BAB 2

SASARAN PENILAIAN

 

 

 

PENDAHULUAN

Peran utama sekolah adalah untuk melaksanakan pendidikan dan untuk memudahkan proses pembelajaran. Pengajaran yang dijalankan di kelas dapat pula membantu mencapai hasil pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Hasil yang diharapkan meliputi aspek intelektual, emosi, ruhani dan jasmani murid.

Untuk memastikan bahwa hasil pembelajaran yang berkesan dan mencapai goal atau sasaran yang ditetapkan, seorang guru harus menyusun program atau rencana pembelajaran dengan baik, mengimplementasikan program itu dengan seksama dan menjalankan proses penilaian. Penilaian amat penting dilakukan pada banyak hal di kelas dan di sekolah. Penilaian tidak hanya membantu proses pembelajaran dalam kelas tetapi juga memberikan manfaat untuk menentukan objektif dan hasil pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran selanjutnya.

Penentuan sasaran atau goal dan penentuan objektiv (proses atau kegiatan-kegiatan apa yang diperkirakan dapat mewujudkan goal), harus dilakukan oleh guru sebelum ia memulai pembelajaran. Baik objektiv maupun goal, ditentukan dan ditetapkan oleh guru merujuk pada kurikulum dan silabus, serta disesuaikan dengan informasi-informasi lain yang terkait dengan siswa, sekolah dan teknologi masyarakat.

Proses pembelajaran  terdiri dari tiga tahap utama yang terintegrasi dalam satu proses yaitu: perencanaan, pelaksanaan dan penilaian  pembelajaran. Penilaian dan pengambilan keputusan diperlukan pada setiap tahap proses pembelajaran, sebagai pemandu kegiatan yang diambil pada tahap lainnya. Ketiga komponen proses pembelajaran  tersebut harus secara paralel dilaksanakan satu dengan lainnya.

Sasaran penilaian yang dilakukan oleh guru seharusnya meliputi: kalayakan program pembelajaran (RP), keterlaksanaan proses pembelajaran (objektiv), dan ketercapaian hasil pembelajaran (goal). Penilaian terhadap program atau rencana pembelajaran, perlu dilakukan untuk memastikan bahwa RP yang disusun layak untuk diimplementasikan. Proses pembelajaran juga perlu diukur dan dinilai, terutama keterlaksanaan kegiatan belajar atau objektiv dan kendala-kendala yang menyertainya. Penilaian terhadap  hasil pembelajaran atau goal adalah untuk mendapatkan informasi tentang pencapaian kompetensi hasil belajar murid. Selama ini penilaian yang dilakukan oleh guru terfokus pada pencapaian goal belum pada RP maupun keterlaksanaan proses pembelajaran.

Pada akhir bab ini, anda seharusnya dapat:

  1. menjelaskan maksud kelayakan rencana pembelajaran
  2. menjelaskan maksud keterlaksanaan objektiv atau proses pembelajaran,
  3. menjelaskan maksud ketercapaian hasil pembelajaran
  4. menerangkan  konsep kognitif, afektif  dan psikomotor, dan
  5. menjelaskan hubungan  antara objektif pelajaran dengan proses penilaian.

 

2.1  RENCANA PEMBELAJARAN

Rencana pembelajaran (RP) merupakan bentuk-bentuk persiapan yang disusun dan dikembangkan oleh guru sebelum ia memulai proses pembelajaran.  Rencana pembelajaran biasanya direalisasikan dalam bentuk perangkat pembelajaran, scenario, lks, instrumen penilaian, buku ajar, dan perangkat-perangkat  pembelajaran  lainnya. Apapun bentuk realisasinya,  rencana pembelajaran  (secara bersama-sama) mengarah pada deskripsi yang jelas dan detil tentang hasil belajar(sasaran/goal) yang ingin dicapai, serta kegiatan-kegiatan belajar atau proses pembelajaran(objektiv) yang diperkirakan dapat mewujudkan tercapainya hasil belajar. Ringkasnya  rencana pembelajaran  meliputi deskripsi yang jelas tentang tujuan berupa keadaan (goal) dan tujuan berupa proses atau kegiatan belajar(objektiv).

Untuk mencapai satu sasaran atau goal yang berupa hasil belajar atau kompetensi tertentu, diperlukan beberapa proses atau kegiatan belajar. Sehingga untuk satu goal biasanya guru menetapkan beberapa objektiv atau kegiatan belajar. Ada sementara pihak yang menyatakan objektif merupakan tujuan-tujuan yang lebih spesifik dan terukur. Dalam diktat ini kita bedakan bahwa ada dua tujuan  pembelajaran  yaitu: (1) tujuan berupa keadaan (sasaran/goal) yang merupakan deskripsi hasil belajar berupa pengetahuan, ketrampilan maupun perilaku yang ingin dicapai, dan (2) tujuan berupa proses atau kegiatan belajar (objektiv).

Salah satu tugas para pendidik ialah merancang supaya program pendidikan yang dijalankan dapat membentuk beberapa tujuan kecil yang mampu dicapai oleh murid. Guru menetapkan apa yang harus dilakukan olehnya(objektif pengajaran) dan menentukan apa yang harus dilakukan/dipelajari oleh  murid (objektif pembelajaran).

