakat yang multikutural
    7. Menjelaskan proses perubahan sosial pada masyarakat dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat
    8. Menjelaskan hakikat dan tipe-tipe lembaga sosial dan fungsinya dalam masyarakat
    9. Melakukan penelitian sosial secara sederhana dan mengkominukasikan hasilnya dalam tulisan dan lisan
  9. q. Seni Budaya SMA/MA

Seni  Musik

  1. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik tradisional dan nontradisional dengan beragam teknik, media, dan materi musik daerah setempat
  2. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik tradisional dan nontradisional dengan beragam proses, teknik, prosedur, media, dan materi musik Nusantara
  3. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni musik tradisional dan nontradisional dengan beragam proses, teknik, prosedur, media, dan materi musik mancanegara (NonAsia)

Seni  Tari

  1. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni  tari kreasi bentuk tari tunggal atau berpasangan/kelompok dalam konteks budaya masyarakat daerah setempat
  2. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni  tari kreasi bentuk tari tunggal atau berpasangan/kelompok dalam konteks budaya masyarakat Nusantara
  3. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni  tari kreasi bentuk tari tunggal atau berpasangan/kelompok mancanegara (NonAsia) dalam konteks budaya masyarakatnya.


Seni Teater

  1. Mengapresiasi dan bereksplorasi teknik olah tubuh, pikiran dan suara
  2. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni teater  tradisional dan nontradisional dan seni teater kreatif daerah setempat dalam konteks budaya masyarakat
  3. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni  teater  tradisional dan nontradisional dan seni teater kreatif Nusantara dalam konteks budaya masyarakat
  4. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni  teater  tradisional, dan nontradisional dan seni teater kreatif mancanegara (NonAsia) dalam konteks budaya masyarakat

Seni  Rupa (Program IPA)

  1. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat dan Nusantara
  2. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni terapan dengan memanfaatkan teknik mistar dan proyeksi dengan mempertimbangkan fungsi dan corak seni rupa terapan Nusantara dan mancanegara
  3. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa murni dan terapan (modern/ kontemporer) yang dikembangkan dari beragam unsur, corak dan teknik seni rupa Nusantara

Seni  Rupa (Program IPS dan Bahasa)

  1. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat dan Nusantara
  2. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni kriya dengan memanfaatkan teknik dan corak Nusantara dan mancanegara
  3. Mengapresiasi dan mengekspresikan karya seni rupa murni dan terapan (modern/kontemporer)  yang dikembangkan dari beragam unsur, corak dan teknik seni rupa Nusantara
  4. r. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan SMA/MA
    1. Mempraktekkan keterampilan permainan dan olahraga dengan menggunakan peraturan
    2. Mempraktekkan rangkaian senam lantai dan irama serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
    3. Mempraktekkan pengembangan mekanik sikap tubuh, kebugaran jasnani serta aktivitas lainnya
    4. Mempraktekkan gerak ritmik yang meliputi senam pagi, senam aerobik, dan aktivitas lainnya
    5. Mempraktekkan kegiatan dalam air seperti renang, permainan di air dan keselamatan di air
    6. Mempraktekkan kegiatan-kegiatn di luar kelas seperti melakukan perkemahan, penjelajahan alam sekitar, mendaki gunung, dan lain-lain
    7. Memahami budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari seperti perawatan tubuh serta lingkungan yang sehat, mengenal berbagai penyakit dan cara mencegahnya serta menghindari narkoba dan HIV
  5. s. Teknologi Informasi dan Komunikasi SMA/MA
    1. Memahami fungsi dan proses kerja berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi yang ditopang oleh sikap cermat dan menghargai Hak Atas Kekayaan Intelektual
    2. Menggunakan perangkat pengolah kata, pengolah angka, pembuat grafis dan pembuat presentasi dengan variasi tabel, grafik, gambar dan diagram untuk menghasilkan informasi
    3. Memahami prinsip dasar Internet/intranet dan menggunakannya untuk memperoleh informasi, berkomunikasi dan bertukar informasi
  6. t. Keterampilan SMA/MA

Kerajinan

  1. Mengapresiasi dan membuat benda kerajinan tenik tapestry dan teknik pembentukan manual untuk fungsi ekspresi/hias
  2. Mengapresiasi dan membuat benda kerajinan dengan teknik celup ikat dan atau teknik batik untuk fungsi ekspresi/hias.
  3. Mengapresiasi dan membuat benda kerajinan dengan menggunakan bahan keras alami dengan berbagai teknik untuk fungsi ekspresi/hias.
  4. Mengapresiasi dan membuat benda kerajinan dengan teknik potong sambung dan teknik potong konstruksi untuk fungsi ekspresi/hias.
  5. Mengapresiasi dan membuat benda kerajinan dengan menggunakan bahan keras alami dan teknik sayat dan ukir yang menerapkan ragam hias tradisional, mancanegara maupun modifikasinya.

Teknologi Rekayasa

  1. Mengapresiasi dan menciptakan karya teknologi rekayasa berbagai tempat hewan air dan hewan darat yang sehat
  2. Mengapresiasi dan menciptakan karya teknologi rekayasa miniatur benda konstruksi sederhana dan kompleks
  3. Mengapresiasi dan menciptakan karya teknologi rekayasa alat transportasi mainan dengan energi mekanik

Teknologi Budidaya

  1. Mengapresiasi dan menerapkan teknologi budidaya unggas potong dan hias.
  2. Mengapresiasi dan menerapkan teknologi budidaya tanaman hias dengan menggunakan berbagai media
  3. Mengapresiasi dan menerapan teknologi budidaya ikan hias air tawar di dalam akuarium dan budidaya udang air tawar/laut

Teknologi Pengolahan

  1. Mengapresiasi dan menerapkan teknologi pengolahan produk pengawetan dengan pengapasan dan menggunakan uap dari bahan hewani
  2. Mengapresiasi dan menerapkan teknologi pengolahan bahan padat dan bahan cair/kental dengan teknik fermentasi.
  3. Mengapresiasi dan menerapkan teknologi pengolahan produk makanan dengan teknik daur ulang dan teknik pengolahan satu bahan menjadi berbagai produk makanan.
  4. u. Bahasa Asing SMA/MA

Bahasa Arab  Program Pilihan

  1. 1. Mendengarkan

Memahami bunyi huruf Hijaiyah dan makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan pekerjaan

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan pekerjaan

  1. 3. Membaca

Melafalkan huruf Hijaiyah dan memahami makna dalam wacana tertulis berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan pekerjaan

  1. 4. Menulis

Menulis huruf Hijaiyah dan mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan pekerjaan

Bahasa Arab  Program Bahasa

  1. 1. Mendengarkan

Memahami bunyi huruf Hijaiyah serta makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 3. Membaca

Melafalkan huruf hijaiyah serta memahami makna dalam wacana tertulis berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan


  1. 4. Menulis

Menulis huruf hijaiyah serta mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

Bahasa Jerman Program Pilihan

  1. 1. Mendengarkan

Memahami makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

  1. 3. Membaca

Memahami makna dalam wacana tertulis berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

Bahasa Jerman Program Bahasa

  1. 1. Mendengarkan

Memahami makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 3. Membaca

Memahami makna dalam wacana tertulis berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan


Bahasa Perancis Program Pilihan

  1. 1. Mendengarkan

Memahami makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

  1. 3. Membaca

Memahami makna dalam wacana tertulis berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

Bahasa Perancis Program Bahasa

  1. 1. Mendengarkan

Memahami makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 3. Membaca

Memahami makna dalam wacana tertulis berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

Bahasa Jepang Program Pilihan

  1. 1. Mendengarkan

Memahami makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata


  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

  1. 3. Membaca

Memahami makna dalam wacana tertulis dengan huruf hiragana, katakana, dan kanji sederhana, berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dengan huruf hiragana, katakana, dan kanji sederhana, dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan wisata

Bahasa Jepang Program Bahasa

  1. 1. Mendengarkan

Memahami makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, kesehatan, dan cita-cita

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, kesehatan, dan cita-cita

  1. 3. Membaca

Memahami makna dalam wacana tertulis dengan huruf hiragana, katakana, dan kanji sederhana, berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, kesehatan, dan cita-cita

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dengan huruf hiragana, katakana, dan kanji sederhana, dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, kesehatan, dan cita-cita

Bahasa Mandarin Program Pilihan

  1. 1. Mendengarkan

Mengidentifikasi bunyi hanyu pinyin dan memahami makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan pekerjaan

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dengan lafal hanyu pinyin dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan pekerjaan

  1. 3. Membaca

Membaca nyaring dan memahami makna dalam wacana tertulis dengan lafal/ejaan hanyu pinyin dan hanzi berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan pekerjaan

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dengan ejaan hanzi dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, dan pekerjaan

Bahasa Mandarin Program Bahasa

  1. 1. Mendengarkan

Mengidentifikasi bunyi hanyu pinyin dan memahami makna dalam wacana lisan berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 2. Berbicara

Mengungkapkan makna secara lisan dengan lafal hanyu pinyin dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 3. Membaca

Membaca nyaring dan memahami makna dalam wacana tertulis dengan lafal/ejaan hanyu pinyin dan hanzi berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. 4. Menulis

Mengungkapkan makna secara tertulis dengan ejaan hanzi dalam wacana berbentuk paparan dan dialog sederhana tentang identitas diri, kehidupan sekolah, kehidupan keluarga, kehidupan sehari-hari, hobi, wisata, layanan umum, dan pekerjaan

  1. v. Sastra Indonesia SMA/MA

Program Bahasa

  1. 1. Mendengarkan

Memahami wacana lisan dalam kegiatan apresiasi terhadap pementasan drama dan pembacaan puisi

  1. 2. Berbicara

Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan,   informasi, dan membahas serta  mengapresiasi berbagai karya sastra berbentuk puisi, prosa, dan drama


  1. 3. Membaca

Menggunakan berbagai  jenis membaca untuk mengapresiasi  karya sastra berbentuk novel, cerita pendek, hikayat, dan drama

  1. 4. Menulis

Menggunakan berbagai kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman dalam kegiatan apresiatif yang   menghasilkan transformasi karya sastra, kritik dan esei, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerita pendek, drama, serta transliterasi/transkripsi naskah lama berhuruf Arab Melayu

  1. 5. Kesastraan

Menguasai komponen kesastraan, genre sastra dan perkembangannya untuk mengapresiasi karya sastra berbentuk puisi, prosa, dan  drama

  1. w. Antropologi SMA/MA

Program Bahasa

  1. Mengidentifikasi berbagai budaya lokal, budaya asing, dan hubungan di antara keduanya, serta dampak dari hubungan tersebut
  2. Menunjukkan sikap toleran dan empati terhadap keberagaman budaya yang ada di masyarakat setempat dalam kaitannya dengan budaya nasional
  3. Menganalisis proses dinamika budaya dalam kaitannya dengan integrasi nasional
  4. Memahami peran bahasa dan dialek dalam perkembangan budaya Indonesia, serta menunjukkan sikap peduli terhadap bahasa dan dialek
  5. Menganalisis keragaman dan perkembangan seni dalam budaya Indonesia (Seni Rupa, Sastra dan Pertunjukan)
  6. Memahami keragaman agama/religi/kepercayaan di Indonesia serta dampaknya dalam perilaku penganutnya
  7. Memahami peran dan penerapan IPTEK, serta pengaruhnya terhadap perkembangan budaya Indonesia

 

 

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

NOMOR  22  TAHUN 2006  TANGGAL  23 MEI 2006

STANDAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN

 

Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan  Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya  saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

Dalam dokumen ini dibahas standar isi sebagaimana dimaksud oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, yang secara keseluruhan mencakup:

  1. kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan,
  2. beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah,
  3. kurikulum tingkat satuan pendidikan yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagian tidak terpisahkan dari standar isi, dan
  4. kalender pendidikan untuk penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Standar Isi dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005.

 

BAB II

KERANGKA DASAR DAN STRUKTUR KURIKULUM

 

  1. A. Kerangka Dasar Kurikulum

1.   Kelompok Mata Pelajaran

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional  Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

  1. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;

b.   kelompok mata pelajaran kewarganegaraan   dan kepribadian;

  1. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
  2. kelompok mata pelajaran estetika;
  3. kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.

Cakupan setiap kelompok mata pelajaran disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1.   Cakupan Kelompok Mata Pelajaran

No Kelompok Mata Pelajaran Cakupan
1. Agama dan Akhlak Mulia Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
2. Kewarganega-raan dan Kepribadian Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.

Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

3. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK dimaksudkan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membentuk kompetensi, kecakapan, dan kemandirian kerja.

4. Estetika Kelompok mata pelajaran estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi dan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.
5. Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.

Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sportivitas dan kesadaran hidup sehat.

Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin, kerja sama, dan hidup sehat.

Budaya hidup sehat termasuk kesadaran, sikap, dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual ataupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam berdarah, muntaber, dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah.

 

Selain  tujuan dan cakupan kelompok mata pelajaran sebagai bagian dari kerangka dasar kurikulum, perlu dikemukakan prinsip pengembangan kurikulum.

 

  1. 2. Prinsip Pengembangan Kurikulum

Kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta  panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut.

  1. a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.

  1. b. Beragam dan terpadu

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.


c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,  teknologi, dan seni

Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

  1. d. Relevan dengan  kebutuhan kehidupan

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan   melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan  kemasyarakatan, dunia usaha dan  dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi,  keterampilan  berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.

  1. e. Menyeluruh dan berkesinambungan

Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.

  1. f. Belajar sepanjang hayat

Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

  1. g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

3.      Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut.
  1. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
  2. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
  3. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.
  4. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).
  5. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
  6. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
  7. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.

 

  1. B. Struktur Kurikulum Pendidikan Umum

Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

  1. Struktur Kurikulum SD/MI

Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. Struktur kurikulum SD/MI disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran dengan ketentuan sebagai berikut.

  1. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri seperti tertera pada Tabel 2.

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.

  1. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SD/MI merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”.
  2. Pembelajaran pada Kelas I s.d. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada Kelas IV s.d. VI  dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran.
  3. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan  sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan.
  4. Alokasi waktu satu jam  pembelajaran adalah 35 menit.
  5. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu.

Struktur kurikulum SD/MI disajikan pada Tabel 2

 

Tabel 2.  Struktur Kurikulum SD/MI

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

I II

 

III IV, V, dan VI
A. Mata Pelajaran       3
1.    Pendidikan Agama      
2.    Pendidikan Kewarganegaraan       2
3.    Bahasa Indonesia       5
4.    Matematika       5
5.    Ilmu Pengetahuan Alam       4
6.    Ilmu Pengetahuan Sosial       3
7.    Seni Budaya dan Keterampilan       4
8.    Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan       4
B. Muatan Lokal       2
C. Pengembangan Diri       2*)
Jumlah 26 27 28 32

*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

  1. Struktur Kurikulum SMP/MTs

Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas VII sampai dengan Kelas IX. Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran dengan ketentuan sebagai berikut.

  1. Kurikulum SMP/MTs memuat 10 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri seperti tertera pada Tabel 3.

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.

  1. Substansi mata pelajaran IPA dan IPS pada SMP/MTs merupakan “IPA Terpadu” dan “IPS Terpadu”.
  2. Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan  sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan.
  3. Alokasi waktu satu jam  pembelajaran adalah 40 menit.
  4. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu.

Struktur kurikulum SMP/MTs disajikan pada Tabel 3

Tabel 3.  Struktur Kurikulum SMP/MTs

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

VII VIII IX
A.        Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama 2 2 2
2.   Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3.   Bahasa Indonesia 4 4 4
4.   Bahasa Inggris 4 4 4
5.   Matematika 4 4 4
6.   Ilmu Pengetahuan Alam 4 4 4
7.   Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4
8.   Seni Budaya 2 2 2
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2
10. Keterampilan/Teknologi Informasi dan Komunikasi 2 2 2
B.   Muatan Lokal 2 2 2
C. Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*)
Jumlah 32 32 32

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

  1. 3. Struktur Kurikulum SMA/MA

Struktur kurikulum SMA/MA meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulai Kelas X sampai dengan Kelas XII. Struktur kurikulum disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.

Pengorganisasian kelas-kelas pada SMA/MA dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelas X merupakan program umum yang diikuti oleh seluruh peserta  didik, dan kelas XI dan XII merupakan program penjurusan yang terdiri atas empat program: (1) Program Ilmu Pengetahuan Alam, (2) Program Ilmu Pengetahuan Sosial, (3) Program Bahasa, dan (4) Program Keagamaan, khusus untuk MA.

a. Kurikulum SMA/MA Kelas X

1) Kurikulum SMA/MA Kelas X terdiri atas 16 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri seperti tertera pada Tabel 4.

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.

2) Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan  sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan.

3)    Alokasi waktu satu jam  pembelajaran adalah 45 menit.

4)    Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu.

Struktur kurikulum SMA/MA Kelas X disajikan pada Tabel 4

 

Tabel 4. Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas X

Komponen

Alokasi Waktu
Semester 1 Semester 2
A.   Mata Pelajaran    
  1. Pendidikan Agama
2 2
  1. Pendidikan Kewarganegaraan
2 2
  1. Bahasa  Indonesia
4 4
  1. Bahasa Inggris
4 4
  1. Matematika
4 4
6. Fisika 2 2
7. Biologi

8. Kimia

2

2

2

2

9. Sejarah

10. Geografi

11. Ekonomi

12. Sosiologi

1

1

2

2

1

1

2

2

13. Seni Budaya 2 2
14.  Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2
15.  Teknologi Informasi dan Komunikasi

16.  Keterampilan /Bahasa Asing

2

 

2

2

 

2

B.   Muatan Lokal 2 2
C.   Pengembangan Diri 2*) 2*)

Jumlah

38 38

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

 

 

 

 

 

  1. b. Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII

1)  Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII Program IPA, Program IPS, Program Bahasa, dan Program Keagamaan  terdiri atas 13 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. Kurikulum tersebut secara berturut-turut disajikan pada Tabel 5, 6, 7, dan 8.

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.

2) Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan  sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan.

3)      Alokasi waktu satu jam  pembelajaran adalah 45 menit.

4)      Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34-38 minggu.

 

Tabel 5. Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII program IPA

Komponen

Alokasi Waktu
Kelas XI Kelas XII
Smt 1 Smt 2 Smt 1 Smt 2
A.   Mata Pelajaran

  1. Pendidikan Agama
 

2

2 2 2
  1. Pendidikan Kewarganegaraan
2 2 2 2
  1. Bahasa Indonesia
4 4 4 4
  1. Bahasa Inggris
4 4 4 4
  1. Matematika
4 4 4 4
  1. Fisika
4 4 4 4
  1. Kimia
4 4 4 4
  1. Biologi
4 4 4 4
  1. Sejarah
1 1 1 1
10.  Seni Budaya 2 2 2 2
11.  Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2 2
12.  Teknologi Informasi dan Komunikasi 2 2 2 2
13.  Keterampilan/ Bahasa Asing 2 2 2 2
B.  Muatan Lokal 2 2 2 2
C.  Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*) 2*)

Jumlah

39 39 39 39

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

 

Tabel 6. Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII program IPS

 

Komponen

Alokasi Waktu
Kelas XI Kelas XII
Smt 1 Smt 2 Smt 1 Smt 2
A.  Mata Pelajaran

  1. Pendidikan Agama
 

2

 

2

 

2

 

2

  1. Pendidikan Kewarganegaraan
2 2 2 2
  1. Bahasa Indonesia
4 4 4 4
  1. Bahasa Inggris
4 4 4 4
  1. Matematika
4 4 4 4
  1. Sejarah
3 3 3 3
  1. Geografi
3 3 3 3
  1. Ekonomi
4 4 4 4
  1. Sosiologi
3 3 3 3
10.  Seni Budaya 2 2 2 2
11.  Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2 2
12.  Teknologi Informasi dan Komunikasi 2 2 2 2
13.  Keterampilan/Bahasa Asing 2 2 2 2
B.  Muatan Lokal 2 2 2 2
C.  Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*) 2*)

Jumlah

39 39 39 39

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

 

Tabel 7. Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas XI dan XII program Bahasa

Komponen

Alokasi Waktu
Kelas XI Kelas XII
Smt 1 Smt 2 Smt 1 Smt 2
A.    Mata Pelajaran

  1. Pendidikan Agama
2 2 2 2
  1. Pendidikan Kewarganegaraan
2 2 2 2
  1. Bahasa Indonesia
5 5 5 5
  1. Bahasa Inggris
5 5 5 5
  1. Matematika
3 3 3 3
  1. Sastra Indonesia
4 4 4 4
  1. Bahasa Asing
4 4 4 4
  1. Antropologi
2 2 2 2
  1. Sejarah
2 2 2 2
  1. Seni Budaya
2 2 2 2
  1. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
2 2 2 2
  1. Teknologi Informasi dan Komunikasi
2 2 2 2
  1. Keterampilan
2 2 2 2
B.   Muatan Lokal 2 2 2 2
C.   Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*) 2*)

Jumlah

39 39 39 39

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

 

 

 

Tabel 8. Struktur Kurikulum MA Kelas XI dan XII Program Keagamaan

Komponen

Alokasi Waktu
Kelas XI Kelas XII
Smt 1 Smt 2 Smt 1 Smt 2
A.    Mata Pelajaran

  1. Pendidikan Agama
2 2 2 2
  1. Pendidikan  Kewarganegaraan
2 2 2 2
  1. Bahasa Indonesia
4 4 4 4
  1. Bahasa Inggris
4 4 4 4
  1. Matematika
4 4 4 4
  1. Tafsir dan Ilmu Tafsir
3 3 3 3
  1. Ilmu Hadits
3 3 3 3
  1. Ushul Fiqih
3 3 3 3
  1. Tasawuf/ Ilmu Kalam
3 3 3 3
  1. Seni Budaya
2 2 2 2
  1. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan   Kesehatan
2 2 2 2
  1. Teknologi Informasi dan Komunikasi
2 2 2 2
  1. Keterampilan
2 2 2 2
B.   Muatan Lokal 2 2 2 2
C.   Pengembangan Diri 2*) 2*) 2*) 2*)

Jumlah

38 38 38 38

2 *) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

**) Ditentukan oleh Departemen Agama

  1. C. Struktur Kurikulum Pendidikan Kejuruan

Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan, mereka harus memiliki stamina yang tinggi, menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, serta memiliki kemampuan mengembangkan diri. Struktur kurikulum pendidikan kejuruan dalam hal ini Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib, mata pelajaran Kejuruan, Muatan Lokal, dan Pengembangan Diri seperti tertera pada Tabel 9.

Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa, Matematika, IPA, IPS, Seni dan Budaya, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, dan Keterampilan/Kejuruan. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja.

Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya.

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas, potensi daerah, dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan.

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pembentukan karier peserta didik. Pengembangan diri bagi peserta didik SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier.

Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.

Struktur kurikulum SMK/MAK disajikan pada Tabel 9.

 

Tabel 9. Struktur Kurikulum SMK/MAK

Komponen Durasi Waktu (Jam)
A. Mata Pelajaran  
1.  Pendidikan Agama 192
2.  Pendidikan Kewarganegaraan 192
3.  Bahasa Indonesia 192
4.  Bahasa Inggris 440 a)
5.  Matematika

5. 1  Matematika Kelompok Seni, Pariwisata,           dan Teknologi Kerumahtanggaan

5. 2  Matematika Kelompok Sosial, Administrasi Perkantoran dan Akuntansi

5. 3  Matematika Kelompok Teknologi,
Kesehatan, dan Pertanian

 

 

330 a)

 

 

403 a)

516 a)

6.  Ilmu Pengetahuan Alam

6. 1  IPA

6. 2  Fisika

6. 2. 1  Fisika Kelompok Pertanian

6. 2. 2  Fisika Kelompok Teknologi

6. 3  Kimia

6. 3. 1  Kimia Kelompok Pertanian

6. 3. 2  Kimia Kelompok Teknologi dan
Kesehatan

6. 4  Biologi

6. 4. 1  Biologi Kelompok Pertanian

6. 4. 2  Biologi Kelompok Kesehatan

 

 

192 a)

 

192 a)

276 a)

 

 

192 a)

192 a)

 

 

 

192 a)

192 a)

7.  Ilmu Pengetahuan Sosial 128 a)
8.  Seni Budaya 128 a)
9.  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan 192
  1. Kejuruan
 
10. 1     Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi 202
10. 2     Kewirausahaan 192
10. 3     Dasar Kompetensi Kejuruan b) 140
10. 4     Kompetensi Kejuruan b) 1044 c)
B.  Muatan Lokal 192
C.  Pengembangan Diri d) (192)

Keterangan notasi

a) Durasi waktu adalah jumlah jam minimal yang digunakan oleh setiap program keahlian. Program keahlian yang memerlukan waktu lebih jam tambahannya diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sama, di luar jumlah jam yang dicantumkan.

b) Terdiri dari berbagai mata pelajaran yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan setiap program keahlian.

c) Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam.

d) Ekuivalen 2 jam pembelajaran.

 

Implikasi dari struktur kurikulum di atas dijelaskan sebagai berikut.

  1. Di dalam penyusunan kurikulum SMK/MAK mata pelajaran dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok normatif, adaptif, dan produktif. Kelompok normatif adalah mata pelajaran yang dialokasikan secara tetap yang meliputi Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, dan Seni Budaya. Kelompok adaptif terdiri atas mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi, dan Kewirausahaan. Kelompok produktif terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang dikelompokkan dalam Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan. Kelompok adaptif dan produktif adalah mata pelajaran yang alokasi waktunya disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian, dan dapat diselenggarakan dalam blok waktu atau alternatif lain.
  2. Materi pembelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan dan Kompetensi Kejuruan disesuaikan dengan kebutuhan program keahlian untuk memenuhi standar kompetensi kerja di dunia kerja.
  3. Evaluasi pembelajaran dilakukan setiap akhir penyelesaian satu standar kompetensi atau beberapa penyelesaian kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran.
  4. Pendidikan SMK/MAK diselenggarakan dalam bentuk pendidikan sistem ganda.
  5. Alokasi waktu satu jam pelajaran tatap muka adalah 45 menit.
  6. Beban belajar SMK/MAK meliputi kegiatan pembelajaran tatap muka, praktik di sekolah dan kegiatan kerja praktik di dunia usaha/industri ekuivalen dengan 36 jam pelajaran per minggu.
  7. Minggu efektif penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK adalah 38 minggu dalam satu tahun pelajaran.
  8. Lama penyelenggaraan pendidikan SMK/MAK tiga tahun, maksimum empat tahun sesuai dengan tuntutan program keahlian.
  9. D. Struktur Kurikulum Pendidikan Khusus

Struktur Kurikulum dikembangkan untuk peserta didik berkelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan/atau sosial berdasarkan standar kompetensi lulusan, standar kompetensi kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi mata pelajaran. Peserta didik berkelainan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, (1) peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata, dan (2) peserta didik berkelainan disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata.

Kurikulum Pendidikan Khusus terdiri atas delapan sampai dengan 10 mata pelajaran, muatan lokal, program khusus, dan pengembangan diri.

Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.

Program khusus berisi kegiatan yang bervariasi sesuai degan jenis ketunaannya, yaitu program orientasi dan mobilitas untuk peserta didik tunanetra, bina komunikasi persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik tunarungu, bina diri untuk peserta didik tunagrahita, bina gerak untuk peserta didik tunadaksa, dan bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras.

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

Peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata, dalam batas-batas tertentu masih dimungkinkan dapat mengikuti kurikulum standar meskipun harus dengan penyesuaian-penyesuaian. Peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata, diperlukan kurikulum yang sangat spesifik, sederhana dan bersifat tematik untuk mendorong kemandirian dalam hidup sehari-hari.

Peserta didik berkelainan tanpa disertai kemampuan intelektual di bawah rata-rata, yang berkeinginan untuk melanjutkan sampai ke jenjang pendidikan tinggi, semaksimal mungkin didorong untuk dapat mengikuti pendidikan secara inklusif pada satuan pendidikan umum sejak Sekolah Dasar. Jika peserta didik mengikuti pendidikan pada satuan pendidikan SDLB, setelah lulus, didorong untuk dapat melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama umum. Bagi mereka yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, setelah menyelesaikan pada jenjang SDLB dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMPLB, dan SMALB.

Untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik yang memerlukan pindah jalur pendidikan antar satuan pendidikan yang setara sesuai dengan ketentuan pasal. 12 ayat (1).e Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka mekanisme pendidikan bagi peserta didik melalui jalur formal dapat dilukiskan sebagai berikut :

 

 

 

SDLB               SMPLB                SMALB                 Masyarakat.

Jalur 1

ALB/ABK

Jalur 2

SD/MI              SMP/MTs. SMA/MA               PT/Masyarakat

SMK/MAK

 

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, struktur kurikulum satuan Pendidikan Khusus dikembangkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

  1. Kurikulum untuk peserta didik berkelainan tanpa disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata, menggunakan sebutan Kurikulum SDLB A, B, D, E; SMPLB A , B, D, E; dan SMALB A, B, D, E (A = tunanetra, B = tunarungu, D = tunadaksa ringan, E = tunalaras).
  2. Kurikulum untuk peserta didik berkelainan yang disertai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata, menggunakan sebutan Kurikulum SDLB C, C1, D1, G; SMPLB C, C1, D1, G, dan SMALB C, C1, D1, G.  (C = tunagrahita ringan, C1 = tunagrahita sedang, D1 = tunadaksa sedang, G = tunaganda).
  3. Kurikulum satuan pendidikan SDLB A,B,D,E relatif sama dengan kurikulum SD umum. Pada satuan pendidikan SMPLB A,B,D,E dan SMALB A,B,D,E dirancang untuk peserta didik yang tidak memungkinkan dan/atau tidak berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang pendidikan tinggi.
  4. Proporsi muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMPLB A,B,D,E terdiri atas 60% – 70% aspek akademik dan 40% – 30% berisi aspek keterampilan vokasional. Muatan isi kurikulum satuan pendidikan SMALB A,B,D,E  terdiri atas 40% – 50% aspek akademik dan 60% – 50% aspek keterampilan vokasional.
  5. Kurikulum satuan pendidikan SDLB, SMPLB, SMALB C,C1,D1,G, dirancang sangat sederhana sesuai dengan batas-batas kemampuan peserta didik dan sifatnya lebih individual.
  6. Pembelajaran untuk satuan Pendidikan Khusus SDLB, SMPLB dan SMALB C,C1,D1,G menggunakan pendekatan tematik.
  7. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran umum SDLB, SMPLB, SMALB A,B,D,E mengacu kepada SK dan KD sekolah umum yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus peserta didik, dikembangkan oleh BSNP, sedangkan SK dan KD untuk mata pelajaran Program Khusus, dan Keterampilan dikembangkan oleh satuan Pendidikan Khusus dengan memperhatikan jenjang dan jenis satuan pendidikan.
  8. Pengembangan SK dan KD untuk semua mata pelajaran pada SDLB, SMPLB dan SMALB C,C1,D1,G diserahkan kepada satuan Pendidikan Khusus yang bersangkutan dengan memperhatikan tingkat dan jenis satuan pendidikan.
  9. Struktur kurikulum pada satuan Pendidikan Khusus SDLB dan SMPLB mengacu pada Struktur Kurikulum SD dan SMP dengan penambahan Program Khusus sesuai jenis kelainan, dengan alokasi waktu 2 jam/minggu. Untuk jenjang SMALB, program khusus bersifat kasuistik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik tertentu, dan tidak dihitung sebagai beban belajar.

10.  Program Khusus sesuai jenis kelainan peserta didik meliputi sebagai berikut.

  1. Orientasi dan Mobilitas untuk peserta didik Tunanetra
  2. Bina Komunikasi, Persepsi Bunyi dan Irama untuk peserta didik Tunarungu
  3. Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang
  4. Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan
  5. Bina Pribadi dan Sosial untuk peserta didik Tunalaras
  6. Bina Diri dan Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang, dan Tunaganda.

11.  Jumlah dan alokasi waktu jam pembelajaran diatur sebagai berikut.

  1. Jumlah jam pembelajaran SDLB A,B,D,E kelas I, II, III berkisar antara 28 – 30 jam pembelajaran/minggu dan 34 jam pembelajaran/minggu untuk kelas IV, V, VI. Kelebihan 2 jam pembelajaran dari SD umum karena ada tambahan mata pelajaran program khusus
  2. Jumlah jam pembelajaran SMPLB A,B,D,E kelas VII, VIII, IX adalah 34 jam/minggu. Kelebihan 2 jam pembelajaran dari SMP umum karena ada penambahan mata pelajaran program khusus
  3. Jumlah jam pembelajaran SMALB A,B,D,E kelas X, XI, XII adalah 36 jam/minggu, sama dengan jumlah jam pembelajaran SMA umum. Program khusus pada jenjang SMALB bersifat fakultatif dan tidak termasuk beban pembelajaran
  4. Jumlah jam pembelajaran SDLB, SMPLB, SMALB C,C1,D1,G sama dengan jumlah jam pembelajaran pada SDLB, SMPLB, SMALB A,B,D,E,  tetapi penyajiannya melalui pendekatan  tematik
  5. Alokasi per jam pembelajaran untuk SDLB, SMPLB dan SMALB A, B, D, E maupun C,C1,D1,G masing-masing 30’, 35’ dan 40’. Selisih 5 menit dar sekolah reguler disesuaikan dengan kondisi peserta didik berkelainan.
  6. Satuan pendidikan khusus SDLB dan SMPLB dapat menambah maksimum 6 jam pembelajaran/minggu untuk keseluruhan  jam pembelajaran, dan 4 jam pembelajaran untuk tingkat SMALB sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan yang bersangkutan.

 

12. Muatan isi pada setiap mata pelajaran diatur sebagai berikut .

  1. Muatan isi setiap mata pelajaran pada SDLB A,B,D,E pada dasarnya sama dengan SD umum, tetapi karena kelainan dan kebutuhan khususnya, maka diperlukan modifikasi dan/atau penyesuaian secara terbatas
  2. Muatan isi mata pelajaran Program Khusus disusun tersendiri oleh satuan pendidikan
  3. Muatan isi mata pelajaran SMPLB A,B,D,E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMP umum sehingga menjadi sekitar 60% – 70%. Sisanya sekitar 40% – 30% muatan isi kurikulum ditekankan pada bidang keterampilan vokasional
  4. Muatan isi mata pelajaran keterampilan vokasional meliputi tingkat dasar, tingkat terampil dan tingkat mahir. Jenis keterampilan yang akan dikembangkan, diserahkan kepada satuan pendidikan sesuai dengan minat, potensi, kemampuan dan kebutuhan peserta didik serta kondisi satuan pendidikan.

e. Muatan isi mata pelajaran untuk SMALB A,B,D,E bidang akademik mengalami modifikasi dan penyesuaian dari SMA umum sehingga menjadi sekitar 40% – 50% bidang akademik, dan sekitar 60% – 50% bidang keterampilan vokasional

f. Muatan kurikulum SDLB, SMPLB, SMALB C,C1,D1,G lebih ditekankan pada kemampuan menolong diri sendiri dan keterampilan sederhana yang memungkinkan untuk menunjang kemandirian peserta didik. Oleh karena itu, proporsi muatan keterampilan vokasional lebih diutamakan

  1. g. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik. Pengembangan diri terutama ditujukan untuk peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.

13. Struktur Kurikulum SDLB, SMPLB, SMALB A,B,D,E dan C, C1, D1, G disajikan pada tabel 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23 dan 24.

 

Tabel 10. Struktur Kurikulum SDLB Tunanetra

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

I II III IV, V, dan VI
A.    Mata Pelajaran       3
1.    Pendidikan Agama
2.    Pendidikan Kewarganegaraan 2
3.    Bahasa Indonesia 5
4.    Matematika 5
5.    Ilmu Pengetahuan Alam 4
6.    Ilmu Pengetahuan Sosial 3
7.    Seni Budaya dan Keterampilan 4
8.    Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 4
B.   Muatan Lokal 2
C.   Program Khusus Orientasi dan Mobilitas 2
D.   Pengembangan Diri 2*)
Jumlah: 28 29 30 34

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran


Tabel 11. Struktur Kurikulum SDLB Tunarungu

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

I II III IV, V, dan VI
A.  Mata Pelajaran       3
1.    Pendidikan Agama
2.    Pendidikan Kewarganegaraan 2
3.    Bahasa Indonesia 5
4.    Matematika 5
5.    Ilmu Pengetahuan Alam 4
6.    Ilmu Pengetahuan Sosial 3
7.    Seni Budaya dan Keterampilan 4
8.    Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 4
B.   Muatan Lokal 2
C.   Program Khusus Bina Komunikasi, Persepsi Bunyi & Irama 2
D.   Pengembangan Diri 2*)
Jumlah: 28 29 30 34

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

 

 

 


Tabel 12. Struktur Kurikulum SDLB Tunadaksa

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

I II III IV, V, dan VI
A.   Mata Pelajaran       3
1.    Pendidikan Agama
2.    Pendidikan Kewarganegaraan 2
3.    Bahasa Indonesia 5
4.    Matematika 5
5.    Ilmu Pengetahuan Alam 4
6.    Ilmu Pengetahuan Sosial 3
7.    Seni Budaya dan Keterampilan 4
8.    Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 4
B.   Muatan Lokal 2
C.   Program Khusus Bina Gerak 2
D.   Pengembangan Diri 2*)
Jumlah: 28 29 30 34

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran


Tabel 13.  Struktur Kurikulum SDLB Tunalaras

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

I II III IV, V, dan VI
A.   Mata Pelajaran       3
1.    Pendidikan Agama
2.    Pendidikan Kewarganegaraan 2
3.    Bahasa Indonesia 5
4.    Matematika 5
5.    Ilmu Pengetahuan Alam 4
6.    Ilmu Pengetahuan Sosial 3
7.    Seni Budaya dan Keterampilan 4
8.    Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 4
B.   Muatan Lokal 2
C.   Program Khusus Bina Pribadi dan Sosial 2
D.   Pengembangan Diri 2*)
Jumlah: 28 29 30 34

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran


Tabel 14.  Struktur Kurikulum SMPLB Tunanetra

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

VII VIII IX
A.        Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama 2 2 2
2.   Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3.   Bahasa Indonesia 2 2 2
4.   Bahasa Inggris 2 2 2
5.   Matematika 3 3 3
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial 2 2 2
7.   Ilmu Pengetahuan Alam 3 3 3
8.   Seni Budaya 2 2 2
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. 2 2 2
10. Keterampilan Vokasional /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 10 10 10
B.          Muatan Lokal 2 2 2
C.   Program Khusus Orientasi & Mobilitas 2 2 2
D.   Pengembangan Diri 2**) 2**) 2**)
Jumlah 34 34 34

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan, diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

2**) Ekuivalen 2 jam pembelajaran
Tabel 15.  Struktur Kurikulum SMPLB Tunarungu

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

VII VIII IX
A.          Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama 2 2 2
2.   Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3.   Bahasa Indonesia 2 2 2
4.   Bahasa Inggris 2 2 2
5.   Matematika 3 3 3
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial 2 2 2
7.   Ilmu Pengetahuan Alam 3 3 3
8.   Seni Budaya 2 2 2
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. 2 2 2
10. Keterampilan Vokasional /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 10 10 10
B.          Muatan Lokal 2 2 2
C.   Program Khusus Bina Komunikasi, Persepsi Bunyi & Irama 2 2 2
D.   Pengembangan Diri 2**) 2**) 2**)
Jumlah 34 34 34

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan, diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

2**) Ekuivalen 2 jam pembelajaran
Tabel 16.  Struktur Kurikulum SMPLB Tunadaksa

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

VII VIII IX
A.          Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama 2 2 2
2.   Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3.   Bahasa Indonesia 2 2 2
4.   Bahasa Inggris 2 2 2
5.   Matematika 3 3 3
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial 2 2 2
7.   Ilmu Pengetahuan Alam 3 3 3
8.   Seni Budaya 2 2 2
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2
10. Keterampilan Vokasional /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 10 10 10
B.          Muatan Lokal 2 2 2
C.   Program Khusus  Bina Gerak 2 2 2
D.   Pengembangan Diri 2**) 2**) 2**)
Jumlah 34 34 34

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan, diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

2**) Ekuivalen 2 jam pembelajaran
Tabel 17.  Struktur Kurikulum SMPLB Tunalaras

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

VII VIII IX
A.          Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama 2 2 2
2.   Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3.   Bahasa Indonesia 2 2 2
4.   Bahasa Inggris 2 2 2
5.   Matematika 3 3 3
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial 2 2 2
7.   Ilmu Pengetahuan Alam 3 3 3
8.   Seni Budaya 2 2 2
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2
10. Keterampilan Vokasional /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 10 10 10
B.          Muatan Lokal 2 2 2
C.   Program Khusus Bina Pribadi dan Sosial 2 2 2
D.   Pengembangan Diri 2**) 2**) 2**)
Jumlah 34 34 34

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan, diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

2**) Ekuivalen 2 jam pembelajaran
Tabel 18. Struktur Kurikulum SMALB Tunanetra

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

X XI XII
A.          Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama 2 2 2
2.   Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3.   Bahasa Indonesia 2 2 2
4.   Bahasa Inggris 2 2 2
5.   Matematika 2 2 2
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial 2 2 2
7.   Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 2
8.   Seni Budaya 2 2 2
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2
10. Keterampilan Vokasional /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 16 16 16
B.          Muatan Lokal 2 2 2
C.  Program Khusus Orientasi dan Mobilitas - - -
D.  Pengembangan Diri 2**) 2**) 2**)
Jumlah 36 36 36

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan, diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

2**) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

 

 

 


Tabel 19.  Struktur Kurikulum SMALB Tunarungu

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

X XI XII
A.          Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama 2 2 2
2.   Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3.   Bahasa Indonesia 2 2 2
4.   Bahasa Inggris 2 2 2
5.   Matematika 2 2 2
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial 2 2 2
7.   Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 2
8.   Seni Budaya 2 2 2
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2
10. Keterampilan Vokasional /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 16 16 16
B.   Muatan Lokal 2 2 2
C.   Program Khusus Bina Komunikasi, Persepsi Bunyi dan Irama - - -
D.   Pengembangan Diri 2**) 2**) 2**)
Jumlah 36 36 36

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan,  diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

2**) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

 

 


Tabel 20. Struktur Kurikulum SMALB Tunadaksa

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

X XI XII
A.        Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama 2 2 2
2.   Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3.   Bahasa Indonesia 2 2 2
4.   Bahasa Inggris 2 2 2
5.   Matematika 2 2 2
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial 2 2 2
7.   Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 2
8.   Seni Budaya 2 2 2
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2
10. Keterampilan Vokasional /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 16 16 16
B.  Muatan Lokal 2 2 2
C.  Program Khusus Bina Gerak - - -
D.  Pengembangan Diri 2**) 2**) 2**)
Jumlah 36 36 36

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan, diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

2**) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

 

 

 


Tabel 21.  Struktur Kurikulum SMALB Tunalaras

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

X XI XII
A.        Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama 2 2 2
2.   Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2
3.   Bahasa Indonesia 2 2 2
4.   Bahasa Inggris 2 2 2
5.   Matematika 2 2 2
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial 2 2 2
7.   Ilmu Pengetahuan Alam 2 2 2
8.   Seni Budaya 2 2 2
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 2 2 2
10. Keterampilan Vokasiopnal /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 16 16 16
B.        Muatan Lokal 2 2 2
C. Program Khusus Bina Pribadi dan Sosial - - -
D. Pengembangan Diri 2**) 2**) 2**)
Jumlah 36 36 36

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan, diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

2**) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

 

 

 

 

14. Struktur Kurikulum SDLB, SMPLB, dan SMALB C,C1,D1,G

Struktur kurikulum satuan pendidikan khusus tingkat SDLB, SMPLB dan SMALB C,C1,D1 dan G merupakan satu rumpun yang relatif sama antara satu jenis kelainan dengan jenis kelainan yang lain. Karena itu di bawah ini disajikan tabel struktur kurikulum untuk SDLB C,C1,D1,G, SMPLB C,C1,D1,G  dan SMALB C, C1, D1, G sebagai berikut.