Berdasarkan kurikulum dan silabus yang telah dikembangkan, guru selanjutnya mengembangkan rencana pembelajaran berupa skenario, buku ajar, lks, dan instrumen peniliaian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1. Langkah Pengembangan Rencana Pembelajaran

Objektif pengajaran dan objektif pembelajaran pada dasarnya adalah sama. Namun, objektif pengajaran menyatakan perilaku guru dan objektif pembelajaran menyatakan perilaku murid. Krathwohl (1971) menyatakan, proses pendidikan  bertujuan mengadakan satu seri yang memungkinkan  murid untuk mempelajari tingkah laku  yang baru, memperbaiki atau menghapuskan tingkah laku tertentu dan melatih tingkah laku ini sampai ke tingkat  murid itu bisa  memamerkan/menunjukkan pada satu aras dengan  memuaskan. Penyataan objektif  pembelajaran  adalah satu deskripsi tentang tingkah laku murid. Dengan demikian pernyataan objektif pengajaran/ pembelajaran  amat penting bagi guru dan murid dalam proses pengajaran/ pembelajaran.

Salah satu manfaat objektif pengajaran ialah untuk memberitahukan kepada semua pihak yang terlibat dalam bidang pendidikan bahwa segala aktivitas yang dijalankan itu bukanlah dilakukan dengan sambil lalu atau seenaknya. Tetapi mempunyai tujuan yang jelas untuk mencapai sasaran/goal tertentu. Objektif pengajaran menggariskan dengan jelas  ke arah mana pengajaran hendak dibawa dan juga berfungsi sebagai panduan untuk menentukan penekanan aspek mana yang perlu diberikan penekanan dalam ujian oleh pembuat soal. Pemilihan  topik tertentu amat penting karena ujian pada hakekatnya adalah sample yang mewakili keseluruhan  kandungan materi pelajaran.

Dalam perencanaan  pembelajaran , banyak sekali keputusan yang harus dibuat sebelum proses pembelajaran  secara actual dilaksanakan, seperti: buku, isi materi, tambahan, langkah-langkah  pembelajaran , jenis/tipe asesmen , dsb.  Pembelajaran  bukan merupakan aktivitas sepontan. Persiapan yang baik membantu guru untuk lebih nyaman/mantab dalam penguasaan material, sama pentingnya dengan tugas-tugas  pembelajaran  lainnya.  Rencana pembelajaran  memberi guru sebuah rasa handarbeni pada seluruh kegiatan  pembelajaran.

Ada beberapa tipe rencana pembelajaran:

a. Unit plan, adalah bentuk/tipe perencanaan yang esensial, dan paling dasar. Terdiri dari sebuah outline atau ulasan dari suatu bagian dari materi ajar (secara lebih spesifik adalah perencanaan untuk mingguan, dan rencana harian. Unit plan menghilangkan ketidak-tentuan dan kegelisahan, memberi kesempatan guru untuk mereview material dan aktivitas sebelum  pembelajaran , memberi rangka kerja untuk memandu  pembelajaran  secara actual.

b. Lesson plan,  ada dua yaitu harian dan mingguan. Rencana minnguan memberikan ulasan  pembelajaran  untuk setiap harinya dalam subjek yang diberikan, pengajaran, atau periode kelas, yang meliputi objektiv-objektiv  pembelajaran . Rencana harian, berguna untuk memandu  pembelajaran  actual secara lebih spesifik, memberi peluang guru memvisualisasikan  rencana pembelajarannya secara actual yang sedang mereka coba kembangkan, mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin muncul, dan memastikannya sebelum melaksanakan proses pembelajaran .

Beberapa petunjuk mengembangkan lesson plan:

1.         tidak ada satu cara tunggal (satu format yang benar) untuk menulis lesson plan

2.         walaupun detil/rinci, lesson plan tidak ditulis kaku, dan dilakukan dengan sangat fleksibel.

3.         walaupun jika kamu percaya bahwa kamu dapat mengingat apa yang akan kamu lakukan dalam  pembelajaran, lesson plan haruslah tetap menjadi bagian integral dari proses pembelajaran untuk setiap guru.

4.         lesson plan formal tidak mengekang proses kreatif.

c. Panduan Kurikulum, untuk KBK dan KTSP direalisasikan dalam bentuk silabus. Memberikan panduan kepada guru dengan merujuk pada cakupan dan luasan materi, kegiatan  pembelajaran , dan tingkat pencapaian hasil belajar Kompetensi) siswa. Dikembangkan ditingkat sekolah atau rumpun sekolah, atau tingkat kecamatan bahkan kabupaten.

d. Objectiv  pembelajaran ,  adalah pernyataan yang jernih yang mendeskripsikan kegiatan-kegiatan belajar apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran . Merupakan komponen yang sangat penting dari lesson plan. Deskripsi kegiatan-kegiatan belajar ini yang diprediksikan jika dilakukan oleh siswa, maka siswa akan mencapai hasil belajar (kompetensi) atau goal yang telah ditetapkan.

e. Hasil belajar (goals), merupakan pernyataan yang jelas tentang deskripsi keadaan (Kompetensi/subkompetensi) yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa setelah ia melakukan kegiatan-kegiatan belajar (beberapa onjectivs) tertentu yang telah ditetapkan, selama maupun sesudah proses pembelajaran . Baik objectiv maupun goal hendaknya meliputi tiga domain yaitu kognitif, psikomotor dan afektif sebagaimana telah dikemukakan oleh taksonomi Bloom.

Domain kognitif meliputi dan menyatakan enam tingkat hirarki ketrampilan berpikir. Dimulai ketrampilan berpikir tingkat rendah (pengetahuan dan pemahaman) dan dilanjutkan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi (aplikasi, analisis, sintesis dan evaliasi).

Penulisan goal dan objectiv  pembelajaran . Ini bertujuan untuk memfokuskan  pembelajaran  pada perilaku (keadaan/gol dan kegiatan/objektiv) yang dapat dilaksanakan dan dicapai oleh siswa. Pernyataan goal biasanya: “siswa mampu….”; sedangkan pernyataan objectiv biasanya selalu menyatakan kegiatan belajar yang menggunakan kata kerja operasional, contoh: “siswa mengamati…………..”. Pernyataan/penulisan goal dan obj haruslah focus pada karakteristik dan perilaku siswa yang observable(nyata dapat diamati) dan measurable (dapat diukur). contoh pernyataan yang tidak observable dan kurang measurable antara lain: berpikir, mengetahui, dan memahami.

Ada tiga komponen esensial yang harus diperhatikan dalam penulisan goal dan obj: 1) mendasar, 2) berisi pengetahuan, atau ketrampilan, atau perilaku yang spesifik, serta 3) menggunakan kata kerja operasional (khususnya objectiv).

Material buatan guru atau percetakan yang dirujuk dan tersedia merupakan beberapa sumber pendidikan yang tersedia (buku teks, internet, panduan guru, materi tambahan, dsb). Jangan menggantungkan semata-mata hanya pada material ini. Adakalanya menghasilkan suatu ketidak selarasan antara perencanaan, implementasi/penyampaian dan penilaian  pembelajaran.

Biasanya dalam pembentukan objektif ataupun goal bergantung kepada  beberapa domain atau bidang yang diberi penekanan. Terdapat tiga domain dalam aktivitas pendidikan, yaitu : (a) domain kognitif –melibatkan perkembangan kemampuan intelek murid; (b) domain afektif –melibatkan perkembangan sikap dan nilai murid; dan (c) domain psikomotor –melibatkan perkembangan kemahiran dan kemampuan fisik.

 

A. DOMAIN KOGNITIF

Perkembangan pemikiran adalah suatu proses yang memerlukan waktu yang lama. Perkembangan pemikiran murid  akan berlangsung dengan pesat sewaktu di bangku persekolahan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan fisiknya. Aspek kognitif menjadi fokus utama  dalam proses pengajaran dan pembelajaran di kelas. Taksonomi Bloom membagi aspek atau domain kognitif ini dalam enam (6) peringkat dengan susunan dimulai dari peringkat mudah menuju peringkat yang lebih sukar atau tinggi, yaitu : (1) Pengetahuan, (2) Pemahaman, (3) Penggunaan (Aplikasi), (4)  Analisis, (5) Sintesis, dan (6) Penilaian.

Dengan berdasarkan tingkah laku yang ditunjukkan murid yaitu cara bertindak, berfikir atau merasakan sesuatu, penyusunan mengikuti perkembangan dari yang mudah menuju yang lebih sukar atau lebih tinggi, akan memungkinkan aktivitas dalam kelas dapat dirancang dan dijalankan dengan lebih sistematik. Dengan demikian  rencana pembelajaran  dapat menolong mengembangkan pemikiran murid ke arah yang hendak dituju. Peringkat yang lebih rendah akan dicapai lebih dahulu diikuti peringkat selanjutnya.

i. Pengetahuan

Peringkat ini mencakup semua perilaku yang memfokus pada pengenalan dan pengingatan idea, pendapat, prinsip, bahan, prosedur dan  peristiwa yang berlaku. Aspek tingkah laku yang diutamakan pada peringkat ini ialah dari segi daya untuk mengingat. Semua aras yang lebih tinggi memerlukan kemampuan mengingat sebagai syarat untuk menguasai  kemahiran yang lebih tinggi. Susunan aspek pengetahuan ini bisa dibagi menjadi beberapa tahap seperti:

i.       Pengetahuan tentang sesuatu perkara yang khusus seperti  terkait dengan istilah yang berbentuk  perkataan atau simbol. Misalnya simbol tertentu dalam matematika, atau istilah tertentu dalam mata pelajaran sains seperti “fotosistesis”. Selain istilah, pengetahuan tentang  mengaitkan dengan perkara-perkara tertentu seperti tokoh, dan peristiwa. Misalnya peristiwa penting pada tahun 1905 dalam sejarah Fisika yaitu teori Realivitas  Einstein.

ii.      Pengetahuan tentang cara mengendalikan sesuatu. Ini meliputi pengetahuan tentang proses, aliran atau pemeringkatan, tentang penjenisan, criteria dan teknik-tekni atau prosedur tertentu dalam menyelesaikan masalah.

iii.     Pengetahuan tentang perkara yang bersifat sejagat atau universal dan abstrak dalam sesuatu bidang yaitu  tahu tentang prinsip dan generalisasi dan tahu tentang teori dan struktur.