Tabel 22. Struktur Kurikulum SDLB Tunagrahita Ringan,  Tunagrahita Sedang, Tunadaksa Sedang , dan Tunaganda

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

I, II, dan  III IV, V, dan VI
A.  Mata Pelajaran 29 – 32

(Pendekatan tematik)

 

 

 

30

(Pendekatan tematik)

 

 

 

 

1.    Pendidikan Agama
2.    Pendidikan Kewarganegaraan
3.    Bahasa Indonesia
4.    Matematika
5.    Ilmu Pengetahuan Alam
6.    Ilmu Pengetahuan Sosial
7.    Seni Budaya dan Keterampilan
8.    Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
B.  Muatan Lokal 2
C. Program Khusus *) 2
D.  Pengembangan Diri 2*)
Jumlah: 29 – 32 34

*) Disesuaikan dengan kelainan dan kebutuhan peserta didik

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran


Tabel 23.   Struktur Kurikulum SMPLB Tunagrahita Ringan, Tunagrahita Sedang, Tunadaksa Sedang, dan Tunaganda

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

VII VIII IX
A.        Mata Pelajaran  

 

10

(Pende-katan tematik)

 

 

10

(Pende-katan tematik)

 

 

10

(Pende-katan tematik)

1.   Pendidikan Agama
2.   Pendidikan Kewarganegaraan
3.   Bahasa Indonesia
4.   Bahasa Inggris
5.   Matematika
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial
7.   Ilmu Pengetahuan Alam
8.   Seni Budaya
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
10. Keterampilan Vokasional /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 20 20 20
B.        Muatan Lokal 2 2 2
C. Program Khusus **) 2 2 2
D. Pengembangan Diri 2***) 2***) 2***)
Jumlah 36 36 36

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan, diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

**)    Disesuaikan dengan kelainan dan kebutuhan peserta didik

2***) Ekuivalen 2 jam pembelajaran


Tabel 24. Struktur Kurikulum SMALB Tunagrahita Ringan, Tunagrahita Sedang, Tunadaksa Sedang, dan Tunaganda.

 

 

Komponen

Kelas dan Alokasi Waktu

VII VIII IX
A.        Mata Pelajaran      
1.   Pendidikan Agama  

 

10

(Pende-katan Tematik)

 

 

10

(Pende-katan Tematik)

 

 

10

(Pende-katan Tematik)

2.   Pendidikan Kewarganegaraan
3.   Bahasa Indonesia
4.   Bahasa Inggris
5.   Matematika
6.   Ilmu Pengetahuan Sosial
7.   Ilmu Pengetahuan Alam
8.   Seni Budaya
9.   Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
10. Keterampilan Vokasional /Teknologi Informasi dan Komunikasi *) 24 24 24
B.        Muatan Lokal 2 2 2
C. Program Khusus **) - - -
D. Pengembangan Diri 2***) 2***) 2***)
Jumlah 36 36 36

*) Keterampilan vokasional/teknologi informasi dan komunikasi merupakan paket pilihan. Jenis keterampilan vokasional/teknologi informasi yang dikembangkan, diserahkan kepada sekolah sesuai potensi daerah.

**)    Disesuaikan dengan kelainan dan kebutuhan peserta didik

2***) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

  1. E. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar pada setiap tingkat dan/atau semester. Standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran pada setiap tingkat dan semester disajikan pada lampiran-lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional ini yang terdir atas: Lampiran 1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dan SDLB, Lampiran 2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMP/MTs dan SMPLB, dan Lampiran 3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK.

 

BAB III

BEBAN BELAJAR

Satuan pendidikan pada semua jenis dan jenjang pendidikan menyelenggarakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket atau sistem kredit semester. Kedua sistem tersebut dipilih berdasarkan jenjang dan kategori satuan pendidikan yang bersangkutan.

Satuan pendidikan SD/MI/SDLB melaksanakan program pendidikan dengan menggunakan sistem paket. Satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori standar menggunakan sistem paket atau dapat menggunakan sistem kredit semester. Satuan pendidikan SMA/MA/SMALB dan SMK/MAK kategori mandiri menggunakan sistem kredit semester.

Beban belajar yang diatur pada ketentuan ini adalah beban belajar sistem paket pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada Sistem Paket  dinyatakan dalam  satuan jam pembelajaran.

Beban belajar dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Semua itu dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik.

Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada masing-masing satuan pendidikan ditetapkan sebagai berikut:

  1. SD/MI/SDLB berlangsung selama 35 menit;
  2. SMP/MTs/SMPLB berlangsung selama 40 menit;
  3. SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK berlangsung selama 45 menit.

Beban belajar kegiatan tatap muka per minggu pada setiap satuan pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Jumlah jam pembelajaran tatap muka per minggu untuk SD/MI/SDLB:

1)      Kelas I s.d. III adalah 29 s.d. 32 jam pembelajaran;

2)      Kelas IV s.d. VI adalah 34 jam pembelajaran.

  1. Jumlah jam pembelajaran tatap muka per minggu untuk SMP/MTs/SMPLB adalah 34 jam pembelajaran.

c. Jumlah jam pembelajaran tatap muka per minggu untuk SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK adalah 38 s.d. 39  jam pembelajaran.

 

Beban belajar kegiatan tatap muka keseluruhan untuk setiap satuan pendidikan adalah sebagaimana tertera pada Tabel 25

Tabel 25. Beban Belajar Kegiatan Tatap Muka Keseluruhan untuk setiap Satuan Pendidikan

Satuan Pendidikan Kelas Satu jam pemb. tatap muka (menit) Jumlah jam pemb. Per minggu Minggu Efektif per tahun ajaran Waktu pembelajaran per tahun Jumlah jam per tahun (@60 menit)
SD/MI/ SDLB*) I s.d. III 35

 

26-28 34-38 884-1064 jam pembelajaran

(30940 – 37240

menit)

 

516-621
IV s.d. VI  

35

 

32 34-38 1088-1216 jam pembelajaran

(38080 – 42560

menit

 

 

635-709
SMP/MTs/ SMPLB*) VII s.d. IX 40 32 34-38 1088 – 1216 jam pembelajaran

(43520 – 48640

menit)

725-811
SMA/MA/ SMALB*) X s.d. XII 45 38-39 34-38 1292-1482 jam pembelajaran

(58140 – 66690

menit)

969-1111,5
SMK/MAK X s.d XII 45 36 38 1368 jam pelajaran

(61560 menit)

1026

(standar minimum)

 

*) Untuk SDLB SMPLB, SMALB alokasi waktu jam pembelajaran tatap muka dikurangi 5  menit

Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik.

Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.

 

Beban belajar  penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur terdiri dari:

  1. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SD/MI/SDLB maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.
  2. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.
  3. Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

Penyelesaian program pendidikan dengan menggunakan sistem paket adalah enam tahun untuk SD/MI/SDLB, tiga tahun untuk SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMALB, dan tiga sampai dengan empat tahun untuk SMK/MAK. Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Sistem kredit semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan  mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam  satuan kredit semester (sks). Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka, satu jam penugasan terstruktur, dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur. Panduan tentang sistem kredit semester diuraikan secara khusus dalam dokumen tersendiri.

 

 

BAB IV

KALENDER PENDIDIKAN

 

Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.

 

A.  Alokasi Waktu

Permulaan tahun pelajaran  adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.

Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran  untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.

Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.

Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.

Alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur dan kegiatan lainnya tertera pada Tabel 26.

Tabel 26. Alokasi Waktu pada Kelender Pendidikan

 

No Kegiatan Alokasi Waktu Keterangan
Minggu efektif  belajar Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan
Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Satu minggu setiap semester
Jeda antarsemester Maksimum 2 minggu

 

Antara semester I dan II
Libur akhir tahun pelajaran Maksimum 3 minggu Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran
Hari libur keagamaan 2 – 4 minggu Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif
Hari libur umum/nasional Maksimum 2 minggu Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah
Hari libur khusus Maksimum 1 minggu Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing
Kegiatan khusus sekolah/madrasah Maksimum 3 minggu Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif

 

 

B.  Penetapan Kalender Pendidikan

1.  Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.

2.   Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.

3.   Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan.

  1. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah.

 

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

TTD.

BAMBANG SUDIBYO

 

 

 

RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER (RPS)

JURUSAN FISIKA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI MALANG

 

  1. A. IDENTITAS MATKULIAH
    1. Matakuliah                                        : Pengembangan Bahan Ajar Fisika
    2. Sandi                                                 : FIP 442
    3. Kredit/jam semester                          : 3/4
    4. Mahasiswa Sasaran                           : S-1 Prodi Pendidikan Fisika
    5. Kelompok/Sifat Matakuliah             : MKB/wajib
    6. Matakuliah Prasayarat                      : Kapita Fisika Sekolah
    7. Nama Dosen Pengampu                   :  Sentot Kusairi, M. Si.

 

  1. B. STANDAR KOMPETENSI

Mahasiswa mampu mengembangkan dan mendesain bahan ajar fisika SMP/SMA

 

  1. C. KOMPETENSI DASAR
  2. Menjelaskan prinsip-prinsip pengembangan bahan ajar
  3. Menjelaskan kerangka dasar kurikulum dan komponen KTSP
  4. Menganalisis kompetensi dasar pada standar isi KTSP
  5. Mengenali karakteristik silabus pembelajar
  6. Mengenali karakteristik RPP
  7. Menjelaskan dimensi pengetahuan dan dampaknya terhadap pembelajaran
  8. Menjelaskan dimensi proses kognitif dan dampaknya terhadap pembelajaran
  9. Menganalisis KD dengan menggunakan tabel taksonomi
  10. Menjabarkan KD menjadi indikator pembelajaran

10.  Memilih bahan ajar fisika

11.  Membuat peta konsep untuk penyusunan bahan ajar

12.  Menganalisis miskonsepsi pada bahan ajar

13.  Menentukan lingkup kedalaman dan keluasan bahan ajar

14.  Mengembangkan LKS

15.  Menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan bahan ajar

16.  Menjelaskan teknik penyusunan modul

17.  Mengembangkan bahan ajar fisika

18.  Menjelaskan bahan ajar fisika dalam praktek pembelajaran

 

 

 

  1. D. RINCIAN KEGIATAN
Pertemuan ke/Tgl No KD Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran Tugas Terstruktur
1 Pendahuluan, rencana perkuliahan
2 1 Prinsip pengembangan bahan ajar
  • Menelaah prinsip pengembangan bahan ajar fisika
  • Menjabarkan langkah-langkah pengembangan bahan ajar
 

 

3 1 KTSP
  • Diskusi KTSP
  • Menjabarkan kerangka  dan komponen kurikulum
Membuat Rangkuman KTSP
4 2 Karakteristik Kompetensi dasar pada standar isi KTSP
  • · Mengidentifikasi KD pada standar isi
  • · Diskusi karakteristik KD pada mata pelajaran fisika
5 3 Pengenalan Silabus
  • · Diskusi contoh silabus pembelajaran fisika dan fungsinya
  • · Mengenali komponen dan karakteristik silabus
 
6 4 Pengenalan RPP
  • · Diskusi contoh RPP fisika dan fungsinya
  • · Mengenali komponen dan karakteristik RPP
  • · Membagi KD pada standar isi sesuai jumlah mahasiswa (1 KD/mahasiswa)
 
7 5 Dimensi Pengetahuan dan dimensi proses kognitif

 

  • · Diskusi dan menganalisis salah satu KD menjadi dimensi pengetahuan dan proses kognitif
  • · Menganalisis KD masing-masing
Menganalisis KD masing-masing berdasarkan dimensi pengetahuan

dan dimensi proses kognitif

8 6 Dampak dimensi pengetahuan dan Proses Kognitif  pada KD terhadap terhadap pembelajaran
  • · Mempresentasikan hasil analisis KD
  • · Diskusi dan refleksi hasil analisis yang dipresentasikan
  • · Diskusi dampak dimensi pengetahuan dan Proses Kognitif  pada KD terhadap terhadap pembelajaran
9 7 Analisis KD dengan Tabel Taxonomy
  • · Diskusi cara menganalisis KD dengan tabel taksonomi dan kaitannya dengan indikator
  • · Menganalisis KD dengan tabel taksonomi
Menganalisis KD dengan tabel taxonomy
10 8 Penyusunan Indikator pembelajaran
  • · Menganalisis contoh indikator pembelajaran
  • · Diskusi teknik merumuskan indikator
Merumuskan  Indikator pembelajaran sesuai KD masing-masing
11 8 Penyusunan Indikator pembelajaran
  • · Mempresentasikan rumusan indikator yang telah disusun
  • · Diskusi dan refleksi rumusan indikator yang dipresentasikan
12 9 Pemilihan Bahan Ajar
  • · Diskusi teknik memilih bahan ajar  yang sesuai dengan KD dengan menggunakan buku ajar
 
13 9 Pemilihan Bahan Ajar
  • · Diskusi kelompok memilih bahan ajar fisika sesuai SK dan KD
 
14 10 Peta konsep
  • · Menganalisis contoh peta konsep
  • · Diskusi teknik menyusun peta konsep
Menyusun Peta Konsep sesuai KD masing-masing
15 10 Peta konsep
  • · Mempresentasikan peta konsep yang telah disusun
  • · Diskusi dan refleksi peta konsep yang dipresentasikan
16 11 Miskonsepsi pada bahan ajar fisika
  • · Menganalisis contoh konsep dan miskonsepsi pada bahan ajar fisika
  • · Diskusi teknik menghindari terjadinya miskonsepsi pada bahan ajar fisika
17 12 Penentuan lingkup kedalaman dan keluasan bahan ajar
  • · Menganalisis kedalaman dan keluasan bahan ajar berdasarkan KD pada buku sekolah
18 12 Penentuan lingkup kedalaman dan keluasan bahan ajar
  • · Diskusi teknik menentukan kedalaman dan keluasan bahan ajar yang sesuai dengan KD
19 13 LKS yang menumbuhkan kemampuan berpikir siswa
  • · Menganalisis contoh LKS
  • · Membandingkan LKS yang dicetak penerbit
  • · Diskusi tentang karakteristik LKS yang menumbuhkan kemampuan berpikir
  • · Membuat LKS
Menyusun LKS sesuai KD masing-masing
20 13 LKS yang menumbuhkan kemampuan berpikir siswa
  • · Mengevaluasi dan merefleksi kemajuan penyusunan LKS
  • · Membuat LKS
21 14 Media pembelajaran Diskusi cara menentukan dan menggunakan media pembelajaran sesuai dengan LKS dan karakteristik bahan ajar
22 15 Kaidah Penulisan Modul

 

Diskusi sistematika dan teknik penulisan modul  
23 16 Pengembangan bahan ajar fisika
  • · Membuat bahan ajar fisika
  • · Diskusi kemajuan proses pembuatan bahan ajar
  • · Mengevaluasi dan refleksi penulisan bahan ajar

 

Menyusun bahan ajar fisika untuk 1 KD
24 16 Pengembangan bahan ajar fisika
25 16 Pengembangan bahan ajar fisika
26 16 Pengembangan bahan ajar fisika
27 16 Pengembangan bahan ajar fisika
28 16 Pengembangan Evaluasi Bahan Ajar fisika Diskusi cara membuat kisi-kisi soal, butir soal dan kunci jawaban sesuai dengan dimensi pengetahuan dan proses kognitif
29 17 Fisika Sekolah (SMP/SMA) Menyajikan bahan ajar fisika

Peer evaluation

Menyusun bahan ajar fisika untuk 1 topik
30 17 Fisika Sekolah (SMP/SMA) Menyajikan bahan ajar fisika

Peer evaluation

31 17 Fisika Sekolah (SMP/SMA) Menyajikan bahan ajar fisika

Peer evaluation

32 Refleksi dan evaluasi Perkuliahan Diskusi dan mengisi angket  
UJIAN AKHIR SEMESTER

 

  1. EVALUASI
  2. Diskusi dan Partisipasi pembelajaran (10%) = X1
  3. Penyusunan Indikator Pembelajaran (10%) = X2
  4. Penyusunan Peta Konsep (15%) = X3
  5. Pengembangan LKS (10%) = X4
  6. Penulisan Bahan Ajar (30%) = X5
  7. Penyajian Bahan Ajar (10%) = X6
  8. Ujian Akhir semester (15%) = X7

 

Nilai Akhir = X1 + X2 + X3 + X4 + X5 + X6+ X7

 

  1. KEPUSTAKAAN
  2. Anderson, LW dan Krathwohl, DR., 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing. New York: Addison Wesley Longman Inc.
  3. Yuliati, l & Purwaningsih, E. 2008. Modul Pengembangan Bahan Ajar Fisika. Jurusan Fisika FMIPA UM
  4. Depdiknas. 2006. Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar. Jakarta: Depdiknas
  5. Arends, A. I. 2004. Learning to Teach. New York: McGraw-Hill
    1. Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan Mata Pelajaran Fisika SMP/SMA
    2. Buku ajar fisika SMP dan SMA

Grading Systems  Sistem Penilaian

Makna utama gs dengan cara bagaimana hasil ass dirangkum dan dikomunikasian.

Gs tampak seperti aktivitas puncak yang menyertai proses-proses sebelumnya, yaitu:

Perencanaan (planning ) à Pembelajaran (instruction ) à Penilaian (assessment ) à   grading & evaluation

Gs tidak harus menjadi pikiran masa depan, gs haruslah diperlakukan  sebagai baian integral dari proses pembelajaran.

Gs merupakan suatu proses penggunaan system formal untuk tujuan merangkum dan melaporkan kemajuan dan hbs.

  • Merupakan tgj profesional seorang guru yang sangat penting, utamanya berkaitan dengan konsekuensi penting yang diakibatkannya.
  • Gs dapat ditujukan untuk pengukuran individual (misalnya tes tulis) atau untuk menilai  (pengukuran kelompok, yang biasanya terjadi di akhir periode grading atau tahun ajaran)
  • Gs utamanya mencakup perbandingan performa dengan standar atau kriteria
  • Alasan utama gs adalah bahwa sekolah bersangkutan memerlukan pertimbangan sumatif tentang siswa-siswanya. Sangat mempercayakan pada pertimbangan para guru. Harus didasarkan pada akumulasi bukti yang syah (valid) dan ajeg (reliable).

 

  • Primary reason for grading is that school districts require summative judgments about students.
    • Highly reliant on teachers’ judgments.
      • Should be based on accumulation of valid and reliable evidence.
  • Main purpose of grades is to communicate information about student’s achievement and progress.
  • Can serve as source of motivation (typically for already high-achieving students).
  • Important, necessary criteria for grading systems:
    • Must be fair.
    • Must be accurate.
    • Should be based on sufficient amount of valid data.
    • Therefore, should be defensible.
  • Not a good practice to grade “everything.”
    • Grading for formative purposes versus grading for summative purposes.

 


BAB 2

SASARAN PENILAIAN

 

 

 

PENDAHULUAN

Peran utama sekolah adalah untuk melaksanakan pendidikan dan untuk memudahkan proses pembelajaran. Pengajaran yang dijalankan di kelas dapat pula membantu mencapai hasil pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Hasil yang diharapkan meliputi aspek intelektual, emosi, ruhani dan jasmani murid.

Untuk memastikan bahwa hasil pembelajaran yang berkesan dan mencapai goal atau sasaran yang ditetapkan, seorang guru harus menyusun program atau rencana pembelajaran dengan baik, mengimplementasikan program itu dengan seksama dan menjalankan proses penilaian. Penilaian amat penting dilakukan pada banyak hal di kelas dan di sekolah. Penilaian tidak hanya membantu proses pembelajaran dalam kelas tetapi juga memberikan manfaat untuk menentukan objektif dan hasil pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran selanjutnya.

Penentuan sasaran atau goal dan penentuan objektiv (proses atau kegiatan-kegiatan apa yang diperkirakan dapat mewujudkan goal), harus dilakukan oleh guru sebelum ia memulai pembelajaran. Baik objektiv maupun goal, ditentukan dan ditetapkan oleh guru merujuk pada kurikulum dan silabus, serta disesuaikan dengan informasi-informasi lain yang terkait dengan siswa, sekolah dan teknologi masyarakat.

Proses pembelajaran  terdiri dari tiga tahap utama yang terintegrasi dalam satu proses yaitu: perencanaan, pelaksanaan dan penilaian  pembelajaran. Penilaian dan pengambilan keputusan diperlukan pada setiap tahap proses pembelajaran, sebagai pemandu kegiatan yang diambil pada tahap lainnya. Ketiga komponen proses pembelajaran  tersebut harus secara paralel dilaksanakan satu dengan lainnya.

Sasaran penilaian yang dilakukan oleh guru seharusnya meliputi: kalayakan program pembelajaran (RP), keterlaksanaan proses pembelajaran (objektiv), dan ketercapaian hasil pembelajaran (goal). Penilaian terhadap program atau rencana pembelajaran, perlu dilakukan untuk memastikan bahwa RP yang disusun layak untuk diimplementasikan. Proses pembelajaran juga perlu diukur dan dinilai, terutama keterlaksanaan kegiatan belajar atau objektiv dan kendala-kendala yang menyertainya. Penilaian terhadap  hasil pembelajaran atau goal adalah untuk mendapatkan informasi tentang pencapaian kompetensi hasil belajar murid. Selama ini penilaian yang dilakukan oleh guru terfokus pada pencapaian goal belum pada RP maupun keterlaksanaan proses pembelajaran.