Ciri-ciri butir berdasarkan pengetahuan:

–     menggunakan proses mental pengetahuan

–     memerlukan informasi atau isi kandungan yang serupa dengan pengajaran guru dan buku teks

–  butir tidak memerlukan calon mengatur isi dalam bentuk baru

–  jawaban dapat ditentukan dengan mudah betul atau salah

–  perkataan yang biasa digunakan siapa, apa, dimana, kapan/bila, definisi, dan lain-lain.

 

ii. Pemahaman

Aspek pemahaman bermakna  objektif, perlakuan, jawaban dan tindakan yang menunjukkan pengertian yang bermakna. Pelajar mengubah bentuk  penerimaannya dalam bentuk tulisan, lisan atau simbol tertentu. Pemahaman dapat dibagi pula dalam beberapa aspek seperti berikut:

i.       menterjemah sesuatu yang melibatkan bentuk komunikasi yang dapat diubah dalam bentuk lain dengan tidak merubah makna asal. Misalnya, mengubah suatu bentuk komunikasi yang panjang ke dalam satu bentuk komunikasi yang lebih ringkas dan pendek dengan makna yang sama.

ii.      Menginterpretasi pelbagai bentuk komunikasi apabila idea atau pesan tersebut berbentuk tersurat atau tersirat. Setelah suatu perkara dipahami, aspek komunikasi itu disampaikan mula-mula dengan susunan murid sendiri supaya memberi penerangan yang bermakna. Misalnya murid dapat menterjemahkan data-data dalam bentuk gambar ke dalam bentuk uraian dengan mengaitkan bagian-bagian dalam gambar tersebut

iii.     Ekstrapolasi yakni membuat gagasan yang berwujud komunikasi yang ditunjukkan. Murid dapat  membuat inferensi tentang apa yang akan terjadi pada zat padat jika dipanasi terus menerus berdasarkan informasi yang diterima.

Ciri-ciri butir yang berdasarkan pemahaman adalah seperti berikut:

–        butir memerlukan penggunaan proses mental pemahaman melalui langkah–terjemahan, tafsiran dan ekstrapolasi

–        informasi tentang asas telah diberikan kepada pelajar

–        memerlukan benda atau material atau alat komunikasi untuk diterjemah, ditafsir dan dilanjutkan

–        responden menyatakan pemahamannya dalam tulisan atau perkataan sendiri

–        perkataan yang kerap digunakan adalah –uraikan, bandingkan, nyatakan, bedakan, nyatakan dengan perkataan anda sendiri

 

iii. Aplikasi (penggunaan)

Peringkat ketiga dalam Taksonomi Bloom ialah aplikasi atau penggunaan. Aplikasi bermakna  penguasaan ciri-ciri yang terdiri dari konsep, prinsip, teori, hukum, prosedur dan cara-cara umum dalam situasi khusus dan situasi umum. Pada peringkat ini pelajar mesti benar-benar memahami ciri-ciri asas yang terdapat  pada aspek yang tersebut . Apabila murid telah memahami peringkat yang lebih tinggi, mereka akan dapat menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi yang baru atau berbeda. Peringkat aplikasi juga menghendaki murid-murid menentukan bukan saja cara menyelesaikan masalah tersendiri tetapi juga  situasi menjadi aspek penting sebagai strategi  dalam menyelesaikan masalah. Misalnya  murid dapat mengaitkan  ciri-ciri fotosintesis dengan kehidupan manusia.

Dalam konteks pengembangan item ujian, butir pada aras ini bertujuan menentukan apakah murid-murid dapat memilih  pengetahuan yang bersesuaian serta menggunakan dengan betul dalam menyelesaikan masalah baru yang dihadapi. Aplikasi dalam konteks ini bermakna menggunakan sesuatu yang abstrak dalam situasi tertentu dan konkrit. Pengabstrakan  mungkin dalam bentuk idea umum. Hukum, kaedah, prinsip atau teori yang perlu diingat dan digunakan. Kemampuan menggunakan prinsip dan membuat generalisasi kepada masalah dan situasi baru merupakan objektif pengajaran yang biasa digunakan dalam kelas dan menjadi petunjuk apakah  pelajar telah menguasai sesuatu kemahiran dalam mata pelajaran tersebut.

Bloom (1971) berpendapat bahwa murid-murid telah menguasai peringkat aplikasi jika mereka dapat:

i.          Menentukan prinsip atau generalisasi yang sesuai dalam masalah yang baru.

ii.         Menyebutkan satu masalah untuk menentukan prinsip atau generalisasi mana yang pas .

iii.        Menetapkan kadar/ukuran kapan prinsip atau generalisasi itu tepat dan betul.

iv.        Mengenal dengan pasti, sesuai atau tidaknya generalisasi tertentu dengan memberikan alasannya.

v.         Menerangkan fenomena baru menggunakan prinsip dan generalisasi yang telah diketahui.

vi.        Menelah apa yang akan berlaku dalam situasi baru  dengan menggunakan prinsip dan generalisasi.

vii.  Menentukan atau menjustifikasi satu tindakan atau keputusan dalam situasi baru dengan menggunakan prinsip dan generalisasi yang sesuai.

viii. Menyatakan alasan yang digunakan untuk menyokong penggunaan  prinsip atau generalisasi dalam sesuatu situasi.

Ciri-ciri  butir yang berdasarkan aplikasi:

–        butir menggunakan proses mental aplikasi

–        objektif memerlukan tiga frasa yaitu kemampuan menggunakan, prinsip/generalisasi dan masalah/situasi baru

–        situasi masalah baru haruslah tidak sama dengan masalah yang dipelajari dalam kelas

–        perkataan yang sering digunakan –gunakan, pilih, buat, selesaikan, dan lain-lain.

iv. Analisis

Peringkat analisis mempunyai fungsi tertentu dengan membagikan dan menentukan bagian-bagian kecil atau unsur untuk sesuatu perkara yang dikemukakan dan memperlihatkan pertalian antara unsur-unsur itu. Dengan begitu peringkat analisis menghendaki penentuan organisasi dan struktur komunikasi satu-satu dari unsure penyusunnya. Analisis juga dianggap sebagai asas untuk memahami komunikasi dengan lebih terperinci untuk memulai penilaian. Pada peringkat analisis ini penghakiman turut pula berlaku. Walau bagaimanapun analisis tidaklah  begitu mendalam sebagaimana peringkat penilaian. Analisis terbagi dalam tiga hal, yaitu:

i.       analisis unsur yang menentukan fungsi kenyataan yang terdapat dalam suatu komunikasi. Misalnya  murid dapat membedakan kesimpulan dengan alasan yang mendukung .

ii.      analisis hubungan dengan menentukan hubungan unsur-unsur yang  terdapat dalam pelbagai bentuk bagian-bagian komunikasi. Murid dikehendaki menentukan kaitan antara bukti-bukti, bukti dengan hipotesis, dan hipotesis dengan kesimpulan. Misalnya, menentukan bukti-bukti yang dapat mengesahkan kesimpulan yang dibuat.

iii.     analisis prinsip organisasi dalam sesuatu hal dengan menentukan  tujuan, pandangan, pendirian, sikap dan konsepsualisasinya. Misalnya murid dapat mengenali pendekatan yang digunakan oleh seseorang penyanyi untuk menarik minat penonton.

Menurut Bloom (1971), ciri-ciri analisis seperti berikut:

i.       murid dapat menjelaskan perkataan, frasa dan kenyataan dalam satu set dokumen dengan menggunakan kriteria analisis.

ii.      murid dapat menelaah kualitas atau sifat tertentu yang tidak dinyatakan dengan jelas dari petunjuk yang diperolehnya.

iii.     murid dapat menggunakan kriteria yang relevan, penyusunan mengikuti hukum sebab akibat dan urutan untuk menentukan corak dan susunan bahan dalam sesuatu dokumen.

iv.     murid dapat mengenali prinsip organisasi dan menggambarkan rangka keseluruhan dokumen.

v.      Murid dapat menelaah suatu rangka kerja tertentu, tujuan dan pandangan tentang suatu dokumen.

Ciri-ciri butir yang berdasarkan analisis:

–        butir menggunakan proses mental analisis –apakah analisis unsur, perhubungan atau prinsip organisasi

–        situasi masalah baru haruslah, tidak biasa atau berbeda dengan pengajaran di kelas

–        situasi, dokumen atau bahan yang akan dianalisis harus telah ada pada pelajar

–        memerlukan pemikiran kritis, bukan mengulang pengetahuan yang telah dipelajari

–        perkataan yang kerap digunakan –mengapa, kenapa, apakah faktor, buatkan rumusan, buktikan, dan sebagainya

v. Sintesis

Sintesis membawa makna penggabungan unsur-unsur dan bagian-bagian supaya komunikasi itu lebih berstruktur dan tersusun dengan baik. Dalam arti yang lain ialah menggabungkan dan menyusun unsur-unsur atau bagian-bagian untuk membentuk sesuatu yang lebih menyeluruh. Murid menggabungkan suatu struktur dari yang tidak jelas kepada satu perkara yang lebih jelas. Sintesis terbagi dalam tiga jenis, yaitu :

i.       menghasilkan bentuk komunikasi yang unik dengan bertumpu pada aspek penyampaian dengan tujuan tertentu seperti menghibur, menguraikan, menarik minat atau menunjukkan perasaan marah yang meluap-luap. Misalnya murid dapat mengelolakan penulisan dengan alasan yang  menarik

ii.      menghasilkan satu himpunan perlakuan. Misalnya murid dapat merancang unit pelajaran untuk kegunaan tertentu.

iii.     mengaitkan set hubungan yang abstrak melalui analisis yang dilakukan pada perkara yang dikemukakan. Murid dapat menggunakan data dalam menguraikan sesuatu dan dapat membuat pengandaian. Misalnya murid dapat mengemukakan teori yang dapat digunakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran.