Pada akhir bab ini, anda seharusnya dapat:

  1. menjelaskan maksud kelayakan rencana pembelajaran
  2. menjelaskan maksud keterlaksanaan objektiv atau proses pembelajaran,
  3. menjelaskan maksud ketercapaian hasil pembelajaran
  4. menerangkan  konsep kognitif, afektif  dan psikomotor, dan
  5. menjelaskan hubungan  antara objektif pelajaran dengan proses penilaian.

 

2.1  RENCANA PEMBELAJARAN

Rencana pembelajaran (RP) merupakan bentuk-bentuk persiapan yang disusun dan dikembangkan oleh guru sebelum ia memulai proses pembelajaran.  Rencana pembelajaran biasanya direalisasikan dalam bentuk perangkat pembelajaran, scenario, lks, instrumen penilaian, buku ajar, dan perangkat-perangkat  pembelajaran  lainnya. Apapun bentuk realisasinya,  rencana pembelajaran  (secara bersama-sama) mengarah pada deskripsi yang jelas dan detil tentang hasil belajar(sasaran/goal) yang ingin dicapai, serta kegiatan-kegiatan belajar atau proses pembelajaran(objektiv) yang diperkirakan dapat mewujudkan tercapainya hasil belajar. Ringkasnya  rencana pembelajaran  meliputi deskripsi yang jelas tentang tujuan berupa keadaan (goal) dan tujuan berupa proses atau kegiatan belajar(objektiv).

Untuk mencapai satu sasaran atau goal yang berupa hasil belajar atau kompetensi tertentu, diperlukan beberapa proses atau kegiatan belajar. Sehingga untuk satu goal biasanya guru menetapkan beberapa objektiv atau kegiatan belajar. Ada sementara pihak yang menyatakan objektif merupakan tujuan-tujuan yang lebih spesifik dan terukur. Dalam diktat ini kita bedakan bahwa ada dua tujuan  pembelajaran  yaitu: (1) tujuan berupa keadaan (sasaran/goal) yang merupakan deskripsi hasil belajar berupa pengetahuan, ketrampilan maupun perilaku yang ingin dicapai, dan (2) tujuan berupa proses atau kegiatan belajar (objektiv).

Salah satu tugas para pendidik ialah merancang supaya program pendidikan yang dijalankan dapat membentuk beberapa tujuan kecil yang mampu dicapai oleh murid. Guru menetapkan apa yang harus dilakukan olehnya(objektif pengajaran) dan menentukan apa yang harus dilakukan/dipelajari oleh  murid (objektif pembelajaran).

Berdasarkan kurikulum dan silabus yang telah dikembangkan, guru selanjutnya mengembangkan rencana pembelajaran berupa skenario, buku ajar, lks, dan instrumen peniliaian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1. Langkah Pengembangan Rencana Pembelajaran

Objektif pengajaran dan objektif pembelajaran pada dasarnya adalah sama. Namun, objektif pengajaran menyatakan perilaku guru dan objektif pembelajaran menyatakan perilaku murid. Krathwohl (1971) menyatakan, proses pendidikan  bertujuan mengadakan satu seri yang memungkinkan  murid untuk mempelajari tingkah laku  yang baru, memperbaiki atau menghapuskan tingkah laku tertentu dan melatih tingkah laku ini sampai ke tingkat  murid itu bisa  memamerkan/menunjukkan pada satu aras dengan  memuaskan. Penyataan objektif  pembelajaran  adalah satu deskripsi tentang tingkah laku murid. Dengan demikian pernyataan objektif pengajaran/ pembelajaran  amat penting bagi guru dan murid dalam proses pengajaran/ pembelajaran.

Salah satu manfaat objektif pengajaran ialah untuk memberitahukan kepada semua pihak yang terlibat dalam bidang pendidikan bahwa segala aktivitas yang dijalankan itu bukanlah dilakukan dengan sambil lalu atau seenaknya. Tetapi mempunyai tujuan yang jelas untuk mencapai sasaran/goal tertentu. Objektif pengajaran menggariskan dengan jelas  ke arah mana pengajaran hendak dibawa dan juga berfungsi sebagai panduan untuk menentukan penekanan aspek mana yang perlu diberikan penekanan dalam ujian oleh pembuat soal. Pemilihan  topik tertentu amat penting karena ujian pada hakekatnya adalah sample yang mewakili keseluruhan  kandungan materi pelajaran.

Dalam perencanaan  pembelajaran , banyak sekali keputusan yang harus dibuat sebelum proses pembelajaran  secara actual dilaksanakan, seperti: buku, isi materi, tambahan, langkah-langkah  pembelajaran , jenis/tipe asesmen , dsb.  Pembelajaran  bukan merupakan aktivitas sepontan. Persiapan yang baik membantu guru untuk lebih nyaman/mantab dalam penguasaan material, sama pentingnya dengan tugas-tugas  pembelajaran  lainnya.  Rencana pembelajaran  memberi guru sebuah rasa handarbeni pada seluruh kegiatan  pembelajaran.

Ada beberapa tipe rencana pembelajaran:

a. Unit plan, adalah bentuk/tipe perencanaan yang esensial, dan paling dasar. Terdiri dari sebuah outline atau ulasan dari suatu bagian dari materi ajar (secara lebih spesifik adalah perencanaan untuk mingguan, dan rencana harian. Unit plan menghilangkan ketidak-tentuan dan kegelisahan, memberi kesempatan guru untuk mereview material dan aktivitas sebelum  pembelajaran , memberi rangka kerja untuk memandu  pembelajaran  secara actual.

b. Lesson plan,  ada dua yaitu harian dan mingguan. Rencana minnguan memberikan ulasan  pembelajaran  untuk setiap harinya dalam subjek yang diberikan, pengajaran, atau periode kelas, yang meliputi objektiv-objektiv  pembelajaran . Rencana harian, berguna untuk memandu  pembelajaran  actual secara lebih spesifik, memberi peluang guru memvisualisasikan  rencana pembelajarannya secara actual yang sedang mereka coba kembangkan, mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin muncul, dan memastikannya sebelum melaksanakan proses pembelajaran .

Beberapa petunjuk mengembangkan lesson plan:

1.         tidak ada satu cara tunggal (satu format yang benar) untuk menulis lesson plan

2.         walaupun detil/rinci, lesson plan tidak ditulis kaku, dan dilakukan dengan sangat fleksibel.

3.         walaupun jika kamu percaya bahwa kamu dapat mengingat apa yang akan kamu lakukan dalam  pembelajaran, lesson plan haruslah tetap menjadi bagian integral dari proses pembelajaran untuk setiap guru.

4.         lesson plan formal tidak mengekang proses kreatif.

c. Panduan Kurikulum, untuk KBK dan KTSP direalisasikan dalam bentuk silabus. Memberikan panduan kepada guru dengan merujuk pada cakupan dan luasan materi, kegiatan  pembelajaran , dan tingkat pencapaian hasil belajar Kompetensi) siswa. Dikembangkan ditingkat sekolah atau rumpun sekolah, atau tingkat kecamatan bahkan kabupaten.

d. Objectiv  pembelajaran ,  adalah pernyataan yang jernih yang mendeskripsikan kegiatan-kegiatan belajar apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran . Merupakan komponen yang sangat penting dari lesson plan. Deskripsi kegiatan-kegiatan belajar ini yang diprediksikan jika dilakukan oleh siswa, maka siswa akan mencapai hasil belajar (kompetensi) atau goal yang telah ditetapkan.

e. Hasil belajar (goals), merupakan pernyataan yang jelas tentang deskripsi keadaan (Kompetensi/subkompetensi) yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa setelah ia melakukan kegiatan-kegiatan belajar (beberapa onjectivs) tertentu yang telah ditetapkan, selama maupun sesudah proses pembelajaran . Baik objectiv maupun goal hendaknya meliputi tiga domain yaitu kognitif, psikomotor dan afektif sebagaimana telah dikemukakan oleh taksonomi Bloom.

Domain kognitif meliputi dan menyatakan enam tingkat hirarki ketrampilan berpikir. Dimulai ketrampilan berpikir tingkat rendah (pengetahuan dan pemahaman) dan dilanjutkan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi (aplikasi, analisis, sintesis dan evaliasi).

Penulisan goal dan objectiv  pembelajaran . Ini bertujuan untuk memfokuskan  pembelajaran  pada perilaku (keadaan/gol dan kegiatan/objektiv) yang dapat dilaksanakan dan dicapai oleh siswa. Pernyataan goal biasanya: “siswa mampu….”; sedangkan pernyataan objectiv biasanya selalu menyatakan kegiatan belajar yang menggunakan kata kerja operasional, contoh: “siswa mengamati…………..”. Pernyataan/penulisan goal dan obj haruslah focus pada karakteristik dan perilaku siswa yang observable(nyata dapat diamati) dan measurable (dapat diukur). contoh pernyataan yang tidak observable dan kurang measurable antara lain: berpikir, mengetahui, dan memahami.

Ada tiga komponen esensial yang harus diperhatikan dalam penulisan goal dan obj: 1) mendasar, 2) berisi pengetahuan, atau ketrampilan, atau perilaku yang spesifik, serta 3) menggunakan kata kerja operasional (khususnya objectiv).

Material buatan guru atau percetakan yang dirujuk dan tersedia merupakan beberapa sumber pendidikan yang tersedia (buku teks, internet, panduan guru, materi tambahan, dsb). Jangan menggantungkan semata-mata hanya pada material ini. Adakalanya menghasilkan suatu ketidak selarasan antara perencanaan, implementasi/penyampaian dan penilaian  pembelajaran.

Biasanya dalam pembentukan objektif ataupun goal bergantung kepada  beberapa domain atau bidang yang diberi penekanan. Terdapat tiga domain dalam aktivitas pendidikan, yaitu : (a) domain kognitif –melibatkan perkembangan kemampuan intelek murid; (b) domain afektif –melibatkan perkembangan sikap dan nilai murid; dan (c) domain psikomotor –melibatkan perkembangan kemahiran dan kemampuan fisik.

 

A. DOMAIN KOGNITIF

Perkembangan pemikiran adalah suatu proses yang memerlukan waktu yang lama. Perkembangan pemikiran murid  akan berlangsung dengan pesat sewaktu di bangku persekolahan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan fisiknya. Aspek kognitif menjadi fokus utama  dalam proses pengajaran dan pembelajaran di kelas. Taksonomi Bloom membagi aspek atau domain kognitif ini dalam enam (6) peringkat dengan susunan dimulai dari peringkat mudah menuju peringkat yang lebih sukar atau tinggi, yaitu : (1) Pengetahuan, (2) Pemahaman, (3) Penggunaan (Aplikasi), (4)  Analisis, (5) Sintesis, dan (6) Penilaian.

Dengan berdasarkan tingkah laku yang ditunjukkan murid yaitu cara bertindak, berfikir atau merasakan sesuatu, penyusunan mengikuti perkembangan dari yang mudah menuju yang lebih sukar atau lebih tinggi, akan memungkinkan aktivitas dalam kelas dapat dirancang dan dijalankan dengan lebih sistematik. Dengan demikian  rencana pembelajaran  dapat menolong mengembangkan pemikiran murid ke arah yang hendak dituju. Peringkat yang lebih rendah akan dicapai lebih dahulu diikuti peringkat selanjutnya.

i. Pengetahuan

Peringkat ini mencakup semua perilaku yang memfokus pada pengenalan dan pengingatan idea, pendapat, prinsip, bahan, prosedur dan  peristiwa yang berlaku. Aspek tingkah laku yang diutamakan pada peringkat ini ialah dari segi daya untuk mengingat. Semua aras yang lebih tinggi memerlukan kemampuan mengingat sebagai syarat untuk menguasai  kemahiran yang lebih tinggi. Susunan aspek pengetahuan ini bisa dibagi menjadi beberapa tahap seperti:

i.       Pengetahuan tentang sesuatu perkara yang khusus seperti  terkait dengan istilah yang berbentuk  perkataan atau simbol. Misalnya simbol tertentu dalam matematika, atau istilah tertentu dalam mata pelajaran sains seperti “fotosistesis”. Selain istilah, pengetahuan tentang  mengaitkan dengan perkara-perkara tertentu seperti tokoh, dan peristiwa. Misalnya peristiwa penting pada tahun 1905 dalam sejarah Fisika yaitu teori Realivitas  Einstein.

ii.      Pengetahuan tentang cara mengendalikan sesuatu. Ini meliputi pengetahuan tentang proses, aliran atau pemeringkatan, tentang penjenisan, criteria dan teknik-tekni atau prosedur tertentu dalam menyelesaikan masalah.

iii.     Pengetahuan tentang perkara yang bersifat sejagat atau universal dan abstrak dalam sesuatu bidang yaitu  tahu tentang prinsip dan generalisasi dan tahu tentang teori dan struktur.

Ciri-ciri butir berdasarkan pengetahuan:

    menggunakan proses mental pengetahuan

    memerlukan informasi atau isi kandungan yang serupa dengan pengajaran guru dan buku teks

-  butir tidak memerlukan calon mengatur isi dalam bentuk baru

-  jawaban dapat ditentukan dengan mudah betul atau salah

-  perkataan yang biasa digunakan siapa, apa, dimana, kapan/bila, definisi, dan lain-lain.

 

ii. Pemahaman

Aspek pemahaman bermakna  objektif, perlakuan, jawaban dan tindakan yang menunjukkan pengertian yang bermakna. Pelajar mengubah bentuk  penerimaannya dalam bentuk tulisan, lisan atau simbol tertentu. Pemahaman dapat dibagi pula dalam beberapa aspek seperti berikut:

i.       menterjemah sesuatu yang melibatkan bentuk komunikasi yang dapat diubah dalam bentuk lain dengan tidak merubah makna asal. Misalnya, mengubah suatu bentuk komunikasi yang panjang ke dalam satu bentuk komunikasi yang lebih ringkas dan pendek dengan makna yang sama.

ii.      Menginterpretasi pelbagai bentuk komunikasi apabila idea atau pesan tersebut berbentuk tersurat atau tersirat. Setelah suatu perkara dipahami, aspek komunikasi itu disampaikan mula-mula dengan susunan murid sendiri supaya memberi penerangan yang bermakna. Misalnya murid dapat menterjemahkan data-data dalam bentuk gambar ke dalam bentuk uraian dengan mengaitkan bagian-bagian dalam gambar tersebut

iii.     Ekstrapolasi yakni membuat gagasan yang berwujud komunikasi yang ditunjukkan. Murid dapat  membuat inferensi tentang apa yang akan terjadi pada zat padat jika dipanasi terus menerus berdasarkan informasi yang diterima.

Ciri-ciri butir yang berdasarkan pemahaman adalah seperti berikut:

-        butir memerlukan penggunaan proses mental pemahaman melalui langkah–terjemahan, tafsiran dan ekstrapolasi

-        informasi tentang asas telah diberikan kepada pelajar

-        memerlukan benda atau material atau alat komunikasi untuk diterjemah, ditafsir dan dilanjutkan

-        responden menyatakan pemahamannya dalam tulisan atau perkataan sendiri

       perkataan yang kerap digunakan adalah –uraikan, bandingkan, nyatakan, bedakan, nyatakan dengan perkataan anda sendiri

 

iii. Aplikasi (penggunaan)

Peringkat ketiga dalam Taksonomi Bloom ialah aplikasi atau penggunaan. Aplikasi bermakna  penguasaan ciri-ciri yang terdiri dari konsep, prinsip, teori, hukum, prosedur dan cara-cara umum dalam situasi khusus dan situasi umum. Pada peringkat ini pelajar mesti benar-benar memahami ciri-ciri asas yang terdapat  pada aspek yang tersebut . Apabila murid telah memahami peringkat yang lebih tinggi, mereka akan dapat menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi yang baru atau berbeda. Peringkat aplikasi juga menghendaki murid-murid menentukan bukan saja cara menyelesaikan masalah tersendiri tetapi juga  situasi menjadi aspek penting sebagai strategi  dalam menyelesaikan masalah. Misalnya  murid dapat mengaitkan  ciri-ciri fotosintesis dengan kehidupan manusia.

Dalam konteks pengembangan item ujian, butir pada aras ini bertujuan menentukan apakah murid-murid dapat memilih  pengetahuan yang bersesuaian serta menggunakan dengan betul dalam menyelesaikan masalah baru yang dihadapi. Aplikasi dalam konteks ini bermakna menggunakan sesuatu yang abstrak dalam situasi tertentu dan konkrit. Pengabstrakan  mungkin dalam bentuk idea umum. Hukum, kaedah, prinsip atau teori yang perlu diingat dan digunakan. Kemampuan menggunakan prinsip dan membuat generalisasi kepada masalah dan situasi baru merupakan objektif pengajaran yang biasa digunakan dalam kelas dan menjadi petunjuk apakah  pelajar telah menguasai sesuatu kemahiran dalam mata pelajaran tersebut.

Bloom (1971) berpendapat bahwa murid-murid telah menguasai peringkat aplikasi jika mereka dapat:

i.          Menentukan prinsip atau generalisasi yang sesuai dalam masalah yang baru.

ii.         Menyebutkan satu masalah untuk menentukan prinsip atau generalisasi mana yang pas .

iii.        Menetapkan kadar/ukuran kapan prinsip atau generalisasi itu tepat dan betul.

iv.        Mengenal dengan pasti, sesuai atau tidaknya generalisasi tertentu dengan memberikan alasannya.

v.         Menerangkan fenomena baru menggunakan prinsip dan generalisasi yang telah diketahui.

vi.        Menelah apa yang akan berlaku dalam situasi baru  dengan menggunakan prinsip dan generalisasi.

vii.  Menentukan atau menjustifikasi satu tindakan atau keputusan dalam situasi baru dengan menggunakan prinsip dan generalisasi yang sesuai.

viii. Menyatakan alasan yang digunakan untuk menyokong penggunaan  prinsip atau generalisasi dalam sesuatu situasi.

Ciri-ciri  butir yang berdasarkan aplikasi:

       butir menggunakan proses mental aplikasi

-        objektif memerlukan tiga frasa yaitu kemampuan menggunakan, prinsip/generalisasi dan masalah/situasi baru

-        situasi masalah baru haruslah tidak sama dengan masalah yang dipelajari dalam kelas

-        perkataan yang sering digunakan –gunakan, pilih, buat, selesaikan, dan lain-lain.

iv. Analisis

Peringkat analisis mempunyai fungsi tertentu dengan membagikan dan menentukan bagian-bagian kecil atau unsur untuk sesuatu perkara yang dikemukakan dan memperlihatkan pertalian antara unsur-unsur itu. Dengan begitu peringkat analisis menghendaki penentuan organisasi dan struktur komunikasi satu-satu dari unsure penyusunnya. Analisis juga dianggap sebagai asas untuk memahami komunikasi dengan lebih terperinci untuk memulai penilaian. Pada peringkat analisis ini penghakiman turut pula berlaku. Walau bagaimanapun analisis tidaklah  begitu mendalam sebagaimana peringkat penilaian. Analisis terbagi dalam tiga hal, yaitu:

i.       analisis unsur yang menentukan fungsi kenyataan yang terdapat dalam suatu komunikasi. Misalnya  murid dapat membedakan kesimpulan dengan alasan yang mendukung .

ii.      analisis hubungan dengan menentukan hubungan unsur-unsur yang  terdapat dalam pelbagai bentuk bagian-bagian komunikasi. Murid dikehendaki menentukan kaitan antara bukti-bukti, bukti dengan hipotesis, dan hipotesis dengan kesimpulan. Misalnya, menentukan bukti-bukti yang dapat mengesahkan kesimpulan yang dibuat.

iii.     analisis prinsip organisasi dalam sesuatu hal dengan menentukan  tujuan, pandangan, pendirian, sikap dan konsepsualisasinya. Misalnya murid dapat mengenali pendekatan yang digunakan oleh seseorang penyanyi untuk menarik minat penonton.

Menurut Bloom (1971), ciri-ciri analisis seperti berikut:

i.       murid dapat menjelaskan perkataan, frasa dan kenyataan dalam satu set dokumen dengan menggunakan kriteria analisis.

ii.      murid dapat menelaah kualitas atau sifat tertentu yang tidak dinyatakan dengan jelas dari petunjuk yang diperolehnya.

iii.     murid dapat menggunakan kriteria yang relevan, penyusunan mengikuti hukum sebab akibat dan urutan untuk menentukan corak dan susunan bahan dalam sesuatu dokumen.

iv.     murid dapat mengenali prinsip organisasi dan menggambarkan rangka keseluruhan dokumen.

v.      Murid dapat menelaah suatu rangka kerja tertentu, tujuan dan pandangan tentang suatu dokumen.

Ciri-ciri butir yang berdasarkan analisis:

-        butir menggunakan proses mental analisis –apakah analisis unsur, perhubungan atau prinsip organisasi

-        situasi masalah baru haruslah, tidak biasa atau berbeda dengan pengajaran di kelas

-        situasi, dokumen atau bahan yang akan dianalisis harus telah ada pada pelajar

-        memerlukan pemikiran kritis, bukan mengulang pengetahuan yang telah dipelajari

-        perkataan yang kerap digunakan –mengapa, kenapa, apakah faktor, buatkan rumusan, buktikan, dan sebagainya

v. Sintesis

Sintesis membawa makna penggabungan unsur-unsur dan bagian-bagian supaya komunikasi itu lebih berstruktur dan tersusun dengan baik. Dalam arti yang lain ialah menggabungkan dan menyusun unsur-unsur atau bagian-bagian untuk membentuk sesuatu yang lebih menyeluruh. Murid menggabungkan suatu struktur dari yang tidak jelas kepada satu perkara yang lebih jelas. Sintesis terbagi dalam tiga jenis, yaitu :

i.       menghasilkan bentuk komunikasi yang unik dengan bertumpu pada aspek penyampaian dengan tujuan tertentu seperti menghibur, menguraikan, menarik minat atau menunjukkan perasaan marah yang meluap-luap. Misalnya murid dapat mengelolakan penulisan dengan alasan yang  menarik

ii.      menghasilkan satu himpunan perlakuan. Misalnya murid dapat merancang unit pelajaran untuk kegunaan tertentu.

iii.     mengaitkan set hubungan yang abstrak melalui analisis yang dilakukan pada perkara yang dikemukakan. Murid dapat menggunakan data dalam menguraikan sesuatu dan dapat membuat pengandaian. Misalnya murid dapat mengemukakan teori yang dapat digunakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran.