Menurut Bloom (1971), bentuk hasil kemampuan sintesis adalah seperti berikut:

i.       menghasilkan komunikasi unik dalam bentuk penulisan esei, puisi, atau lukisan.

ii.      menghasilkan  sebuah perancangan atau set operasi yang dicadangkan.

iii.     menghasilkan penerbitan satu set hubungan abstrak seperti membentuk hipotesis.

Ciri-ciri butir yang berdasarkan sintesis antara lain:

–        butir   sesuai dengan proses mental sintesis

–        masalah, tugas atau situasi hendaklah baru kepada pelajar atau berbeda dengan pengajaran

–        memberikan kebebasan kepada calon menjawab apakah  dari segi isi atau masa

–        hasilnya dinilai oleh “pengguna” seperti pembaca atau pemerhati

–        butir   tidak perlu terperinci karena ia akan membataskan kreativiti

–        bentuk butir   objektif dan esei memerlukan masalah untuk diselesaikan dalam bentuk daya kreatif yang tinggi

–        perkataan yang kerap digunakan –  ramalkan, hasilkan, tuliskan, cadangkan apa akan berlaku dan lain-lain

 

vi. Penilaian (evaluasi)

Penilaian mempersyaratkan murid mengetahui kriteria yang digunakan untuk menilai perkara yang berlainan. Murid membuat pertimbangan tentang nilai dari suatu tujuan atau idea, dari suatu hasil kerja, penyelesaian bahan dan sebagainya. Pertimbangan yang dibuat adalah berdasarkan standard atau kepiawaian tertentu dengan menentukan sampai tingkat mana sesuatu yang dinilai itu berkesan dengan tepat, memuaskan, baik, buruk dan lain-lain. Pada peringkat ini murid-murid perlu membuat pertimbangan tentang sesuatu atas dasar kriteria tertentu disamping menganalisis dan mensintesiskan sesuatu perkara. Misalnya murid dapat membuat pertimbangan tentang sesuatu hasil kerja yang bermutu atau tidak bermutu dengan membandingkannya dengan hasil kerja yang lain.

Ciri-ciri butir yang berdasarkan penilaian:

–        butir   menguji proses mental peringkat penilaian

–        situasi masalah yang hendak dinilai mesti baru dan tidak biasa disentuh dalam pengajaran di kelas

–        mutu penilaian boleh dibandingkan dengan penilaian pakar

–        butir   penilaian dibentuk berdasarkan tiga bagian yaitu  apa yang hendak dinilai, arahan tindak balas dan criteria yang digunakan dalam penilaian itu

–        perkataan yang biasa digunakan – pertimbangkan, taksirkan, tentukan, pertahankan, dan sebagainya

Domain kognitif pada peringkat pengetahuan, pemahaman, dikenal sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah. Sedangkan peringkat aplikasi, analisis, sintesis dan penilaian merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

 

B. DOMAIN AFEKTIF

Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari memiliki perasaan. Ada kalanya ia merasa gembira, sedih, terharu kecewa dan sebagainya. Apabila seseorang melalui pelbagai pengalaman dalam hidupnya, dia akan  mempunyai pandangan atau sikap tersendiri terhadap perkara yang dialami dan ditemui. Perasaan, sikap dan nilai adalah perkara yang dipelajari dan berkembang dari masa ke masa berbarengan dengan perkembangan manusia itu sendiri. Jika kita berada dalam situasi yang sehat, maka hal itu  sedikit banyak akan membentuk perasaan, sikap dan nilai yang positif, begitu pula sebaliknya.

Domain afektif  mempunyai kaitan dengan perasaan, emosi, minat, sikap, penghargaan dan nilai. Dalam praktik di kelas, guru mungkin jarang sekali menulisnya dalam buku rekaman tentang pengajaran domain afektif ketimbang pengajaran domain kognitif terlebih dalam bentuk perlakuan terhadap murid. Goals atau hasil belajar dan objectives atau kegiatan belajar pada domain afektif lebih jarang direncanakan, dilaksanakan dan dinilai ketimbang domain kognitif. Hal ini karena ketidak-wujudan prosedur atau instrumen yang benar-benar sesuai untuk mengukur keterlaksanaan kegiatan belajar dan pencapaian hasil belajar domain afektif.