Menurut Bloom (1971), bentuk hasil kemampuan sintesis adalah seperti berikut:

i.       menghasilkan komunikasi unik dalam bentuk penulisan esei, puisi, atau lukisan.

ii.      menghasilkan  sebuah perancangan atau set operasi yang dicadangkan.

iii.     menghasilkan penerbitan satu set hubungan abstrak seperti membentuk hipotesis.

Ciri-ciri butir yang berdasarkan sintesis antara lain:

       butir   sesuai dengan proses mental sintesis

       masalah, tugas atau situasi hendaklah baru kepada pelajar atau berbeda dengan pengajaran

-        memberikan kebebasan kepada calon menjawab apakah  dari segi isi atau masa

-        hasilnya dinilai oleh “pengguna” seperti pembaca atau pemerhati

-        butir   tidak perlu terperinci karena ia akan membataskan kreativiti

-        bentuk butir   objektif dan esei memerlukan masalah untuk diselesaikan dalam bentuk daya kreatif yang tinggi

-        perkataan yang kerap digunakan –  ramalkan, hasilkan, tuliskan, cadangkan apa akan berlaku dan lain-lain

 

vi. Penilaian (evaluasi)

Penilaian mempersyaratkan murid mengetahui kriteria yang digunakan untuk menilai perkara yang berlainan. Murid membuat pertimbangan tentang nilai dari suatu tujuan atau idea, dari suatu hasil kerja, penyelesaian bahan dan sebagainya. Pertimbangan yang dibuat adalah berdasarkan standard atau kepiawaian tertentu dengan menentukan sampai tingkat mana sesuatu yang dinilai itu berkesan dengan tepat, memuaskan, baik, buruk dan lain-lain. Pada peringkat ini murid-murid perlu membuat pertimbangan tentang sesuatu atas dasar kriteria tertentu disamping menganalisis dan mensintesiskan sesuatu perkara. Misalnya murid dapat membuat pertimbangan tentang sesuatu hasil kerja yang bermutu atau tidak bermutu dengan membandingkannya dengan hasil kerja yang lain.

Ciri-ciri butir yang berdasarkan penilaian:

       butir   menguji proses mental peringkat penilaian

-        situasi masalah yang hendak dinilai mesti baru dan tidak biasa disentuh dalam pengajaran di kelas

-        mutu penilaian boleh dibandingkan dengan penilaian pakar

-        butir   penilaian dibentuk berdasarkan tiga bagian yaitu  apa yang hendak dinilai, arahan tindak balas dan criteria yang digunakan dalam penilaian itu

-        perkataan yang biasa digunakan – pertimbangkan, taksirkan, tentukan, pertahankan, dan sebagainya

Domain kognitif pada peringkat pengetahuan, pemahaman, dikenal sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah. Sedangkan peringkat aplikasi, analisis, sintesis dan penilaian merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

 

B. DOMAIN AFEKTIF

Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari memiliki perasaan. Ada kalanya ia merasa gembira, sedih, terharu kecewa dan sebagainya. Apabila seseorang melalui pelbagai pengalaman dalam hidupnya, dia akan  mempunyai pandangan atau sikap tersendiri terhadap perkara yang dialami dan ditemui. Perasaan, sikap dan nilai adalah perkara yang dipelajari dan berkembang dari masa ke masa berbarengan dengan perkembangan manusia itu sendiri. Jika kita berada dalam situasi yang sehat, maka hal itu  sedikit banyak akan membentuk perasaan, sikap dan nilai yang positif, begitu pula sebaliknya.

Domain afektif  mempunyai kaitan dengan perasaan, emosi, minat, sikap, penghargaan dan nilai. Dalam praktik di kelas, guru mungkin jarang sekali menulisnya dalam buku rekaman tentang pengajaran domain afektif ketimbang pengajaran domain kognitif terlebih dalam bentuk perlakuan terhadap murid. Goals atau hasil belajar dan objectives atau kegiatan belajar pada domain afektif lebih jarang direncanakan, dilaksanakan dan dinilai ketimbang domain kognitif. Hal ini karena ketidak-wujudan prosedur atau instrumen yang benar-benar sesuai untuk mengukur keterlaksanaan kegiatan belajar dan pencapaian hasil belajar domain afektif.

Seperti pada domain kognitif, domain afektif juga dapat dikelompokkan atau disusun menurut peringkat penghayatan dari yang paling rendah sampi kepada peringkat yang paling tinggi seperti yang diutarakan oleh Bloom et al(1988) yaitu: (i) penerimaan, (ii) menanggapi, (iii) menilai, (iv) mengelola/mengorganisasikan, dan (v) menghayati/perwatakan.

i. Penerimaan

Penerimaan dianggap sebagai sifat-sifat kesediaan untuk menerima sesuatu. Peringkat penerimaan bermula dengan kesadaran. Misalnya sadar akan irama, lirik lagu, tentang keadaan kehidupan. Setelah penerimaan, individu tersebut  menunjukkan kesediaan menerima. Yakni ia tidak berusaha melarikan diri dari rangsangan yang diterima. Selanjutnya, ia akan mulai mengambil bagian secara hati-hati atau pilih-pilih. Pada peringkat ini individu tersebut akan mencoba membedakan setiap rangsangan yang diterima. Contoh goal atau objektif jenis penerimaan misalnya murid dapat membedakan isi pelajaran yang dikemukakan oleh guru.

ii. Menanggapi

Dapat wujud apabila individu mempunyai motivasi atau tujuan dan minat tersendiri dalam mengaitkan dirinya dengan suatu rangsangan, atau menimbulkan kesan terhadap suatu perkara yang menjadi perangsang. Lantaran meanggapi ini melahirkan rasa kepuasan dalam diri individu tersebut. Pada peringkat ini individu akan menanggapi mengikuti arahan yang diterimanya. Selanjutnya ia akan  menanggapinya sendiri. Misalnya siswa menunjukkan minat terhadap aktivitas di luar kelas. Selanjutnya individu tersebut akan memberi tanggapan untuk menghasilkan kepuasan dirinya. Contohnya, murid mendapatkan kepuasan dari suatu aktivitas yang dilakukannya.

iii. Menilai

Dalam konteks ini, semua perkara seperti peristiwa, benda dan interaksi mempunyai nilai. Nilai tersebut adalah nilai yang dianut/dipegang oleh masyarakat. Nilai yang ditunjukkan bersifat tetap/stabil dan memperlihatkan tingkah laku yang dilakukan bisa ditebak/diperkirakan karena ia menjadi landasan setiap perilaku yang dilakukan. Terdapat tiga  bentuk atau jenis nilai, yaitu: (i) penerimaan nilai –menerima semua nilai yang terdedah kepada individu tersebut, (ii) pemilihan nilai –mengambil tindakan sendiri untuk mendedahkan informasi kepada orang lain yang menunjukkan dia berpegang kepada nilai tersebut;  dan (iii) komitmen –memegang teguh dengan kepercayaan dan mempertahankannya dari sebarang cemoohan.

iv. Pengelolaan (pengorganisasian)

Peringkat penyusunan atau pengelolaan/organisasi memperlihatkan penyusunan nilai-nilai yang banyak menjadi satu sistem yang lebih bias dipraktikkan. Terbagi kepada dua bentuk, yaitu  mengkonsepsualisasikan  nilai-nilai –dengan melihat pertalian antara nilai-nilai yang ada dan mengelola sistem nilai dengan memilih dan menyusun nilai-nilai  menjadi satu sistem nilai. Contohnya murid dapat mengendalikan diri mengikuti penerimaan peraturan masyarakat.

v. Penghayatan (Perwatakan)

Pada peringkat ini seorang individu atau murid dapat mematuhi suatu nilai yang bermakna dengan mengamalkan sebagai satu cara hidup. Biasanya individu tersebut akan mengekalkan nilai tersebut. Peringkat ini akan memperlihatkan dua hal: (i) perwatakan yang mirip dengan nilai tertentu, misalnya dapat membuat keputusan mengikuti keadaan tertentu tanpa berdasarkan perasaan atau sesuatu sogokan, dan (ii) mempunyai  sistem nilai tersendiri yakni mempunyai falsafah atau prinsip hidup sendiri.

 

C. DOMAIN PSIKOMOTOR

Aspek psikomotor berkaitan dengan pergerakan anggota fisik.

Sebagaimana dalam domain kognitif dan afektif, domain psikomotor juga mempunyai hirarki tersendiri seperti yang dikemukakan oleh Taksonomi Simpson dan Taksonomi Jewett.  Taksonomi Simpson membagi aspek psikomotor dalam lima peringkat yaitu: (i) pengamatan, (ii) persediaan, (iii) pergerakan terkontrol, (iv) mekanisme, dan (v) pergerakan khusus.

Sementara Taksonomi Jewett mengemukakan tiga peringkat utama yaitu: (i)  gerakan dasar, (ii) gerakan khusus, dan (iii) gerakan kreatif.

Penilaian terhadap RP perlu dilakukan dalam rangka memastikan bahwa RP yang telah disusun benar-benar didasarkan pada teori atau logika pemikiran yang komprehensip, dan juga untuk melihat apakah RP tersusun dengan baik. Ada satu kata kunci dalam menetapkan rencana pembelajaran yang baik yaitu kelayaklaksanaan yang merupakan besarnya peluang bahwa rencana pembelajaran itu dapat terlaksana atau dapat diimplementasikan dengan baik. Beberapa indikator kelayaklaksanaan diantaranya: (1) kejernihan dan kejelasan pernyataan goals (sasaran) dan objectives (tujuan) pembelajaran, (2) prinsip kontekstualitas, (3) prinsip kesesuaian,  serta(4) prinsip kelengkapan.

2.2 PROSES PEMBELAJARAN

Rencana pembelajaran yang telah disusun dengan baik dan telah dinilai layak untuk dilaksanakan, belum tentu dapat terimplementasikan dengan baik. Selalu ada saja kendala yang mempengaruhi keterlaksanaan implementasi RP atau proses pembelajaran sehingga tidak 100% dapat terlaksana seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Oleh karena itu RP yang baik dan telah dinilai layak, haruslah dimplementasikan atau dilaksanakan dengan seksama dan baik. Hal ini perlu perlu diukur dan dinilai agar hasil yang diharapkan (yang telah ditetapkan di RP) dapat dicapai dengan baik pula. Paling tidak, jika terjadi kasus dimana pencapaian hasil pembelajaran kurang baik, padahal pelaksanaan RP telah terlaksana dengan baik, maka dapat dipastikan ketidak-tercapaian hasil bukan disebabkan oleh proses pembelajaran, tetapi karena factor-faktor lain yang harus dicari. Mungkin disebabkan karena teori yang diacu tidak pas, mungkin karena factor yang melekat pada siswa yang tidak terdeteksi sebelumnya oleh guru dan sebagainya.

Penilaian terhadap proses pembelajaran sangat mutlak untuk dilakukan. Fokus penilaiannya adalah keterlaksanaan kegiatan pembelajaran (objectives). Karenanya penetapan kegiatan belajar dan pembelajaran (objectives) yang jelas dan jernih sangat membantu dan mempengaruhi penilaian keterlaksanaan proses pembelajaran. Metode penilaian keterlaksanaan proses pembelajaran biasanya menggunakan observasi dan monitoring. Selama penilaian proses pembelajaran berlangsung, akan diperoleh hasil penilaian berupa: a) keterlaksanaan proses pembelajaran, b) factor-faktor kendala, dan c) factor-faktor pendukung. Penilaian proses pembelajaran masih sangat jarang dilakukan, meskipun penilian proses pembelajaran inilah yang dirasakan dapat digunakan untuk memprediksi dan menjamin kemampuan berkembang pada diri pelajar, maupun guru.

2.3 HASIL PEMBELAJARAN

Hasil pembelajaran dapat kita mengerti sebagai ketercapaian goals (sasaran) pembelajaran. Sebenarnya hasil pembelajaran tidak hanya apa yang dicapai oleh siswa, tetapi juga oleh guru, sekolah, masyarakat dan orang tua. Misalnya guru bisa mendapatkan informasi tentang hasil pembelajaran yang melekat pada dirinya sebagai informasi pencapaian kompetensi keguruan dan perkembangan kemampuan profesionalnya. Guru dapat mengembangkan portofolio guru dan sebagainya. Sekolah mendapat informasi pencapaian hasil belajar oleh para siswa di sekolah. Demikian pula dengan orang tua siswa dan masyarakat. Semua pihak yang terlibat langsung maupun tak langsung dengan pembelajaran di kelas dapat memperoleh informasi pencapaian hasil pembelajaran, yang itu berguna untuk memperbaiki peran aktifnya untuk pendidikan yang lebih baik lagi. Akan tetapi focus penilaian kita lebih kepada pencapaian oleh siswa.

Goals (sasaran) pembelajaran juga meliputi tiga ranah yaitu ranah pengetahuan, ketrampilan dan afektif. Hasil pembelajaran yang merentang ke dalam tiga ranah (pengetahuan, ketrampilan dan afektif) semuanya sangat perlu untuk dinilai. Selama ini penilaian terhadap hasil belajar siswa masih terfokus pada ranah kognitif, belum banyak menjangkau hasil belajar pada ranah psikomotor apalagi hasil belajar pada ranah afektif. Penilaian hasil pembelajaran biasanya dilakukan dengan penilaian produk atau penilaian dalam bentuk tes.

Seperti pada penilaian proses pembelajaran, penilaian hasil belajar juga sangat dipengaruhi oleh kejelasan dan kejernihan goals yang telah ditetapkan di dalam RP. Rumusan goals yang jelas dan jernih serta observable dapat mempermudah pengembangan instrumen dan memudahkan proses penilaian.

2.4 RANGKUMAN

Sasaran asesmen di kelas sebenarnya meliputi seluruh aspek yang ada dan terlibat dalam pembelajaran di kelas. Namun demikian sasaran utama asesmen di kelas adalah tiga unsur utama yang mendukung berlangsungnya pembelajaran yaitu: 1) kelayakan RP, 2) keterlaksanaan proses pembelajaran (objectives), dan 3) pencapaian hasil pembelajaran (goals). Ketiga sasaran utama itu seyogyanya memperhatikan tiga domain pendidikan yaitu domain kognitif, psikomotor dan afektif.

 

 

RUJUKAN TAMBAHAN

Bloom, B.S. (1989). Taksonomi objektif pendidikan, buku pedoman 1: Domain kognitif (ed.). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Bloom, B.S., Hasting, J.T., Madaus, G.F. (1971). Handbook on formative and summative evaluation of student learning. New York: Harper and Row Publisher.

Krathwohl, D.R.,  Bloom, B.S., Masia, B.B. (1965). Classroom testing: Construction. Illinois: F.E Peacock Publisher Inc.

 

 

Kelebihan&Kekurangan Model Pembelajaran e-Learning

1.      Kelebihan e-learning

Kelebihannya yaitu peserta didik dapat merasa senang dan tidak bosan dengan materi yang diajarkan karena menggunakan alat bantu seperti video, audio dan juga dapat menggunakan alat bantu seperti komputer bagi sekolah yang sudah mempunyai peralatan komputer.

2.      Kekurangan e-learning

Guru banyak yang belum siap menggunakan metode e-learning dan masih
mengajar menggunakan metode ceramah serta belum terampil menggunakan fasilitas seperti video dan komputer.

 

Kelebihan dan Kekurangan Cooperative Learning

Kelebihan pembelajaran kooperatif dilihat dari aspek siswa, adalah memberi peluang kepada siswa agar mengemukakan dan membahas suatu pandangan, pengalaman, yang diperoleh siswa belajar secara bekerja sama dalam merumuskan ke arah satu pandangan kelompok (Cilibert-Macmilan, 1993). Dengan melaksanakan model pembelajaran cooperative learning. siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, di samping itu juga bisa melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking skill) maupun keterampilan sosial (social skill) seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, menerima saran dan masukan dari orang lain, bekerjasama, rasa setia kawan, dan mengurangi timbulnya perilaku yang menyimpang dalam kehidupan kelas (Stahl 1994). Model pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan secara penuh dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis. Siswa bukan lagi sebagai objek pembelajaran namun bisa juga berperan sebagai tutor bagi teman sebayanya. Selanjutnya menurut Sharan (1990), siswa yang belajar dengan mengunakan metode pembelajaran koperatif akan memiliki motivasi yang tinggi karena didorong dan didukung dari rekan sebaya. Cooperative learning juga menghasilkan peningkatan kemampuan akademik, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, membentuk hubungan persahabatan, menimba berbagai informasi, belajar menggunakan sopan-santun, rneningkatkan motivasi siswa memperbaiki sikap terhadap sekolah dan belajar mengurangi tingkah laku yang kurang baik, serta membantu siswa dalam menghargai pokok pikran orang lain (Johnson, 1993).

Stahl et.al (1994), mengemukakan bahwa melalui model cooperative learning siswa dapat memperoleh pengetahuan, kecakapan sebagai pertimbangan untuk berpikir dan menentukan serta berbuat dan berpartisipasi sosial. Selanjutnya Zaltman et.al ( 1972) mengemukakan bahwa siswa yang bersama-sama bekerja dalam kelompok akan menimbulkan persahabatan yang akrab, yang terbentuk dikalangan siswa. ternyara sangat berpengaruh pada tingkah laku atau kegiatan masing-masing secara individual Kerjasama antar siswa dalam kegiatan belajar menurut Menurut Santos (1983) dapat memberikan berbagai pengalaman.

Mereka lebih banyak mendapatkan kesempatan berbicara, inisiatif, menentukan pilihan dan secara umum mengembangkan kebiasaan yang baik Selanjutnya Jarolimek & Parker (1993) mengarakan kelebihan yang diperoleh dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut : 1) Saling ketergantungan yang positif; 2). Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu; 3) Siswa dilibatkan daiam perencanaan dan pengelolaan kelas; 4) Suasana kelas yang rileks dan menyenanakan; 5 Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru; dan 6) Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang menyenangkan. (2) Kekurangan Cooperative Learning.

Kekurangan model pembelajaran cooperative learning bersumber pada dua faktor yaitu faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). Faktor dari dalam yaitu sebagai berikut: 1) Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikran dan waktu;    2) Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai; 3) Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas. Sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan; 4) Saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasip..Faktor dari luar erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah yaitu padamya kurikulum pembelajaran sejarah, selain itu pelaksanaan tes yang terpusat seperti UN/UNAS sehingga kegiatan belajar mengajar di kelas cenderung dipersiapkan untuk keberhasilan perolehan UN/UNAS.

 

Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik

Menurut Kunandar (2007:315), Pembelajaran tematik mempunyai kelebihan yakni:

  1. Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.
  2. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
  3. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.
  4. Mengembangkan keterampilan berpikir peserta didiksesuai dengan persoalan yang dihadapi.
  5. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama
  6. Memiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
  7. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik.

Selain kelebihan di atas pembelajaran tematik memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pembelajaran tematik tersebut terjadi apabila dilakukan oleh guru tunggal. Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga dalam pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan mateti pokok setiap mata pelajaran. Di samping itu, jika skenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.

 

 

 

Kelebihan dan kekurangan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

 

Kelebihan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw:

1.      Dapat mengembangkan hubungan antar pribadi posistif diantara

2.      siswa yang memiliki kemampuan belajar berbeda

3.      Menerapka bimbingan sesama teman

4.      Rasa harga diri siswa yang lebih tinggi

5.      Memperbaiki kehadiran

6.      Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar

7.      Sikap apatis berkurang

8.      Pemahaman materi lebih mendalam

9.      Meningkatkan motivasi belajar

Kelemahan metode kooperatif jigsaw

1.      Jika guru tidak meningkatkan agar siswa selalu menggunakan ketrampilan-ketrampilan kooperatif dalam kelompok masingmasing maka dikhawatirkan kelompok akan macet

2.      Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah, misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi

3.      Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila ada penataan ruang belum terkondisi dengan baik , sehingga perlu waktu merubah posisi yang dapat juga menimbulkan gaduh.

 

Fasilitator juga dapat mengatur strategi jigsaw dengan dua cara:

Pengelompokkan Homogen

Instruksi: Kelompokkan para peserta yang memiliki kartu nomor yang sama. Misalnya, para pe­serta akan diorganisir ke dalam kelompok diskusi berdasarkan apa yang mereka baca. Oleh karena itu, semua peserta yang membaca Bab 1, Bab 2, dst, akan ditempatkan di kelompok yang sama.

Sediakanlah empat kertas lipat, lipatlah masing-masing menjadi dua menjadi papan nama, berilah nomor 1 sampai 4 dan letakkanlah di atas meja.

Kelebihan: Pengelompokan semacam ini memungkinkan peserta berbagi perspektif yang ber­beda tantang bacaan yang sama, yang secara potensial diakibatkan oleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap salah satu bab. Potensi yang lebih besar untuk memunculkan proses analisis daripada hanya sekedar narasi sederhana.

Kelemahan: fokusnya sempit (satu bab) dan kemungkinan akan berlebihan.

Pengelompokkan Hiterogen

Instruksi: Tempatkan para peserta yang memiliki nomor yang berbeda-beda untuk duduk ber­sama. Misalnya, setiap kelompok diskusi kemungkinan akan terdiri atas 4 individu: satu yang telah membaca Bab 1, satu yang telah membaca Bab 2, dsb.

Sediakanlah empat kertas lipat, lipatlah masing-masing menjadi dua menjadi papan nama, berilah nomor 1 sampai 4 dan letakkanlah di setiap meja. Biarkan para peserta mencari tempatnya sendiri sesuai bab yang telah mereka baca berdasarkan “siapa cepat ia dapat”.

Kelebihan: Memungkinkan “peer instruction” dan pengumpulan pengetahuan, memberikan pe­serta informasi dari bab-bab yang tidak mereka baca.

Kelemahan: Apabila satu peserta tidak membaca tugasnya, informasi tersebut tidak dapat dibagi/ didiskusikan. Potensi untuk pembelajaran yang naratif (bukan interpretatif) dalam berbagi infor­masi.

 

 

 

Metode Ceramah (Preaching Method)
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.

 

Beberapa kelebihan metode ceramah adalah :
a. Guru mudah menguasai kelas.
b. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
c. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
d. Mudah dilaksanakan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

Beberapa kelemahan metode ceramah adalah :
a. Membuat siswa pasif
b. Mengandung unsur paksaan kepada siswa
c. Mengandung daya kritis siswa ( Daradjat, 1985)
d. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
e. Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
g. Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000)


 

 

Metode diskusi ( Discussion method )

Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ).

Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk :

a. Mendorong siswa berpikir kritis.
b. Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas.
c. Mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama.
d. Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama.

Kelebihan metode diskusi sebagai berikut :

a. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan
b. Menyadarkan ank didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik.
c. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

Kelemahan metode diskusi sebagai berikut :

a. tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
b. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
c. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
d. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

 

 

Metode demontrasi ( Demonstration method )

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000).

Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syaiful Bahri Djamarah, ( 2000).

Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah :

a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan .
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa (Daradjat, 1985)

Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :

a. Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atu kerja suatu benda.
b. Memudahkan berbagai jenis penjelasan .
c. Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, drngan menghadirkan obyek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).

Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :

a. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan
c. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).

 

 

 

Metode Discovery

Metode discovery memiliki kebaikan-kebaikan seperti diungkapkan oleh Suryosubroto (2002:200) yaitu:

a.       Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa, andaikata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu

b.      Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer

c.       Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan,

d.      metode ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri

e.       metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus,

f.       Metode discovery dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan

g.      Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada siswa dan guru berpartisispasi sebagai sesame dalam situasi penemuan yang jawaban nya belum diketahui sebelumnya

h.      Membantu perkembangan siswa menuju skeptisssisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak

 

Kelemahan metode discovery Suryosubroto (2002:2001) adalah:

a.       Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subyek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada siswa yang lain

b.      Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu

c.       Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudahy biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional

d.      Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan. Sedangkan sikap dan ketrampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan

e.       dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada

f.       Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses di bawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti

 

 

Metode latihan keterampilan ( Drill method )

Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar , dimana siswa diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat tas dari mute/pernik-pernik.

Kelebihan metode latihan keterampilan sebagai berikut :

a. Dapat untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
b. Dapat untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya.
c. Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.

Kekurangan metode latihan keterampilan sebagai berikut :

a. Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian.
b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
c. Kadang-kadang latihan tyang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.
d. Dapat menimbulkan verbalisme.

 

 

Metode Karya Wisata

Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan.

Kelebihan metode karyawisata sebagai berikut :
a. Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
b. Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
c. Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.

Kekurangan metode karyawisata sebagai berikut :
a. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
b. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
c. Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan.
d. Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan.
e. Biayanya cukup mahal.
f. Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.

 

 

Metode percobaan ( Experimental method )

Metode percobaan adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Syaiful Bahri Djamarah, (2000)

Metode percobaan adalah suatu metode mengajar yang menggunakan tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali. Misalnya di Laboratorium.

Kelebihan metode percobaan sebagai berikut :

a. Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku.
b. Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi.
c. Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.

Kekurangan metode percobaan sebagai berikut :

a. Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan ekperimen.
b. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, anak didik harus menanti untuk melanjutkan pelajaran.
c. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.
Menurut Roestiyah (2001:80) Metode eksperimen adalah suatu cara mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru.

 

Metode Seminar

Metode seminar adalah suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh beberapa orang dalam suatu sidang yang berusaha membahas / mengupas masalah-masalah atau hal-hal tertentu dalam rangka mencari jalan memecahkannya atau mencari pedoman pelaksanaanya.

Kelebihan metode seminar

·         Peserta mendapatkan keterangan teoritis yang luas dan mendalam tentang masalah yang diseminarkan

·         Peserta mendapatkan petunjuk-petunjuk praktis untuk melaksanakan tugasnya

·         Peserta dibina untuk bersikap dan berfikir secara ilmiah

·         Terpupuknya kerja sama antar peserta

·         Terhubungnya lembaga pendidikan dan masyarakat

Keleemahan Metode Seminar

·         Memerlukan waktu yang lama

·         Peserta menjadi kurang aktif

·         Membutuhkan penataan ruang tersendiri

 

 

Metode Kerja Kelompok

Metode kerja kelompok adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan menyuruh pelajar (setelah dikelompok-kelompokkan) mengerjakan tugas tertentu untuk mencapai tujuan pengajaran. Merka bekerja sama dalam memecahkan masalah atau melaksanakan tugas.

Kelebihan metode kerja kelompok

·         Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka

·         Memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan kemampuan para siswa

·         Dapat memberikan kesempatan pada para siswa untuk lebih menggunakan ketrampilan bertanya dalam membahas suatu masalah

·         Mengembangkan bakat kepemimpinan para siswa serta mengerjakan ketrampilan berdiskusi

Kelemahan metode kerja kelompok

·         Kerja kelompok terkadang hanya melibatkan para siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang

·         Keberhasilan strategi ini tergantung kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendiri-sendiri

·         Kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan daya guna mengajar yang berbeda pula

 

Metode Kerja Lapangan

Metode kerja lapangan merupakan metode mengajar dengan mengajak siswa kedalam suatu tempat diluar sekolah yang bertujuan tidak hanya sekedar observasi atau peninjauan saja, tetapi langsung terjun turut aktif ke lapangan kerja agar siswa dapat menghayati sendiri serta bekerja sendiri didalam pekerjaan yang ada dalam masyarakat.

Kelebihan metode kerja lapangan

  • Siswa mendapat kesemmpatan untuk langsung aktif bekerja dilapangan sehingga memperoleh pengalaman langsung dalam bekerja
  • Siswa menemukan pengertian pemahaman dari pekerjaan itu mengenai kebaikan maupun kekurangannya

Kelemahaan metode kerja lapangan

  • Waktu terbatas tidak memungkinkan memperoleh pengalaman yang mendalam dan penguasaan pengetahuan yang terbatas
  • Untuk kerja lapangan perlu biaya yang banyak. Tempat praktek yang jauh dari sekolah shingga guru perlu meninjau dan mepersiapkan terlebih dahulu
  • Tidak tersedianya trainer guru/pelatih yang ahli

 

Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
2. Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5. Memberi evaluasi.
6. Penutup.
Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.

 

 

Metode Inquiry

Metode inquiry adalah teknik pengajaran guru didepan kelas dimana guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kemudian mereka mempelajari, meneliti, dan membahas tugasnya didalam kelompok kemudian dibuat laporan yang tersusun baik dan kemudian didiskusikan secara luas atau melalui pleno sehingga diperoleh kesimpulan terakhir.

Kelebihan metode inquiry

  • Mendorong siswa untuk berfikir dan atas inisiatifnya sendiri, bersifat obyektif, jujur, dan terbuka
  • Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang
  • Dapat membentuk dan mengembangkan sel consept pada diri siswa
  • Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi belajar yang baru
  • Mendorong siswa untuk berffikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri

Kelemahan metode inquiry

  • Siswa perlu memerlukan waktu menggunakan daya otaknya untuk berfikir memperoleh pengertian tentang konsep

 

 

Metode Simulasi

Metode simulasi merupakan cara mengajar dimana menggunakan tingkah laku seseorang untuk berlaku seperti orang yang dimaksudkan dengan tujuan agar orang dapat menghindari lebih mendalam tentang bagaimana orang itu merasa dan berbuat sesuatu dengan kata lain siswa memegang peranaan sebagai orang lain.

Kelebihan metode simulasi

  • Dapat menyenangkan siswa
  • Menggalak guru untuk mengembangkan kreatifitas siswa
  • Eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya
  • Mengurangi hal-hal yang verbalistik
  • Menumbuhkan cara berfikir yang kritis

Kelemahan metode simulasi

  • Efektifitas dalam memajukan belajar siswa belum dapat dilaporkan oleh riset
  • Terlalu mahal biayanya
  • Banyak orang meragukan hasilnnya karena sering tidak diikutsertakan elemen-elemen penting
  • Menghendaki pengelompokan yang fleksibel
  • Menghendaki banyak imajinasi dari guru dan siswa

Metode Problem Solving

Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencoba mengeluarkan pendapatnya.

Kelebihan metode problem solving

  • Masing-masing siswa diberi kesempatan yang sama dalam mengeluarkan pendapatnya sehingga para siswa merasa lebih dihargai dan yang nantinya akan menumbuhkan rasa percaya diri
  • Para siswa akan diajak untuk lebih menghargai orang lain
  • Untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan lisannya

Kelemahan metode problem solving

  • Karena tidak melihat kualitas pendapat yang disampaikan terkadang penguasaan materi sering diabaikan
  • Metode ini sering kali menyulitkan mereka yang sungkan mengutarakan pendapat secara lisan

Metode TGT (Teams Games Tournament)

Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas.

Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangaka mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:

a. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan

b. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.

c. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.

     Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.

e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.

Kelebihan metode TGT (Teams Games Tournament)

Melatih siswa untuk bekerjasama dalam kelompok diskusi

·         Suasana belajar nyaman, menyenagkan dan kondusif

·         Tercipta suasana kompetisi antara kelompok diskusikecil

Kelemahan metode TGT (Teams Games Tournament)

·         Tidak efisien waktu

·         Hanya dilaksanakan pada luang waktu selasai UAS

·         Belajarnya kurang efektif karena hanya bersifat games

 

Metode Berbasis Masalah (PBL, Problem Based Learning)

Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap harus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal.

Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri

Kelebihan metode Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)

·         Melatih siswa untuk berlatih menyelesaikan masalh dalam kehidupan sehari- hari

·         Merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi siswa

·         Suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal

Kekurangan metode Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)

·         Sulitnya membentuk watak siswa dan pembiasaan tingkah laku

 

Metode Problem Terbuka (OE, Open Ended)

Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutynya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.

Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitakkan dengan materui selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).

Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.

Kelebihan metode Problem Terbuka (OE, Open Ended)

·         melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisas

·         Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam

Kekurangan metode Problem Terbuka (OE, Open Ended)

·         Terlalu mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.

 

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Pada metode ini siswa dibentuk kelompok untuk memberikan tanggapan terhadap wacana/ kliping.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen.
2. Guru memberikan wacana / kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
3. Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana / kliping dan ditulis pada lembar kertas.
4. Mempresentasikan / membacakan hasil kelompok.
5. Guru membuat kesimpulan bersama.
6. Penutup.
Kelebihan:
1. Siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas.
2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain.
Kekurangan:
Pada saat presentasi hanya siswa yang aktif yang tampil.

Cooperative Script
Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
6. Kesimpulan guru.
7. Penutup.
Kelebihan:
1. Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
2. Setiap siswa mendapat peran.
3. Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
1. Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu.
2. Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).

 

BAB 3
JENIS-JENIS ASESMEN

PENDAHULUAN
Asesmen merupakan kegiatan harian guru, yang ia laksanakan setiap hari, hari demi hari selama proses pembelajaran berlangsung. Tidak ada bentuk tanggungjawab guru lainnya yang lebih penting dibandingkan dengan melakukan asesmen pada murid-muridnya. Guru harus dapat mengkomunikasikan performa akademik dan performa sosial siswa serta kemajuan atau pertumbuhannya kepada berbagai pihak yang terkait meliputi siswa, orang tua siswa, sekolah dan administrator pendidikan, serta masyarakat umum.
Asesmen dan keputusan-keputusan evaluatif yang dihasilkannya haruslah akurat sehingga mampu mencegah pemahaman dan komunikasi yang keliru oleh pihak-pihak terkait. Oleh karenanya diperlukan berbagai jenis asesmen yang secara bersama-sama akan menghasilkan informasi evaluatif yang lengkap dan akurat.
Metode asesmen formal direncanakan lebih bagus dalam pengadministrasiannya. Metode ini kurang spontanitasnya dan biasanya dilaksanakan pada akhir proses pembelajaran. Para siswa menyadari atau mengetahui tentang penggunaan metode asesmen formal ini. Contoh metode ini diantaranya adalah tes meliputi beberapa bab, ujian final, PR terstruktur dan sebagainya. Metode asesmen informal dilaksanakan lebih spontan dan kurang kentara/terlihat. Biasanya terjadi selama proses pembelajaran . Contoh metode ini seperti: observasi dan pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran .
Metode asesmen kuantitatif menghasilkan skor berupa angka atau numeris. Secara umum bentuknya meliputi tes yang disusun oleh guru, tes standar, cek lis, dan skala rating. Metode asesmen kualitatif menghasilkan deskripsi secara verbal tentang karakteristik tertentu. Biasanya berbentuk observasi oleh guru, rekaman anecdotal, pertanyaan-pertanyaan informal.
Evaluasi formatif berkaitan dengan pembuatan keputusan yang terjadi selama proses pembelajaran yang bertujuan untuk menyelaraskan proses pembelajaran. Metode ini lebih banyak mengevaluasi pengajaran ketimbang mengevaluasi kerja siswa. Sangat mungkin didasarkan pada metode formal maupun informal. Evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir proses pembelajaran . Contohnya seperti tes pada akhir bab, tes pada akhir satu unit pelajaran, tes akhir semester dan sebagainya. Evaluasi sumatif merupakan bentuk yang sering digunakan untuk keperluan mengambil keputusan secara administrativ( misalnya kenaikan kelas). Evaluasi sumatif semata-mata hanya didasarkan pada metode asesmen formatif.
Metode asesmen baku diadministrasikan, diskor, dan diinterpretasikan dalam model yang identik untuk semua ujian. Asesmen baku bertujuan untuk memberi peluang pada pendidik untuk membandingkan siswa dari sekolah yang berbeda, negara yang berbeda dan seterusnya. Contoh asesmen baku adalah UAN, UNAS, SPMB dan sebagainya.
Metode asesmen tak baku biasanya dalam bentuk buatan guru untuk digunakan di kelas. Asesmen tak baku memiliki tujuan untuk menentukan luasan subyek materi yang sedang diajarkan dan dipelajari.
Metode asesmen rujukan norma menunjukkan dimana letak atau posisi performa seorang siswa dalam kaitannya dengan siswa-siswa lainnya. Asesmen baku atau tes baku biasanya adalah asesmen rujukan norma. Metode asesmen rujukan norma menghasilkan informasi kuantitatif. Dalam metode ini performa siswa dibandingkan dengan kelompok normal (norm group). Metode asesmen rujukan kriteria membandingkan performa siswa dengan criteria atau objektif yang telah ditetapkan. Metode ini menghasilkan informasi kuantitatif, kualitatif atau keduanya. Metode asesmen rujukan kriteria biasanya juga dikenal dengan ketuntasan (mastery), atau objectives-referenced, atau ujian kompetensi (competency tests).
Metode asesmen tes merupakan prosedur pencil-and-paper tests dan kuis. Dalam metode ini hanya ada satu respon/jawaban yang benar untuk setiap butir pertanyaan/pernyataan. Metode ini dinilai merupakan metode yang mudah dan efisien untuk menilai/meng-ases banyak siswa secara simultan. Lebih mengarahkan/menganjurkan pada memorisasi fakta-fakta.
Metode asesmen alternatif merupakan metode asesmen yang lebih cocok untuk proses pembelajaran yang “melakukan” (hands-on), pembelajaran eksperiental (pengalaman belajar). Metode ini meliputi asesmen autentik (mencakup aplikasi riel dari ketrampilan, yang melampaui konteks pembelajaran).
Pada metode asesmen obyektif, kata “obyektif” disini lebih merujuk pada metode penskoran. Pada metode ini hanya mengandung satu jawaban/respon yang benar untuk setiap butir pertanyaan/pernyataan. Contohnya adalah: pilihan ganda, benar-salah, mencocokkan dan sebagainya. Metode ini juga dikenal sebagai structured-response, atau selected-response, atau teacher-supplied items. Metode asesmen subyektif adalah metode asesmen yang teknik penskorannya melibatkan keputusan subyektif guru. Ada beberapa jawaban/respon yang benar atau satu jawaban/respon yang benar dapat dicapai dengan berbagai cara. Contohnya adalah: butir jawab singkat dan butir essay. Asesmen subyektif juga dikenal sebagai open-ended, constructed-response, supply-type items.