Seperti pada domain kognitif, domain afektif juga dapat dikelompokkan atau disusun menurut peringkat penghayatan dari yang paling rendah sampi kepada peringkat yang paling tinggi seperti yang diutarakan oleh Bloom et al(1988) yaitu: (i) penerimaan, (ii) menanggapi, (iii) menilai, (iv) mengelola/mengorganisasikan, dan (v) menghayati/perwatakan.

i. Penerimaan

Penerimaan dianggap sebagai sifat-sifat kesediaan untuk menerima sesuatu. Peringkat penerimaan bermula dengan kesadaran. Misalnya sadar akan irama, lirik lagu, tentang keadaan kehidupan. Setelah penerimaan, individu tersebut  menunjukkan kesediaan menerima. Yakni ia tidak berusaha melarikan diri dari rangsangan yang diterima. Selanjutnya, ia akan mulai mengambil bagian secara hati-hati atau pilih-pilih. Pada peringkat ini individu tersebut akan mencoba membedakan setiap rangsangan yang diterima. Contoh goal atau objektif jenis penerimaan misalnya murid dapat membedakan isi pelajaran yang dikemukakan oleh guru.

ii. Menanggapi

Dapat wujud apabila individu mempunyai motivasi atau tujuan dan minat tersendiri dalam mengaitkan dirinya dengan suatu rangsangan, atau menimbulkan kesan terhadap suatu perkara yang menjadi perangsang. Lantaran meanggapi ini melahirkan rasa kepuasan dalam diri individu tersebut. Pada peringkat ini individu akan menanggapi mengikuti arahan yang diterimanya. Selanjutnya ia akan  menanggapinya sendiri. Misalnya siswa menunjukkan minat terhadap aktivitas di luar kelas. Selanjutnya individu tersebut akan memberi tanggapan untuk menghasilkan kepuasan dirinya. Contohnya, murid mendapatkan kepuasan dari suatu aktivitas yang dilakukannya.

iii. Menilai

Dalam konteks ini, semua perkara seperti peristiwa, benda dan interaksi mempunyai nilai. Nilai tersebut adalah nilai yang dianut/dipegang oleh masyarakat. Nilai yang ditunjukkan bersifat tetap/stabil dan memperlihatkan tingkah laku yang dilakukan bisa ditebak/diperkirakan karena ia menjadi landasan setiap perilaku yang dilakukan. Terdapat tiga  bentuk atau jenis nilai, yaitu: (i) penerimaan nilai –menerima semua nilai yang terdedah kepada individu tersebut, (ii) pemilihan nilai –mengambil tindakan sendiri untuk mendedahkan informasi kepada orang lain yang menunjukkan dia berpegang kepada nilai tersebut;  dan (iii) komitmen –memegang teguh dengan kepercayaan dan mempertahankannya dari sebarang cemoohan.

iv. Pengelolaan (pengorganisasian)

Peringkat penyusunan atau pengelolaan/organisasi memperlihatkan penyusunan nilai-nilai yang banyak menjadi satu sistem yang lebih bias dipraktikkan. Terbagi kepada dua bentuk, yaitu  mengkonsepsualisasikan  nilai-nilai –dengan melihat pertalian antara nilai-nilai yang ada dan mengelola sistem nilai dengan memilih dan menyusun nilai-nilai  menjadi satu sistem nilai. Contohnya murid dapat mengendalikan diri mengikuti penerimaan peraturan masyarakat.

v. Penghayatan (Perwatakan)

Pada peringkat ini seorang individu atau murid dapat mematuhi suatu nilai yang bermakna dengan mengamalkan sebagai satu cara hidup. Biasanya individu tersebut akan mengekalkan nilai tersebut. Peringkat ini akan memperlihatkan dua hal: (i) perwatakan yang mirip dengan nilai tertentu, misalnya dapat membuat keputusan mengikuti keadaan tertentu tanpa berdasarkan perasaan atau sesuatu sogokan, dan (ii) mempunyai  sistem nilai tersendiri yakni mempunyai falsafah atau prinsip hidup sendiri.

 

C. DOMAIN PSIKOMOTOR

Aspek psikomotor berkaitan dengan pergerakan anggota fisik.

Sebagaimana dalam domain kognitif dan afektif, domain psikomotor juga mempunyai hirarki tersendiri seperti yang dikemukakan oleh Taksonomi Simpson dan Taksonomi Jewett.  Taksonomi Simpson membagi aspek psikomotor dalam lima peringkat yaitu: (i) pengamatan, (ii) persediaan, (iii) pergerakan terkontrol, (iv) mekanisme, dan (v) pergerakan khusus.

Sementara Taksonomi Jewett mengemukakan tiga peringkat utama yaitu: (i)  gerakan dasar, (ii) gerakan khusus, dan (iii) gerakan kreatif.

Penilaian terhadap RP perlu dilakukan dalam rangka memastikan bahwa RP yang telah disusun benar-benar didasarkan pada teori atau logika pemikiran yang komprehensip, dan juga untuk melihat apakah RP tersusun dengan baik. Ada satu kata kunci dalam menetapkan rencana pembelajaran yang baik yaitu kelayaklaksanaan yang merupakan besarnya peluang bahwa rencana pembelajaran itu dapat terlaksana atau dapat diimplementasikan dengan baik. Beberapa indikator kelayaklaksanaan diantaranya: (1) kejernihan dan kejelasan pernyataan goals (sasaran) dan objectives (tujuan) pembelajaran, (2) prinsip kontekstualitas, (3) prinsip kesesuaian,  serta(4) prinsip kelengkapan.