3.1 ASESMEN FORMAL DAN INFORMAL
Biasanya asesmen informal meliputi bentuk-bentuk seperti observasi oleh guru, pertanyaan guru selama proses pembelajaran, dan refleksi siswa. Kebanyakan asesmen yang digunakan di kelas adalah asesmen informal. Asesmen ini terjadi selama proses pembelajaran berlangsung, dan dilakukan secara berkelanjutan.
a. Observasi oleh guru
Observasi oleh guru merupakan kegiatan memperhatikan/melihat dan/atau mendengarkan siswa seperti: bagaimana ia melakukan kegiatan belajar, atau bagaimana ia membuat hasil produk belajar dan sebagainya. Observasi oleh guru bertujuan untuk merekam dan mendeskribsikan perilaku siswa seperti apa adanya. Dapat memberikan informasi yang mengarah pada: 1) kualitas performa siswa, 2) proses dan prosedur siswa dalam melengkapi atau mengerjakan tugas belajarnya, 3) proses dan prosedur yang guru gunakan dalam melaksanakan pembelajaran.
Karakteristiknya antara lain: 1) banyak kejadian yang diobservasi secara bersamaan atau berhasil dalam waktu yang cepat, 2) observasi kelas tentu saja focus pada satu kejadian, 3) guru harus bergantung pada observasi siswa, 4) sangat banyak kejadian yang ada di kelas yang terlewatkan tidak dicatat, 5) observasi cepat dilupakan atau terkontaminasi tatkala dipanggil ulang, 6) observasi tentu saja perlu inferensi
Petunjuk penggunaannya: 1) ketahuilah apa yang akan diobservasi, 2)ketahuilah keterbatasan tempat dan berapa banyak yang sedang diobservasi, 3) akrablah dengan apa yang diobservasi, 4) hindari perluasan inferensi, perhatikan kejadian yang substansial, 5) sadari bahwa observasi bisa menjadi overestimate achievement, 6)observasi dokumen yang harus dipanggil ulang di waktu kemudian
Penyimpanan Rekaman:
a) Rekaman anekdotal: narasi pendek yang mendeskribsikan konteks dan perilaku, digunakan untuk dokumen perilaku sebagai referensi di waktu kemudian oleh guru atau yang lainnya, boleh jadi meliputi interpretasi, bias harus dihindari dalam beberapa interpretasi, hanya rekaman observasi yang sangat penting dan tidak dapat ditemui melalui metode asesmen kelas yang lebih formal
b) Checklist: daftar perilaku atau outcomes, yang guru mengindikasikannya dengan mudah untuk diobservasi, dibatasi untuk situasi yang menghadirkan atau tak menghadirkan suatu kondisi untuk ditentukan, lebih terstruktur ketimbang rekaman anecdotal. Hanya ada dua pilihan yang mungkin untuk observasi yaitu: diobservasi atau tidak diobservasi
c) Rating scales: merupakan penyederhanaan dari checklists; balikan yang jauh lebih spesifik(sepanjang sebuah kontinum). Dapat mengidikasikan frekuensi atau derajad tentang bagaimana siswa mempertunjukkan sebuah karakteristik. Dapat digunakan secara formatif maupun sumatif. Biasanya juga dirujuk sebagai rubrics (holistic dan analytic)
b. Pertanyaan guru
Pertanyaan guru: informal, tak terencana (unplanned), oral spontan secara ikuiri yang diajukan oleh guru kepada siswa, berguna sebagai sebuah monitoring terhadap pemahaman siswa sepanjang proses pembelajaran. Dapat diajukan lower-questions dan higher-questions, juga dapat digunakan sebagai satu bentuk refleksi diri (self-reflection) dari siswa.
Karakteristik pertanyaan guru antara lain: 1) dapat menjadi menonjolkan diri, 2)harus diinterpretasikan oleh guru lain, harus menjadi jelas, 3) dapat diarahkan pada individu-individu, pada kelompok-kelompok kecil, atau pada seluruh kelas, 4)pertanyaan-pertanyaan detil ditanyakan dan bagian responnya dengan cepat dilupakan.
Petunjuk penggunaan: 1) kembangkan pertanyaan dari objectiv pembelajaran, 2) berikan sebuah masalah yang jelas untuk siswa , 3) berikan waktu yang cukup bagi siswa untuk merespon, 4) hindari kebingungan siswa, 5) tujukkan perhatian ketika menanggapi respon siswa
Rekaman penyimpanan; masih sedikit teknik yang ada untuk keperluan ini, guru dapat menyesuaikan bentuk variasi checklist untuk mendokumentasikan partisipasi dan respon siswa.
c. Refleksi siswa
Refleksi siswa merupakan narasi ikhtisar atau laporan diri yang ditulis oleh siswa tentang subyek materi yang dipelajarinya. brief narratives or self-reports written by siswa concerning the subject matter being studied.dapat berupa jurnal belajar atau buku catatan belajar. dilengkapi secara periodic oleh siswa unit demi unit. Dapat juga berupa ringkasan materi, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sepanjang atau selama kelas berlangsung, karakteristik dari sebuah proyek dan sebagainya.
Memberi kesempatan kepada guru dan siswa untuk mendiskusikan komentar-komentar dan pertanyaan-pertanyaan. Yang digunakan secara luas dengan berbagai variasi adalah bentuk one-minute paper.
Para siswa diberikan kesempatan beberapa menit dari acara di kelas untuk merespon (dalam bentuk tulisan dan tanpa nama) satu atau dua pertanyaan yang diberikan secara spesifik oleh guru.
1. Hal terpenting apakah yang kamu pelajari di kelas sepanjang hari ini?
2. Pertanyaan apakah yang dapat kamu ajukan setelah kamu mengikuti pembelajaran di kelas hari ini?
3. Saya akan mencari tahu lebih jauh tentang ………
4. Saya masih tidak percaya tentang …
Respon siswa dikumpulkan dan disintesis oleh guru. Guru memulai kelas berikutnya dengan komentar hasil sintesis yang telah dilakukannya. Guru menekankan pada tanggungjawab siswa untuk didengar dan diproses.
d. Validitas and Reliabilitas Asesmen informal
Tentu saja perlu bersabar untuk mereduksi validitas dan Reliabilitas yang diakibatkan oleh subyektivitas alamiah. Validitas dan Reliabilitas asesmen informal dapat ditingkatkan dengan cara mencegah munculnya masalah-masalah yang umum.
Validitas, dapat dipengaruhi oleh pengambilan keputusan atau pengantisipasian perilaku siswa secara merugikan. Ketidakcocokan indicator-indikator dari karakteristik siswa terkadang dapat dipilih.
Reliabilitas, dipengaruhi oleh kurang-mencukupinya pengambilan sample perilaku siswa. Gambaran inferensi dalam satu setting mungkin tidak diperluas pada setting yang lainnya.
e. Keuntungan dan Keterbatasan Asesmen informal
Keuntungannya, adalah efisien dan dapat diadabtasikan, dapat dibangun ke dalam arus pelajaran (bukan interupsi), dan dapat digunakan untuk memonitor kegiatan belajar dan pembelajaran.
Keterbatasannya, adalah observasi dibatasi hanya untuk perilaku yang terjadi secara alamiah. Guru mengamati hanya bagian-bagian dari perilaku siswa. beberapa observasi informal berlangsung tetapi tidak didokumentasikan dan oleh karenanya mudah dilupakan
3.2 ASESMEN BERBASIS PERFORMA
Asesmen berbasis performa (juga dikenal sebagai asesmen performa) mempersyaratkan siswa untuk menerapkan pengetahuan dan ketrampilannya. Asesmen performa dapat digunakan secara formatif atau secara sumatif. Asesmen ini dapat menjadi labor- and time-intensive, dan juga cenderung menjadi berbeda sama sekali.
a. Karakteristik Asesmen berbasis performa
Asesmen performa menghadirkan siswa dengan hands-on tasks. Atau asesmen berbasis performa lainnya yang mengharuskan siswa melengkapi secara individual atau dalam kelompok kecil; pekerjaan siswa dievaluasi menggunakan criteria yang telah dibangun sebelumnya.
Asesmen performa terdiri dari dua komponen yaitu: 1) sebuah performance task (aktivitas atau actual prompt) dan 2) sebuah rubrik penskoran (scoring rubric) atau panduan penskoran yang terdiri dari kriteria performa yang telah ditetapkan/dibangun sebelumnya.
Asesmen performa mengijinkan observasi langsung terhadap kemampuan dan ketrampilan siswa (sangat berbeda dengan pencil-and-paper tests). Asesmen performa harus dikaitkan dengan objectiv pembelajaran. Disamping itu asesmen performa cenderung lebih abstrak ketimbang bentuk-bentuk asesmen tradisional, artinya asesmen performa lebih “real world”. Asesmen performa yang didasarkan pada “real world” dikenal dengan authentic assessment.
Asesmen performa, karena dilakukan oleh siswa sendiri, merupakan aktivitas pembelajaran yang penuhmakna. Konsep asesmen performa bukan merupakan konsep baru; digunakan untuk bertahun-tahun di bidang yang lain
Beberapa persyaratan dasar dari asesmen performa:
a. kemampuan dan perilaku spesifik (krusial) harus diobservasi
b. sangat cocok untuk mengukur ketrampilan dan kemampuan siswa yang kompleks yang tak dapat diukur dengan menggunakan pencil-and-paper tests
c. tugas-tugas harus focus pada proses-proses yang dapat diajarkan oleh guru atau dipelajari oleh siswa
d. dapat dipakai untuk memutuskan kecocokan perilaku atau pemahaman
e. dapat dipakai untuk memutuskan kecocokan perilaku atau pemahaman yang memberikan informasi tentang kekuatan(strengths) dan kelemahan (weaknesses)
f. mempersyaratkan adanya produk perilaku yang bernilai untuk kebaikannya
g. tugas-tugas harus mendorong atau memotivasi refleksi siswa.
b. Asesmen Proses vs Asesmen Produk
Asesmen proses target khususnya adalah prosedur yang digunakan oleh siswa untuk menjawab suatu permasalahan atau problem. Asesmen Produk target utamanya adalah hasil-hasil belajar siswa yang berupa produk yang dapat diukur (results in tangible outcome).
Para guru biasanya lebih tertarik pada salah satunya (asesmen proses atau asesmen produk), walaupun tugas-tugas itu mungkin saja mempersyaratkan keduanya (asesmen proses dan asesmen produk). Keputusan tentang focus dari tugas-tugas itu harus dibuat oleh guru.
c. Pengembangan Tugas-Tugas Asesmen Performa
Ada empat gambaran esensial yang perlu dipertahankan dalam pengembangan tugas-tugas dalam asesmen performa:
1) mempunyai satu tujuan yang jernih yang menspesifikasikan keputusan hasil yang akan dibuat dari asesmen: a) merupakan tahap-tahap yang krusial, b) apakah hasil asesmen akan digunakan untuk tujuan formatif atau sumatif?, c) pada apakah tugas itu akan difokuskan, pada proses, produk atau keduanya?
2) Mengidentifikasi aspek-aspek produk atau performa siswa yang akan diputusi: a)Kriteria produk atau performa siswa yang akan diases harus secara spesifik dapat diamati, b) difokuskan pada proses, produk atau keduanya, c) harus dapat dinyatakan dengan jernih, d) criteria harus dibatasi pada sejumlah hal yang dapat dikelola dan dipikirkan dengan jelas
3) Hasilnya dinyatakan dalam satu atau lebih skor yang mendeskripsikan performa siswa
4) Memberikan sebuah seting yang cocok untuk kegiatan melengkapi tugas-tugas itu.
Pendesainan tugas-tugas Performa: Prosedur tahap demi tahap
Tahap 1: Menentukan tujuan asesmen .
Tahap 2: Menspesifikasikan ketrampilan dan outcomes merujuk pada taxonomic level.
Tahap 3: Menspesifikasikan criteria performa yang akan digunakan untuk men-judge pekerjaan siswa, dan mengidentifikasi indicator-indikator tampak dari criteria itu.
Tahap 4: mengembangkan konteks yang authentic dan meaningful untuk tugas-tugas itu.
Tahap 5: mengembangkan instrumen penskoran (rubrik scoring).
Tahap 6: membangkitkan atau memilih contoh-contoh respon siswa
Tahap 7: merevisi tugas, sesuai dengan keperluan.
d. Metode Penskoran Asesmen berbasis performa
Biasanya, tidak ada jawaban benar atau salah yang sederhana; mereka harus diases beberapa saat semacam kontinum. Fokus pada derajad kualitas, pemahaman, kecakapan dsb. Sasarannya untuk mencoba mereduksi potensi subyektivitas dalam penskoran. Terbuka mengenai instrumen penskoran kepada siswa, memberikan bimbingan kepada siswa dengan merujuk pada hakekat open-ended-nya tugas-tugas performa.
Gambaran metode-metode penskoran asesmen performa ditunjukkan oleh gambar berikut.

Gambar 3.1 Skema Metode Penskoran Asesmen Performa
Checklists, merupakan daftar perilaku atau ketrampilan (skills) siswa, yang mengindikasikan setiap perilaku atau ketrampilan siswa yang telah diobservasi. Sangat baik (paling baik) ketika digunakan secara formativ, untuk memberikan indikasi kekuatan dan kelemahan secara cepat.
Rating scales: memperkenankan guru untuk mengindikasikan frekuensi atau derajad bagaimana ketrampilan atau perilaku dipertunjukkan oleh siswa
Rubrics: merupakan rating scales yang secara khusus digunakan untuk penskoran hasil asesmen performa. Merupakan panduan penskoran yang terdiri dari criteria performa spesifik yang telah ditetapkan/dibangun sebelumnya , digunakan untuk mengevaluasi pekerjaan siswa dalam asesmen performa.

Ada dua tipe rubrik yaitu:
1. Holistic rubric: skore ditentukan untuk seluruh proses atau produk.
a. digunakan ketika kesalahan dalam proses dapat ditoleransi
b. digunakan dengan tugas-tugas dimana tidak ada respon benar yang definitif
c. sangat cepat untuk menskor, tetapi kurang dapat memberikan balikan
Contoh Holistic Rubrics
Skore Deskripsi
5 mendemonstrasikan secara lengkap pemahaman terhadap masalah. semua persyaratan tugas ada dalam respons/produk siswa.
4 mendemonstrasikan sebagian besar pemahaman terhadap masalah. semua persyaratan tugas ada dalam respons/produk siswa.
3 mendemonstrasikan sebagian pemahaman terhadap masalah. sebagian besar persyaratan tugas ada dalam respons/produk siswa.
2 mendemonstrasikan sebagian kecil pemahaman terhadap masalah. beberapa persyaratan tugas ada dalam respons/produk siswa.
1 tidak mendemonstrasikan pemahaman dari masalah.
0 tak ada respon atau tugas-tugas tak dikerjakan.

2. Analytic rubric: rubrik penskoran dimana komponen individual dari produk atau performa siswa diskor secara terpisah.
a. digunakan ketika lebih focus pada tipe respon yang dipersyaratkan.
b. biasanya menghasilkan beberapa skor, yang bisa saja dijumlahkan untuk memperoleh skor total.
c. lebih lambat dalam proses penskoran namun lebih detil dalam memberikan balikan.
Contoh rubrik analitik adalah sebagai berikut:
permulaan pengembangan Tuntas dengan baik sempurna skor
Kriteria 1 Deskripsi mencerminkan level performa pemula Deskripsi mencerminkan kemajuan menuju level performa tuntas Deskripsi mencerminkan prestasi level performa tuntas Deskripsi mencerminkan performa level tingkat tinggi
Kriteria 2 Deskripsi mencerminkan level performa pemula Deskripsi mencerminkan kemajuan menuju level performa tuntas Deskripsi mencerminkan prestasi level performa tuntas Deskripsi mencerminkan performa level tingkat tinggi
Kriteria 3 Deskripsi mencerminkan level performa pemula Deskripsi mencerminkan kemajuan menuju level performa tuntas Deskripsi mencerminkan prestasi level performa tuntas Deskripsi mencerminkan performa level tingkat tinggi
Kriteria 4 Deskripsi mencerminkan level performa pemula Deskripsi mencerminkan kemajuan menuju level performa tuntas Deskripsi mencerminkan prestasi level performa tuntas Deskripsi mencerminkan performa level tingkat tinggi
TOTAL SKOR ———-

Satu tipe rubrik tidak selalu lebih baik dari tipe yang lainnya, sangat bergantung pada tujuan. Biasanya tujuan yang berbeda akan berimplikasi pada pemilihan tipe rubrik yang berbeda. Guru harus memutuskan bagaimana format yang diperlukan dan cocok dengan tugas-tugas yang ada. Boleh jadi rubrik berupa tingkat-tingkat kemahiran dan sebagainya, boleh jadi bersifat kualitatif, kuantitatif ataupun keduanya.
Prosedur mengembangkan Rubrik Penskoran tahap demi tahap:
Tahap 1 : mempertanyaakan ulang objectiv pembelajaran untuk menentukan tugas-tugas yang cocok
Tahap 2 : menentukan atribut-atribut spesifik yang tampak yang ingin kamu lihat (seperti halnya yang tidak ingin kamu lihat)
Tahap 3 : renungkan karakteristik yang mendesripsikan masing-masing atribut
Tahap 4a : (untuk rubrik holistic) tulislah deskripsi naratif secara rinci untuk pekerjaan yang sangat sempurna dan sangat tidak sempurna, mempersatukan/mempertautkan tiap atribut ke dalam deskripsi
Tahap 4b : (untuk rubrik analitik) tulislah deskripsi naratif secara rinci untuk pekerjaan yang sangat sempurna dan sangat tidak sempurna untuk tiap atribut individual
Tahap 5a : lengkapi rubrik dengan pendeskripsian level lainnya pada kontinum yang merentang dari sangat sempurna sampai dengan sangat tidak sempurna untuk atribut kolektif
Tahap 5b : lengkapi rubrik dengan pendeskripsian level lainnya pada kontinum yang merentang dari sangat sempurna sampai dengan sangat tidak sempurna untuk setiap atribut
Tahap 6 : kumpulkan contoh-contoh pekerjaan siswa yang memberikan contoh setiap level
Tahap 7 : revisi rubrik sebagaimana diperlukan
e. Validitas dan Reliabilitas Asesmen Berbasis Performa
Validitas, dapat ditingkatkan dengan cara berbagi dengan siswa tentang kriteria yang akan digunakan untuk men-judge pekerjaannya. Harus dipastikan bahwa performa bukan merupakan tugas spesifik. siswa harus lulus/melampaui ketrampilan prasyarat yang sesuai untuk mendemontrasikan ketrampilan yang kompleks yang mungkin dipersyaratkan oleh tugas. Tugas-tugas harus fair untuk semua siswa.
Reliabilitas, untuk meningkatkannya rubrik harus didesain sedemikian rupa sehingga dapat mereduksi subjectivitas. Guru harus mencegah bias personalnya dalam penskoran tugas
f. Keuntungan dan Keterbatasan Asesmen Berbasis Performa
Keuntungannya antara lain: a) dapat mengases kemampuan siswa untuk melakukan (“to do”), b) dapat mengases ketrampilan siswa yang tidak dapat diases dengan metode tradisional, c) dapat mengases proses berpikir seperti produk, d) dapat digunakan untuk meningkatkan proses pembelajaran praktis.
Keterbatasannya antara lain: a) Batasan umumnya merupakan keseluruhan waktu yang rumit, b) tidak efisien ketika digunakan untuk mengases ketrampilan tingkat rendah, c) akibat dari subyektivitas, reliabilitasnya cenderung rendah, d) siswa berkemampuan rendah cenderung menunjukkan frustasi.
3.3 ASESMEN PORTOFOLIO
Portfolio assessments mempersyaratkan adanya akumulasi bukti-bukti yang diperoleh selama beberapa/sepanjang waktu. Beberapa subject areas atau seting kelas khusus memandang asesmen portfolio mempunyai focus yang berbeda.
a. Karakteristik Portfolio Assessments
Portfolio assessments merupakan bentuk asesmen yang penuh dengan tujuan, mengorganisasikan kumpulan pekerjaan siswa yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan usaha, kemajuan atau pencapaian/prestasi siswa. Ide asesmen portfolio diperoleh dari portfolio artis atau penulis yang kemudian diadobsi di lingkungan akademik. Asesmen ini memberikan makna kepada siswa untuk menunjukkan apa yang dapat mereka kerjakan dengan myata.
Asesmen portofolio didasarkan pada kenyataan yang terjadi sesungguhnya atau the real world. Produk dan performa siswa dikompilasikan dalam sebuah upaya untuk menunjukkan kemahiran atau kemajuan siswa sepanjang waktu.
Beberapa sifat turunan dari asesmen portofolio dari folder contoh pekerjaan antara lain adalah: a) siswa harus diikutkan dalam proses, b) criteria pemilihan pekerjaan harus diidentifikasi, c) criteria pengambilan keputusan nilai pekerjaan harus dikembangkan, d) bukti refleksi siswa harus ada.
Guru memberikan petunjuk dan pekerjaan secara kolaboratif dengan siswa untuk mengidentifikasi goal dari sample portofolio dan pekerjaan untuk disertakan. Guru dan siswa melanjutkan saling akses ini untuk menentukan isi (lebih banyak berpusat pada siswa ketimbang bentuk asesmen kelas lainnya). Dapat diadaptasikan untuk menemukan pembelajaran individual yang diperlukan (setiap portofolio diperlakukan secara individual).
Refleksi siswa memberikan kesempatan pada siswa untuk berpikir tentang bagaimana berpikir (beberapa siswa tidak biasa dengan ide ini).
Apakah ada satu metode yang sangat baik untuk menunjukkan metode dan cara berpikir yang digunakan oleh siswa, sebaik produk akhir (portofolio)? Berbeda dengan bentuk asesmen lainya, portofolio cenderung focus pada pencapaian siswa, bukan pada kesalahan. Portofolio menekankan kekuatan yang ada pada siswa. Portofolio dapat menghabiskan waktu yang banyak (proses mereview yaitu menguji portofolio secara kontinu sepanjang pertemuan dengan siswa secara individual).
Tiga ciri utama dari berbagai bentuk portofolio antara lain: a) merupakan koleksi pekerjaan siswa yang mempunyai tujuan khusus, b) siswa harus dilibatkan aktif dalam proses pemilihan pekerjaan untuk dimasukkan dalam portofolio, c) siswa harus secara aktif melakukan refleksi diri.
b. Penggunaan Portofolio
b.1 Format ideal.
Didesain untuk dua tujuan utama, yaitu: 1) portofolio harus merupakan model pertanggungjawaban secara personal dalam merefleksikan pekerjaan orang/siswa itu sendiri, 2) portofolio harus menjadi dokumen perkembangan dan pertumbuhan siswa selama rentang waktu tertentu. Tiga komponen utama portofolio meliputi: 1) dokumentasi perkembangan pekerjaan utama/pokok, 2) bukti pekerjaan siswa selama rentang waktu tertentu, 3) refleksi siswa.
Keterkaitan antara karakteristik utama dengan komponen format ideal ditunjukkan oleh bagan berikut:

Karakteristik Utama Komponen Format Ideal
a) merupakan koleksi pekerjaan siswa yang mempunyai tujuan khusus 1) dokumentasi perkembangan pekerjaan utama/pokok
b) criteria pemilihan pekerjaan harus diidentifikasi 2) bukti pekerjaan siswa selama rentang waktu tertentu
c) siswa harus secara aktif melakukan refleksi diri 3) refleksi siswa

Dokumentasi Portofolio bertujuan untuk memberikan rekaman kemajuan siswa secara actual. Doukumentasi portofolio merupakan sebuah akumulasi bukti-bukti (yakni: usaha, kemajuan, dan prestasi}. Focus pada pendekatan holistic.

b.2 Showcase Portofolio.
Bertujuan untuk menyoroti dan menayangkan keahlian-keahlian. Terdiri dari pekerjaan favorit dan terbaik dari siswa. Sample/contoh harus mendemonstrasikan level tertinggi dari pencapaian. Refleksi siswa merupakan kunci dari portofolio jenis ini.
b.3 Variasi Portofolio lainnya.
Portofolio Kelas, merupakan ringkasan dokumen yang digunakan untuk memberi ilustrasi kemahiran-kemahiran dalam kelas. Tidak termasuk refleksi siswa. Digunakan untuk laporan kepada orang tua siswa dan pengelola sekolah.
Portofolio Evaluasi, digunakan secara eksklusif untuk laporan kepada masyarakat umum dan kepada agensi pemerintah (merupakan sebuah hasil dari proyek hadiah (grant project, curriculum project, dan sebagainya).
c. Peng-kreasian Portofolio
Isu-isu dalam pengkreasian portofolio, guru harus membuat jernih tujuan dari portofolia dibuat (dapat menyatakan jenis portofolio mana yang digunakan). Criteria yang digunakan untuk mengases sample pekerjaan harus dispesifikasikan. Sample pekerjaan harus sejalan/parallel dengan objektiv pembelajaran dan proses pembelajaran yang terjadi. Kerangka waktu untuk mereview harus dispesifikasikan di awal. Pertimbangkan untuk memberi bantuan pada refleksi siswa. Penskoran portofolio harus dilakukan secara terbuka dengan siswa.
Pengembangan Portfolio: prosedur Step-by-Step
Step 1: Tentukan tujuan yang akan dilayani dengan portofolio
Step 2: Identifikasikan isi, konsep dan ketrampilan yang akan diases.
Step 3: Identifikasikan pendekatan untuk mengorganisasikan.
Step 4: Rencanakan satu proses review yang efisien dengan mengembangkan rangka waktunya.
Step 5: Tentukan kapan dan bagaimana siswa dilibatkan.
Step 6: Kembangkan rubrik penskoran (scoring rubrics).
Step 7: Susunlah multiple reviewers untuk meningkatkan reliabilitas portofolio.
Step 8: Rencanakan sebuah konferensi final (final conference).

d. Keputusan Isi.
Dalam banyak sekali situasi, siswa yang paling bertanggungjawab untuk memilih isi dari portofolio (tentu saja berkolaborasi dengan guru). Bagaimanapun, guru harus membuat jernih criteria spesifik untuk ditemukan dalam sample pekerjaan. Tidak terbatas pada apa yang dimasukkan dalam portofolio: harus diselaraskan antara goal, objective pembelajaran, dan produk siswa sebagai dasar dari asesmen .
e. Validitas dan Reliabilitas Asesmen Portofolio
Validitas, berhubungan penting dengan: a) kemampuan khusus siswa dinyatakan oleh sample yang ditentukan lebih lanjut, b) pilihan pekerjaan harus merepresentasikan keseluruhan domain, c) rubrik penskoran harus cocok dengan pekerjaan yang ada dalam portofolio.
Reliabilitas, merupakan konsistensi yang diinterpretasikan sebagai persetujuan antar penilai (interrater agreement). Rater atau penilai yang jumlahnya lebih dari tiga (ganjil) untuk menilai satu sample dapat memfasilitasi konsistensi ini. Selama reliabilitas cenderung rendah, portofolio harus tidak harus digunakan sebagai semata-mata penilaian terhadap performa siswa.
f. Kelebihan dan Keterbatasan Asesmen Portofolio
Kelebihan, secara substansial melibatkan siswa dalam proses, b) dapat menunjukkan pertumbuhan siswa selama rentang waktu tertentu, c) mendidik komunikasi antara guru dan siswa, d) mempersyaratkan suatu peran mandiri untuk siswa dan guru.
Keterbatasan, kelemahan dalam validitas dan reliabilitas.
3.4 ASESMEN TES OBYEKTIF
Merupakan teknik asesmen tradisional (tes obyektif dan subyektif) telah digunakan selama bertahun-tahun yang lalu. Ada kecenderungan seorang pendidik percaya bahwa perkembangan itu sederhana dan terus maju ke depan. Pengembangan tes itu mudah, tetapi mengembangkan tes yang baik memerlukan pengetahuan dan ketrampilan.
a. Karakteristik Umum
Tes obyektif memiliki satu respon yang dianggap benar, tanpa menghiraukan siapa yang menskor respon-respon itu, akan ditemukan skor-skor yang identik.
Obyektif berimplikasi pada bahwa keputusan subyektif tidak mempengaruhi skor individual siswa. Juga dikenal sebagai “selected-response items” dan “structured-response items”. Meliputi bentuk pilihan ganda,dan menjodohkan. Biasanya digunakan untuk mengases ketrampilan berpikir tingkat rendah seperti pengetahuan, pemahaman dan aplikasi (ketrampilan berpikir tingkat tinggi lebih sulit untuk ditulis). Relatif mudah untuk diselenggarakan, diskor dan dianalisis. Penulisan butir dengan kualitas tinggi mempersyaratkan waktu secara substansial. Walaupun subyektivitas dapat dihindari dari proses penskoran, derajad subyektivitas secara substantif ada dalam penentuan muatan isi yang dikandung oleh butir-butir tersebut. Tebak-tebakan dalam merespon merupakan sebuah kenyataan yang hampir pasti terjadi.
Panduan umum dalam menulis butir tes obyektif: 1) tes obyektif harus mencakup isi dan ketrampilan yang penting, 2) kosa-kata dan tingkat pembacaan dari tiap butir harus menjadi kemungkinan yang mendasar, 3) setiap butir obyektif harus dinyatakan dalam pernyataan yang tidak multi tafsir, dan kerancuan kata maupun struktur kalimat harus dihindari, 4) butir obyektif tidak harus terdiri dari pernyataan-pernyataan kata demikata atau frase harus dihilangkan dari teks, 5) kunci untuk menjawab yang benar tidak diberikan.
Petunjuk pemformatan tes obyektif: 1) variasikan bentuk-bentuk butir yang tampil dalam tes kelas, 2) kelompokkan butir-butir yang sejenis dalam format bersama kemudian masing-masing tipe tampilkan dalam sebuah bagian yang terpisah, 3) setiap bagian harus didahului oleh petunjuk yang jernih, 4) dalam tiap bagian, mengandung butir yang mudah sampai dengan sulit, 5) walaupun semua butir tidak akan tampil pada setiap tes, butir-butir itu harus disusun dalam susunan benar-salah, menjodohkan, jawab singkat, pilihan ganda, dan esai, 6) berikan rung yang cukup bagi siswa untuk merespon tiap-tiap butir, 7) hindari pemenggalan sebuah butir dalam 2 halaman.
Petunjuk umum untuk penulisan tes obyektif:
1) mulai pengembangan tes dengan tabel spesifikasi: (a)bagan yang menunjukkan tujuan pembelajaran, isi, dan taksonomi Bloom; (b) tentukan kategori utama dari isi, dalam baris-baris; (c) nyatakan 6 tingkat domain kognitif Bloom dalam kolom-kolom; (d) tuliskan dalam sel-sel jumlah butir atau persentase butir yang dikembangkan untuk isi dan tingkatannya
2) berikan jaminan (pastikan) bahwa tes mencakup sample-sampel isi secara akurat dan representatif
3) pilihan penggunaan tes obyektif yang disarankan: (a) pertimbangkan pertanyaan dasar: apakah butir cocok/sejodoh dengan pembelajaran yang diterima siswa?; (b) buku ajar harus hati-hati diuji kesesuaiannya.
4) Penskoran relatif mudah: gunakan kunci jawaban untuk sampai pada jumlah total butir yang dijawab dengan benar oleh siswa
b. Tipe-tipe Tes obyektif:
b.1 Pilihan Ganda
Format dasar yang terdiri dari sebuah pernyataan/pertanyaan dan pilihan jawabab (hanya satu pilihan yang benar, dan yang lainnya disebut dengan distractors). Pernyataan dapat berupa pertanyaan atau melengkapi pernyataan. Ada tiga sampai dengan lima pilihan. Sangat berguna untuk mengases ingatan fakta dan aplikasi pengetahuan. Dapat juga digunakan untuk mengases ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi (lebih sulit untuk dituliskan).
Panduan umum pengembangan tes pilihan ganda:
1. pernyataan harus jernih menyatakan masalah yang menjadi perhatian siswa,
2. semua pilihan jawaban harus parallel dalam jenis isinya
3. pilihan harus menghindari pengulangan kata
4. kata benda atau kata sifat yang secara substansial merubah makna pernyataan atau pilihan harus ditekankan
5. semua distraktor dalam seperangkat respon harus masuk akal
6. tata bahasa dalam setiap pilihan harus konsisten dengan pernyataan/pertanyaan
7. butir harus menghindari penyertaan ungkapan “semua … di atas” , atau kebalikannya atau pilihan jawaban yang ekivalen
8. butir harus tetap independen satu dengan lainnya
9. hindari petunjuk kunci jawaban seperti satu ungkapan kunci, antara pertanyaan/pernyataan dengan pilihan yang benar
Keuntungannya antara lain: a) dapat untuk menguji sample domain isi secara efisien dan komprehensif, b) dapat digunakan dalam semua subjek area secara semu, c) dapat diskor dengan relatif cepat, d) penskoran merupakan sebuah proses obyektif, e) dapat memberikan informasi diagnostik.
Keterbatasannya antara lain: a) mudah terpengaruh oleh tebak-tebakan, b) penyusunannya memakan waktu.
Ragam dari pilihan ganda: a) variasi jawaban benar dan jawaban terbaik, b) kombinasi butir pilihan ganda dan esai jawaban singkat, c) butir pilihan ganda metakognitif (“jelaskan jawabanmu………”), memberi kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan dan merefleksikan pemikirannya.
b.2. Menjodohkan
Format dasarnya terdiri dari dua daftar yaitu daftar pernyataan/pertanyaan (stimuli) dan daftar jawaban. Harus terjadi korespondensi satu-satu antara daftar stimuli dan daftar jawaban. Dianggap sebagai satu kasus khusus dari butir pilihan ganda. Dapat mengases ketrampilan pemahaman dan pengetahuan. Secara khusus sangat berguna dalam pengukuran pemahaman konsep atau bentuk-bentuk yang saling berhubungan.
Panduan umum pengembangan butir tes menjodohkan:
1. daftar stimuli maupun jawaban harus homogen
2. petunjuk penjodohan harus dibuat jernih
3. hindari penjodohan sempurna dengan penempatan daftar jawaban lebih banyak ketimbang daftar stimuli
4. gunakan daftar stimuli dan jawaban yang relatif singkat
5. tempatkan frase yang lebih panjang dalam daftar stimuli dan yang lebih pendek pada daftar jawaban.
6. susunlah daftar tersebut dalam urutan yang logis
Keuntungannya antara lain: a) memberi peluang untuk mengases konsep, ide dan fakta yang saling terkait dengan lebih efisien, b) relatif lebih mudah disusun/dikembangkan, c) pada dasarnya merupakan kombinasi butir pilihan ganda dengan penggunaan seperangkat jawaban yang sama, d) penskorannya relatif mudah.
Keterbatasannya antara lain adalah: a) mempersyaratkan ide atau konsep yang berkaitan dalam jumlah yang besar, b) sangat sulit didesain untuk ketrampilan tingkat tinggi.
b.3. Pilihan Alternatif
Secara esensial merupakan kasus khusus dari butir pilihan ganda di mana pilihan dibatasi hanya dua pilihan. Jenis paling popular adalah butir benar-salah (true-false item). Ragamnya meliputi: benar-tidak benar, ya-tidak, dan fakta-opini. Dapat efektif jika ditulis dengan hati-hati (meskipun berita negatif). Cenderung overestimate pada prestasi siswa, sementara siswa memiliki peluang 50% untuk asal tebak terhadap jawaban yang benar.
Panduan umum pengembangannya:
1. hindari penggunaan ungkapan absolut dan ketentuan khusus lainnya
2. hindari pengujian pengetahuan trivial/kurang berguna
3. butir-butir dinyatakan dalam kalimat positip; jika pernyataan negatif harus digunakan, tandailah ungkapan negatif dengan garis bawah, tebal, atau cetak miring
4. kira-kira separuh dari seluruh butir harus memiliki kunci jawaban benar dan separuhnya lagi mempunyai kunci jawaban salah
5. pernyataan benar dan pernyataan salah harus memiliki sama panjang
6. butir benar-salah haruslah benar sepenuhnya atau salah sepenuhnya.
Keuntungannya antara lain adalah: a) relatif cepat untuk membuatnya, menjawabnya, dan menskornya; b) dapat diskor secara efisien dan obyektif.
Keterbatasannya antara lain adalah: a) memberi peluang sangat besar untuk menebak-nebak, b) butir-butirnya secara dominan sesuai untuk mengases ketrampilan tingkat rendah.
Ragamnya meliputi: a) butir ya-tidak, b) benar-salah terkoreksi (mempersyaratkan siswa menulis ulang beberapa pernyataan yang salah), c) embedded alternate-choice items, yang menyatakan sederet butir pilihan alternatif di dalam satu paragraph, d) multiple true-false items, merupakan hasil persilangan pilihan ganda dengan pilihan alternatif(pernyataan-pernyataan benar-salah ganda, masing-masing menggunakan pernyataan/pertanyaan yang sama)

c. Analisis Butir
Analisis butir, merupakan analisis secara statistik karakteristik setiap butir yang tampil dalam sebuah tes dengan tujuan membuat keputusan tentang butir yang dipertahankan dan butir yang harus dibuang.
Butir-butir harus dievaluasi: a)ketika butir-butir itu sedang dirancang (menggunakan tabel spesifikasi, panduan dsb), b) mengikuti penyelenggaraan tes dan penskoran.
Ada empat ukuran dasar statistik, yaitu: a) taraf kesukaran butir: proporsi siswa yang menjawab butir dengan benar, b) daya pembeda: perbedaan antara proporsi dari jawaban benar siswa dalam kelompok tinggi dan kelompok rendah, c) analisis distraktor: menguji pola respon/jawaban untuk pilihan salah, d) reliabilitas: konsistensi menyeluruh untuk seluruh butir.
c.1 Taraf Kesukaran
Taraf kesulitan, disimbolkan dengan ρ, secara sederhana merupakan pembagian antara jumlah siswa yang menjawab benar dalam suatu butir dengan jumlah siswa yang merespon/menjawab butir itu. Nilainya dapat merentang antara 0,00 (sulit) s/d 1,00 (mudah). Pertimbangan untuk merevisi butir jikalau ρ 0,80. keputusan yang baik juga harus juga digunakan dalam hubunganya dengan analisis atatistik. Guru dapat mengharapkan seluruh siswa menjawab dengan benar beberapa butir; karenanya ρ = 1,00 mengindikasikan bahwa seluruh siswa telah memahami konsep dengan sangat sempurna.
c.2 Derajad Pembeda
Derajad Pembeda, disimbulkan dengan D, bertujuan untuk menunjukkan bagaimana butir dapat membedakan siswa yang berkemampuan rendah dan siswa yang berkemampuan tinggi (pada keseluruhan tes). Jika sebuah butir berfungsi sebagai pembeda yang baik, maka sebagian besar siswa dalam kelompok kemampuan tinggi akan menjawab butir itu dengan benar dan sebagian besar siswa dalam kelompok kemampuan rendah menjawab butir itu dengan salah. Biasanya nilainya merentang dari +0,10 sampai dengan + 0,60.
c.3 Analisis distraktor
Secara informal menguji pola jawaban lintas semua pilihan pilihan.
c.4 Reliabilitas
Reliabilitas, dihitung dengan KR-21 untuk memperoleh nilai koefisien reliabilitas. Nilainya merentang dari 0,00 sampai dengan 1,00. rentang nilai yang diinginkan untuk tes di kelas adalah antara 0,70 sampai dengan 1,00.
d. Validitas dan Reliabilitas Tes Obyektif
Validitas, harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: a) apakah saya sedang mengukur apa yang hendak diukur?, b)seberapakah tingkat kepercayaan yang harus saya miliki untuk keputusan yang akan saya buat berdasarkan pada ukuran-ukuran tersebut. Kecenderungan utamanya adalah validitas isi.
Reliabilitas, dibangun melalui penggunaan analisis statistik, khususnya KR-21, yaitu untuk memperoleh nilai koefisien reliabilitas.

3.5 ASESMEN TES SUBYEKTIF
Butir tes subyektif merupakan alat yang sangat cocok untuk mengases pembelajaran siswa. Lagi pula, ada satu kecenderungan bagi pendidik untuk mempercayai bahwa perkembangannya sederhana dan maju kedepan, tetapi penulisan butir dengan kualitas tinggi memerlukan beberapa praktik/latihan.
a. Karakteristik Butir Tes Subyektif
Butir tes subyektif biasanya tidak memiliki satu jawaban/respon yang benar. Subyektif berimplikasi bahwa keputusan subyektif penskor merupakan satu bagian integral dari proses penskoran. Juga dikenal dengan “free response” atau constructed-response” atau “supply-type” items. Meliputi butir jawab pendek dan esai. Mempersyaratkan siswa agar memproduksi apa yang mereka tahu, dibandingkan dengan hanya pengakuan jawaban terbaik dari satu set pilihan. Relatif mudah untuk dibuat. Siswa memerlukan waktu untuk menjawab/memberikan respon. Dapat memakan waktu dan melelahkan secara subyektif untuk menskor, bergantung pada formatnya.
Beberapa karakteristik umum dari butir tes subyektif antara lain adalah sebagai berikut:
1. Butir tes subyektif harus harus meng-cover ketrampilan dan isi penting.
2. Tata bahasa dan level pembacaan dari setiap butir harus diupayakan pada tingkat dasar
3. Setiap butir tes subyektif harus dinyatakan dalam kalimat yang tidak multitafsir atau rancu
4. tidak memberikan petunjuk tentang kunci jawaban
5. variasikan jenis butir yang ditampilkan pada tes di kelas
6. kelompokkan butir dengan format yang sama sehingga masing-masing tipe tampil dalam kelompok yang saling terpisah
7. setiap bagian harus didahului dengan petunjuk yang jelas
8. dalam setiap bagian, butir disusun mulai yang mudah menuju yang sulit
9. walau semua jenis butir tidak akan tampil pada setiap tes, test, mereka harus disusun dalam susunan seperti berikut: benar salah, menjodohkan, jawab singkat, pilihan ganda dan butir subyektif
10. berikan ruang yang cukup bagi siswa untuk memberi respon pada setiap butir
11. hindari pemenggalan butir ke dalam dua halaman

b. Butir Jawaban Singkat.
Tipe ini mempesyaratkan siswa untuk memberikan satu kata, frase pendek, angka, atau respon/jawaban ringan lainnya. Diformat sebagaimana pertanyaan-pertanyaan lainnya (dikenal sebagai butir jawaban pendek) atau kalimat yang belum lengkap (dikenal sebagai butir melengkapi atau butir mengisi tempat kosong/titik-titik). Sebenarnya beberapa butir melengkapi dapat ditulis sebagai butir jawab singkat atau sebaliknya. Tipe ini dapat mengases ketrampilan atau isi serupa seperti tipe pilihan ganda, tetapi siswa harus mengingat atau membuat jawaban dia (pada tipe pilihan ganda hanya mengidentifikasi dari daftar pilihan yang ada)
Paling efisien untuk mengases ketrampilan berpikir tingkat rendah. Relatif mudah dibuat. Relatif mudah diskor (tidak semudah butir obyektif, sementara jawaban harus ditulis tangan). Ada beberapa isu penting terkait dengan penskoran: 1) ejaan dan struktur kalimat, 2) siswa harus diberitahu jika akan diases dengan tes, 3) siswa bisa saja memberi jawaban benar tetapi tidak sama dengan yang guru maksudkan, 4) guru harus menentukan jika jawaban ini merupakan hasil dari kurangnya kemampuan menulis ataukah kurang belajar (miskonsepsi).
Ragamnya bisa berbentuk pemberian satu daftar jawaban-jawaban yang mungkin: tidak lebih luas dari butir subyektif, hanya merupakan variasi dari butir menjodohkan.
Panduan umum untuk membuat butir jawab singkat:
1. Short-answer items harus disusun kata-katanya secara khusus dan jernih
2. dalam butir melengkapi, letakkan tempat kosong di dekat atau di akhir pernyataan
3. hindari pengkopian pernyataan kata demi kata
4. tuliskan hanya kata-kata yang penting saja
5. gunakan hanya satu atau dua tempat kosong (untuk butir melengkapi)
6. standardkan panjang dari tempat kosong
Keuntungan dan keterbatasan butir jawab singkat. Keuntungan, relatif mudah dibuat, lebih mudah daripada pilihan ganda karena tidak perlu membuat pilihan. Kemungkinan untuk asal tebak dapat direduksi.
Keterbatasan, utamanya hanya digunakan untuk ketrampilan berpikir tingkat rendah. Penskoran dapat menjadi sesuatu yang sulit dikarenakan salah eja dan kurang baiknya struktur kalimat.
c. Esay
Merupakan perntanyaan atau perintah yang mempersyaratkan siswa untuk menulis paragraph atau mengembangkan tema sebagai jawaban. Meliputi ragam ketrampilan berpikir yang lebih luas (siswa harus mengingat, memilih, mengorganisasikan, dan menerapkan). Jawaban bisa merentang dari sedikit/beberapa kalimat (restricted-response items) sampai dengan beberapa halaman (extended-response items); rentangan dalam suatu kontinum.
Sangat cocok untuk mengases ketrampilan berpikir yang kompleks (seperti analisis sintesis dan evaluasi). Kadangkala digunakan secara eksklusif atau sebagai bagian dari asesmen performa yang lebih luas. Tidak cocok digunakan untk mengases ketrampilan berpikir timgkat rendah. Penskorannya merupakan sesuatu kegiatan yang kompleks dan biasanya tidak reliable (akibat pengaruh dari karakteristik jawaban). Penskoran dapat memakan banyak waktu. Penskoran harus mirip dengan penskoran pada asesmen performa, menggunakan rubrik holistic atau rubrik analitik.
Penskorannya dapat dibuat lebih obyektif dengan:
1. menetapkan terlebih dulu waktu untuk sebuah jawaban benar.
2. penggunaan satu cheklist atau rubrik yang dijelaskan dengan hati-hati
3. penetuan apakah ejaan, tata bahasa dsb akan diskor
4. penskoran jawaban siswa dengan tanpa nama (disembunyikan)
5. penskoran untuk seluruh jawaban pada suatu butir tertentu dahulu, baru penskoran untuk butir yang lain, dan seterusnya.
Panduan umum pengembangannya:
1. Essays harus terdiri dari aplikasi pengetahuan yang esensial pada situasi yang baru
2. Essays harusdinyatakan dalam kalimat yang jernih difokuskan pada tugas siswa
3. Tentukan panjang yang diinginkan, batasan waktu, dan criteria penilaian, untuk siswa
4. Kembangkan satu model jawaban
Keuntungan dan keterbatasan butir esay. Keuntungannya antara lain: dapat digunakan untuk memancing ragam jawaban yang luas, siswa diijinkan membuat jawabannya sendiri, peluang munculnya jawaban asal tebak dapat direduksi secara substansial. Keterbatasannya antara lain: penipuan (bluffing) dapat menjadi sebuah problem, sangat memboroskan waktu untuk menskor, cakupan isinya sangat terbatas.
Validitas dan Reliabilitas butir tes esay. Validitas, Harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah saya sedang mengukur apa yang harusnya saya ukur?, seberapakah tingkat keyakinan yang harus sya miliki dalam keputusan yang akan saya buat berdasarkan atas ukuran itu?
Reliabilitas, tidak dapat ditentukan melalui analisis butir. Keputusan akan selalu dibuat (reliabilitas rendah) tetapi reliabilitas dapat ditingkatkan dengan mengikuti panduan pembuatan butir esai.
3.6 RINGKASAN
Asesmen dan keputusan-keputusan evaluatif yang dihasilkannya haruslah akurat sehingga mampu mencegah kekeliruan pemahaman dan komunikasi oleh pihak-pihak terkait. Oleh karenanya diperlukan berbagai jenis asesmen yang secara bersama-sama akan menghasilkan informasi evaluatif yang lengkap dan akurat. Beberapa tipe dan kategori asesmen diantaranya asesmen formal dan informal, asesmen kuantitatif dan kualitatif, evaluasi formatif dan sumatif, asesmen baku dan tak baku, asesmen rujukan norma dan asesmen rujukan criteria, asesmen tes dan asesmen alternatif, asesmen obyektif dan subyektif.
Pemahaman guru terhadap berbagai jenis asesmen ini memberikan peluang baginya untuk merancang berbagai instrumen asesmen dan membangun system asesmen yang menjamin diperolehnya hasil asesmen berupa informasi evaluatif yang lengkap, konsisten dan akurat. Semua keputusan lanjutan yang diambil berdasarkan informasi ini akan lebih pas dan cocok dengan keperluan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.