2.2 PROSES PEMBELAJARAN

Rencana pembelajaran yang telah disusun dengan baik dan telah dinilai layak untuk dilaksanakan, belum tentu dapat terimplementasikan dengan baik. Selalu ada saja kendala yang mempengaruhi keterlaksanaan implementasi RP atau proses pembelajaran sehingga tidak 100% dapat terlaksana seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Oleh karena itu RP yang baik dan telah dinilai layak, haruslah dimplementasikan atau dilaksanakan dengan seksama dan baik. Hal ini perlu perlu diukur dan dinilai agar hasil yang diharapkan (yang telah ditetapkan di RP) dapat dicapai dengan baik pula. Paling tidak, jika terjadi kasus dimana pencapaian hasil pembelajaran kurang baik, padahal pelaksanaan RP telah terlaksana dengan baik, maka dapat dipastikan ketidak-tercapaian hasil bukan disebabkan oleh proses pembelajaran, tetapi karena factor-faktor lain yang harus dicari. Mungkin disebabkan karena teori yang diacu tidak pas, mungkin karena factor yang melekat pada siswa yang tidak terdeteksi sebelumnya oleh guru dan sebagainya.

Penilaian terhadap proses pembelajaran sangat mutlak untuk dilakukan. Fokus penilaiannya adalah keterlaksanaan kegiatan pembelajaran (objectives). Karenanya penetapan kegiatan belajar dan pembelajaran (objectives) yang jelas dan jernih sangat membantu dan mempengaruhi penilaian keterlaksanaan proses pembelajaran. Metode penilaian keterlaksanaan proses pembelajaran biasanya menggunakan observasi dan monitoring. Selama penilaian proses pembelajaran berlangsung, akan diperoleh hasil penilaian berupa: a) keterlaksanaan proses pembelajaran, b) factor-faktor kendala, dan c) factor-faktor pendukung. Penilaian proses pembelajaran masih sangat jarang dilakukan, meskipun penilian proses pembelajaran inilah yang dirasakan dapat digunakan untuk memprediksi dan menjamin kemampuan berkembang pada diri pelajar, maupun guru.

2.3 HASIL PEMBELAJARAN

Hasil pembelajaran dapat kita mengerti sebagai ketercapaian goals (sasaran) pembelajaran. Sebenarnya hasil pembelajaran tidak hanya apa yang dicapai oleh siswa, tetapi juga oleh guru, sekolah, masyarakat dan orang tua. Misalnya guru bisa mendapatkan informasi tentang hasil pembelajaran yang melekat pada dirinya sebagai informasi pencapaian kompetensi keguruan dan perkembangan kemampuan profesionalnya. Guru dapat mengembangkan portofolio guru dan sebagainya. Sekolah mendapat informasi pencapaian hasil belajar oleh para siswa di sekolah. Demikian pula dengan orang tua siswa dan masyarakat. Semua pihak yang terlibat langsung maupun tak langsung dengan pembelajaran di kelas dapat memperoleh informasi pencapaian hasil pembelajaran, yang itu berguna untuk memperbaiki peran aktifnya untuk pendidikan yang lebih baik lagi. Akan tetapi focus penilaian kita lebih kepada pencapaian oleh siswa.

Goals (sasaran) pembelajaran juga meliputi tiga ranah yaitu ranah pengetahuan, ketrampilan dan afektif. Hasil pembelajaran yang merentang ke dalam tiga ranah (pengetahuan, ketrampilan dan afektif) semuanya sangat perlu untuk dinilai. Selama ini penilaian terhadap hasil belajar siswa masih terfokus pada ranah kognitif, belum banyak menjangkau hasil belajar pada ranah psikomotor apalagi hasil belajar pada ranah afektif. Penilaian hasil pembelajaran biasanya dilakukan dengan penilaian produk atau penilaian dalam bentuk tes.

Seperti pada penilaian proses pembelajaran, penilaian hasil belajar juga sangat dipengaruhi oleh kejelasan dan kejernihan goals yang telah ditetapkan di dalam RP. Rumusan goals yang jelas dan jernih serta observable dapat mempermudah pengembangan instrumen dan memudahkan proses penilaian.

2.4 RANGKUMAN

Sasaran asesmen di kelas sebenarnya meliputi seluruh aspek yang ada dan terlibat dalam pembelajaran di kelas. Namun demikian sasaran utama asesmen di kelas adalah tiga unsur utama yang mendukung berlangsungnya pembelajaran yaitu: 1) kelayakan RP, 2) keterlaksanaan proses pembelajaran (objectives), dan 3) pencapaian hasil pembelajaran (goals). Ketiga sasaran utama itu seyogyanya memperhatikan tiga domain pendidikan yaitu domain kognitif, psikomotor dan afektif.

 

 

RUJUKAN TAMBAHAN

Bloom, B.S. (1989). Taksonomi objektif pendidikan, buku pedoman 1: Domain kognitif (ed.). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Bloom, B.S., Hasting, J.T., Madaus, G.F. (1971). Handbook on formative and summative evaluation of student learning. New York: Harper and Row Publisher.

Krathwohl, D.R.,  Bloom, B.S., Masia, B.B. (1965). Classroom testing: Construction. Illinois: F.E Peacock Publisher Inc.